Minyak Lala Ramuan Berkhasiat Warisan Leluhur

Sumbawa Barat, Diskominfo – Mengeksplorasi keindahan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan petualangan yang luar biasa dan tak ada habisnya. Selain tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi, KSB juga mempunyai budaya yang begitu berwarna dan unik. Salah satu yang menarik adalah Festival Malala (Pembuatan minyak khas Sumbawa) yang diselenggarakan oleh masyarakat Desa Goa, Kecamatan Jereweh, KSB, NTB pada bulan Muharram.

Pembuatan minyak Melala adalah tradisi turun temurun masyarakat Sumbawa dalam menyambut bulan Muharram. Masyarakat Sumbawa meyakini pada bulan tersebut dianggap sangat istimewa dan manjur dalam mengolah minyak Sumbawa. Minyak yang dibuat diyakini juga memiliki khasiat untuk menambah stamina pria,menyembuhkan berbagai masalah kesehatan seperti asam urat, masalah persendian,dan bahkan membuat penggunanya awet muda.

Pembuatan Minyak Lala Sumbawa atau Melala ini dilakukan secara serempak, puluhan kelompok dari berbagai desa seperti desa Mataiyang, Maluk, Sekongkang, Kertasari dan daerah-daerah  lainnya di KSB yang memiliki keahlian dalam mengelola minyak Sumbawa. Mereka datang dan berkumpul untuk bersama-sama membuat minyak Lala khas Sumbawa ini. Festival Melala ini juga menjadi ajang silaturahmi  bagi seluruh masyarakata KSB.

Festival Melala merupakan puncak dari berbagai acara yang telah dilaksanakan pada bulan Muharram. Acara-acara yang dilaksanakan sebelumnya seperti Tabliq Akbar, perlombaan antar desa dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Bupati Sumbawa Barat H. W Musyafirin pada kegiatan pembuatan minyak Melala, Senin (9/9/2019) mengatakan, festival Melala mempunyai hak cipta dan hak patennya berada di tangan masyarakat Kecamatan Jereweh begitupun denga festival Bau nyale yang dihak patenkan oleh wilayah Kecamatan Sekongkang. Meskipun demikian tidak membuat masyarakat terpecah belah, justru hal ini dapat menjadi ladang silaturrahmi untuk masyarakat KSB.

Festival Melala merupakan puncak dari berbagai acara yang telah dilaksanakan pada bulan Muharram, acara-acara yang dilaksanakan sebelumnya seperti Tablik Akbar, perlombaan antar desa dan kegiatan-kegiatan lainnya.

“Kegiatan seperti ini menjadi ajang untuk kita tingkatkan kinerja, silaturahmi, dan kebersamaan dalam membangun KSB,” kata Musyafirin.

Festival Melala juga diisi dengan berbagai penampilan menarik dari masyarakat setempat seperti Kasidah, Marawis,cRatop, Gong Genang dan kesenian daerah lainnya yang dapat memperkukuh ukhwa antar sesama masyarakat KSB.

Festival Melala juga diisi dengan berbagai penampilan menarik dari masyarakat setempat seperti Kasidah, Marawis, Kesenian Ratop, Gong Genang dan kesenian daerah lainnya yang dapat memperkukuh ukhuwah antar sesama masyarakat KSB.

Salah satu peserta Melala, Ucok yang berasal dari Desa Goa mengatakan, minyak yang dibuatnya diambil dari santan kelapa segar yang dicampur dengan rempah-rempah, daun dan akar kayu yang semuanya berasal dari alam dan mudah didapat. Tetapi ada beberapa bahan juga yang sulit didapat oleh orang yang tidak biasa mencarinya seperti rempah-rempah dalam bahasa daerah Sumbawa yaitu Tengkura, Saga Loka, Batang Maloke dan Sentok yang merupakan bahan  pilihan.

Dalam membuat minyak ramuan asli Sumbawa ini berlangsung sekitar 4 hingga 6 jam. Mulai dari proses pemarutan kelapa, memeras santan dan merebus hingga siap digunakan. “Minyak ini mempunyai khasiat menyembuhkan berbagai masalah kesehatan.  Dapat digunakan dengan cara mengoleskan atau meminumnya secara langsung,” kata Ucok.

Pengambilan bahan atau rempah-rempah dari alam juga tidak langsung diambil begitu saja, kata Ucok, ketika mengambil bahan-bahan tersebut harus didahulukan dengan doa atau permintaan izin kepada Yang Maha Kuasa Penguasa Alam.

Keunikan lainnya dari proses pembuatan ini adalah hanya diperbolehkan kaum pria saja dengan tidak melibatkan perempuan. Karena pada proses pembuatan minyak ini seseorang tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis karena prosesnya sangat sakral dan akan menentukan kualitas dan khasiat minyak tersebut nantinya. Setelah minyak siap digunakan, barulah wanita dapat memegangnya atau memanfaatkannya untuk pengobatan.

Dari proses pemilihan bahan dan pembuatan minyak Lala ini terdapat nilai kearifan lokal yang dapat dipetik dan diwariskan kepada generasi muda yaitu tradisi yang merupakan warisan leluhur masyarakat sumbawa dan salah satu wujud peradaban masyarakat dalam hal pengobatan tradisional.

Minyak Lala Khas Sumbawa memiliki nilai kesehatan, sebagaimana kita ketahui orang-orang tua terdahulu dengan keanekaragaman kekayaan alam tumbuh-tumbuhan telah mampu membuka tabir dari kebesaran yang ciptaan Allah SWT. Dengan meletakkan dasar bahwa kesehatan sangat penting bagi setiap orang, sehingga dengan segala kemampuan dan ikhtiarnya mampu membuat berbagai macam ramuan Minyak Sumbawa dengan berbagai macam khasiat.

Dari sisi ekonomi, keberadaan Minyak Lala Sumbawa ini membawa dampak yang cukup baik bagi kehidupan ekonomi masyarakat sumbawa khususnya ekonomi menengah ke bawah karena selain di produksi secara khusus, minyak sumbawa juga bisa diproduksi untuk keperluan orang banyak sehingga bisa dipasarkan.

Sementara dari nilai sosial, dengan adanya khasanah budaya yang telah diletakkan oleh orang-orang tua terdahulu diharapkan dapat memperkuat jati diri dan kebanggaan masyarakat Sumbawa  sebagai orang Sumbawa.

Pembuatan minyak Lala ini tidak disia-siakan oleh masyarakat KSB karena hanya ada sekali dalam setahun. Salah seorang pengunjung asal Taliwang, Wiwin Juliatri mengatakan, Ia sengaja datang ke acara Festival untuk meminta minyak Lala untuk disimpan dan digunakan untuk pengobatan segala jenis penyakit.

“Saya dulu pernah sakit pinggang, berkali-kali ke dokter tetapi tidak kunjung sembuh. Ketika saya mencoba obat tradisional minyak Lala ini rasanya berbeda dan agak membaik. Biasanya saya tetap beli untuk disimpan dan kebetulan ada Festival ini langsung aja saya datang ke sini,” kata Wiwin.

Keunikan cara membuat dan khasiat yang telah dibuktikan banyak orang sejak dahulu ini diungkapkan juga oleh Nde Cing, salah seorang Sandro (Tabib) yang membuat minyak Lala. Ia mengungkapakan rahasia dibalik khasiatnya adalah saat pembuatan minyak Lala yang dibarengi keyakinan dan memohon doa kepada Allah SWT.

“Ini kan minyak yang sudah turun temurun dibuat. Dahulu tidak ada dokter ataupun medis tetapi dengan minyak ini dapat menyembuhkan segala macam penyakit, asalkan meyakini dan memohon doa kepada Allah,” kata Nde Cing.

Nde Cing berharap, Festival Melala ini dapat dilestarikan terus menerus karena tradisi leluhur yang memiliki nilai positif bagi masyarakat dan kearifan lokal. Dari hasil Minyak yang dibuat oleh para sandro mempunyai nama sesuai dengan khasiat dan asal pembuatnya.[]

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru