Risalah Dialog Kemerdekaan Hamzanwadi Institute

#CatatanDialogKemerdekaan
Ya Fata Sasak Indonesia

Kerapkali tema-tema dengan penyebutan kesukuan, dianggap rasialias dan tidak lagi relevan di era sekarang ini. Apalagi kaum millenial saat ini, tentu tidak tertarik lagi membahas soal-soal seperti ini. 

Bagi Penulis, ada dua term yang cukup menghentak, soal narasi Sasak di tingkat nasional.
Pertama, pengakuan negara terhadap al-Magfurullah Maulanasyeikh TGKH M Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), sebagai Pahlawan Nasional. Selama ini, narasi sejarah soal perjuangan kemerdekaan dan kebangsaan di Lombok Sumbawa, tidak pernah dalam transfer pengetahuan generasi.
Sekolah lebih mengajarkan sejarah dan patriotisme mainstream yang disajikan buku-buku kurikulum. Persepsi yang terbentuk, Lombok Sumbawa tidak dalam bagian penting  perjuangan kebangsaan yang perlu ditoleh. 

Meletakkan Lombok dalam peta pergulatan perjuangan kemerdekaan, dalam konteks perjuangan fisik, politik, diplomasi, serta dinamika internal masyarakat Lombok belum mendapatkan tempat yang layak dalam peta sejarah Republik Indonesia. Penulisan sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia ini juga disoal Prof RZ Lereissa, selain dipicu keterbatasan sumber informasi untuk melakukan pendalaman, juga faktor bahasa, hubungan diplomati, dan perspektif sejarah yang digunakan.

“Perspektif memandang sejarah Indonesia yang sangat “RI sentris” yang kemudian hanya berkutat pada sejarah Jawa dan kadang Sumatera, soal ini tidak hanya berlaku untuk ahli sejarah Indonesia, tetapi juga Belanda. Perkembangan sejarah diluar Jawa cenderung diabaikan, bahkan sangat minim. Padahal, sejarah di luar Jawa memiliki dinamikanya sendiri, yang tidak bisa disamakan begitu saja dengan sejarah yang “RI Sentris”. Penulisan sejarah semacam ini cenderung mengaburkan, daripada memperjelas banyak peristiwa sejarah dalam periode penting” tulis Lereissa, dalam buku Kekuatan Ketiga dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (2006).

Kedua, sejarah nama suku sasak, baju adat yang dikenakan kepala negara, (terlepas dari debat soal bentuk pakaian adat sasak, dan motivasi Jokowi mengenakannya). Yang pokok adalah penegasan dan pengumuman kepala negara, ada namanya suku sasak di Indonesia di forum tertinggi republik. Sebelumnya, tidak pernah terjadi sejak republik ini berdiri.

Dari dua hal ini saja, tentu tidak ada salahnya membincang salah satu bagian dari identitas kita, toh kita tidak pernah memilih untuk dilahirkan dengan identitas tersebut. Ini hanya sebagai khazanah kita yang tentu layak kita bincangkan, sebagai bagian dari “Plasma Nutfah” NKRI. “Ini refleksi saja. Kumpulan perbedaan jadikan kekayaan untuk melihat situasi kondisi saat ini,” tandas Badrun AM, selaku moderator dalam dialog. Digelar Hamzanwadi Institute di Jalan Pemuda 69, disiarkan via streaming di laman Facebook.

Tema Ya Fata Sasak Indonesia, diambil dari diksi yang digunakan ZAM dalam salah satu lagu yang diciptakan. Tiga identitas SASAK yang coba digambarkan dan diharapkan inhern. Yakni sebagai bagian dari INDONESIA, Kuatnya nilai ISLAM, dan sebagai kaum cerdik pandai tercerahkan yang diistilahkan dengan IKHWANUSSHOFA.
Dalam lirik lagu ini, ZAM tidak satupun menyebut soal madrasah ataupun organisasi yang didirikan, yakni Nahdlatul Wathan. Lagu ini memang tidak diperuntukkan khusus, seperti lagu-lagu lain yang diciptakan. Tetapi, ditujukan sekaligus penegasan seluruh Sasak/Lombok sebagai bagian dari INDONESIA.

#Pendidikan dan Strategi Kebudayaan
Semasa orde baru, identitas lokal tidak kelihatan, karena adanya penyeragaman budaya. Barulah di era reformasi mulai muncul kembali. Namun, kemunculannya baru sebatas hal simbolik seperti pakaian, alat musik dan sesuatu yang seremonial. Namun, secara mental dan praktek budaya tidak banyak berubah.

Ini juga terjadi di bidang pendidikan, ada diskontinuitas di dunia pendidikan formal, dengan budaya yang berkembang di masyarakat. Dr Saipul Hamdi (akademisi Unram) menganggap, transfer knowledge ke masyarakat, terlalu di dominasi dari pengetahuan yang sumbernya dari Timur Tengah. Kemudian, terkini ditambah lagi dengan adanya hal-hal baru yang dibawa seperti Salafi dan Wahabisme, menjadi tantangan sendiri.

Pondok Pesantren dituntut untuk lebih berperan dalam peningkatan kualitas SDM yang lebih terkini. Dan meminimalisir diskontinuitas budaya ini. “Jumlah pondok pesantren yang banyak, tidak berbanding dengan peningkatan kualitas SDM,” kata Hamdi.

Senada disampaikan, Akademisi Universitas Hamzanwadi Dr M Halqi, bagaimana meningkatkan SDM lokal ini. Serta bagaimana menggali dan membedah khazanah lokal juga harus terus dilakukan. Dalam tradisi Sasak, seringkali, pengetahuan lokal disembunyikan, bahkan tabu untuk dikeluarkkan, dipegang orang-orang tertentu saja. 
Banyak praktek yang saat ini saat ini dipandang mitos belaka. Padahal, jika dikaji lebih jauh hal tersebut, seperti juga hal rasional seperti pandangan modern.
Sayangnya, akibat kebiasaan menyembunyikan pengetahuan ini, jikapun pengetahuan itu kemudian diketahui, generasi tidak lagi mengetahui konteks, tujuan dan manfaat pengetahuan tersebut, sehingga menjadi mitos. 

Beragam debat lahir dalam narasi Sasak, salah satunya disebabkan tidak ada referensi utuh untuk menggiringnya sebagai narasi besar. Soal ini, Akademisi Unram Lalu Saipudin Gayep memandang, adanya perbedaan wet timuq, lauq, bat ini juga harus jadi perhatian, sebab ini juga menjadikan banyak benturan. Dari langgam lagu dan musik juga berbeda, seperti di wilayah selatan yang lebih melankolis dengan kisah dan gending kesedihan. Namun, bagaimana sering membincangkan hal-hal tersebut, juga jadi bagian untuk mencapai kesatuan pandangan. 
“Ada juga kelompok tertentu memanfaatkan kondisi ini,” jelas Gayep.

Kesatuan masyarakat harus dibangun, beragam perbedaan agar bisa dikolaborasikan, termasuk hal agama dan budaya. Ada banyak praktek yang bisa dicontoh, kemudian disebut seperti di Jogjajakrta, bagaimana Keraton mampu memberi pengaruh kuat atas tradisi masyarakat. “Harus ada strategi kebudayaan yang dijalankan,” kata Syaiful Fikri, Ketua Umum Pimpus Himmah NW.

Soal kebudayaan ini menjadi concern Majelis Adat Sasak (MAS), sehingga tidak akan reaktif terhadap praktek-praktek kedatuan lokal yang lebih menonjolkan simbol, yang dilakukan sejumlah oknum. MAS lebih fokus melakukan menggali nilai-nilai, penguatan validasi sejarah, serta hal-hal produktif lain dalam berkebudayaan.
“Zohri si pelari, pelatihnya sangat kagum dengan kebiasaan Zohri, kalau minum pasti duduk. Ini sebenanya nilai-nilai Islam,” ungkap Lalu Bayu Windia, Ketua MAS.

Ada juga kekayaan intelektual lokal yang sebenarnya secara akademis masih banyak sekali yang belum dikaji. Bidang astronomi, sistem penanggalan sasak berupa Kalender Rowot, menjadi pengetahuan astronomi lokal seperti juga dilakukan peradaban-peradaban lain.
“Mas lebih berperan dalam hal strategi kebudayaan ini. Ada banyak peran yang harus juga dilakukan pemerintah,” tandasnya.

#Penguatan Ekonomi Lokal
Refleksi kemerdekaan, tentu tidak lepas dari soal-soal ekonomi. Bagaimana wajah 74 tahun paska Republik Indonesia berdiri.  Angka kemiskinan di daerah kita masih di atas rata-rata nasional. Diperlukan lompatan untuk mengejar ketertinggalan. 

Bagaimana peran pemerintah dituntut agar percepatan pembangunan ekonomi masyarakat bisa tetap tinggi. Mendorong industri kecil komoditas-komoditas dominan yang ditanam masyarakat, seperti Jagung, Tembakau, Cabe tomat dan komoditas lainnya.
Aktifis tani NTB Wahidjan lebih menekankan pada bagaimana pendekatan-pendekatan yang dilakukan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat desa yang bercorak agraris. Pengelaman menunjukkan, perjuangan-perjuangan agraria justru menjadi jalan utama mempertahankan eksistensi masyarakat lokal. Isu-isu lain pasti tidak akan bertahan lama, sebab bukan jadi kebutuhan pokok masyarakat.

Wahidjan menyitir sejumlah pengalaman negara lain, bagaimana strategi yang dilakukan di negara-negara lain, bahkan tahapnya sudah berbicara bagaimana kolektif warga memiliki saham dalam perusahaan-perusahaan yang berkembang dari investasi di daerah masing-masing. “Tiga harta karun Lombok yang harus kita jaga saat ini, KEK Mandalika, Global Hub, dan Gili Mas di Lembar,” tegas Lalu Winengan, Ketua Desak Datu.

Semua pihak berharap, denyut pariwisata bisa menjadi dongkrak ekonomi yang berefek luas di tengah masyarakat. Tinggal bagaimana pemerintah membentuk regulasi-regulasi yang lebih pro lokal, termasuk menyiapkan SDM masyarakat agar lebih dekat dengan kebutuhan dunia pariwisata.

Zinnurain (tokoh muda NW) menegaskan, bagaimana mengambil peran, banyak dicontohkan ZAM, salah satunya bagaimana ZAM menjadi suksesor program Keluarga Berencana, yang pada saat itu, sebagian masih mengharamkan, dan ditentang masyarakat.


Perisalah
Nashib Ikroman
Hamzanwadi Institute

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru