Bangkit Bersatu dalam Bingkai Gemilang

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang ke-111 merupakan upaya merunut tapak sejarah perjuangan pahlawan bangsa untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajahan. Kebangkitan saat ini lebih kepada bagaimana menghadapi tantangan global dalam rangka mencapai tujuan kemerdekaan yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur.

Merajut kesatuan daerah dalam konteks Harkitnas merupakan bagian penting untuk mewujudkan visi-misi NTB Gemilang yang selaras dengan kemajuan pendidikan serta mekanis kebudayaan untuk menggerakan dan mendorong generasi muda  membangkitkan semangat dan perjuangan demi terwujudnya NTB yang bersatu dan gemilang.

Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi NTB, Ir. H. Rosiady Sayuti pada dialog interaktif dengan tema "Bangkit untuk Bersatu dalam Bingkai NTB Gemilang  secara live oleh Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI Nusa Tenggara Barat, Mataram (20/5).

Sebagai rangkaian Hartiknas, Rosiady menyampaikan, kesatuan seluruh elemen masyarakat dalam mempererat kekuatan untuk bangkit dari bencana yang terjadi. moment ini mengajarkan kepada nilai kesatuan untuk bangkit bersama. 

"Memaknai kebangkitan harus dengan jiwa yang kuat dan generasi ke depan harus mampu berkarya untuk bangsa dan negara," tegas Rosiady.

Sementara kebangkitan dari segi budaya, Dari Ketua Mejelis Adat Sasak, Drs. Lalu Bayu Windia mengatakan, bangkit dalam arti budaya adalah bagaimana mendorong generasi untuk memahami lebih jauh tentang keberagaman budaya di NTB.

"Perlu kita ringkatkan pemahaman generasi tentang terbentuknya NTB yang mengayomi tiga suku. Sehingga Kita disatukan oleh fisik keagamaan yang sama dengan beragama budaya yang berbeda," ungkapnya

Budayawan sekaligus dosen di salah satu Universitas Kota Mataram, Dr. Abdul Wahid lebih mengedepankan perspektif sosial dan pendidikan dalam kebangkitan kesatuan untuk NTB Gemilang, ia menjelaskan kesatuan untuk bangkit menghadapi berbagai tantangan ke depan yaitu dengan cara menghidupkan kembali semangat generasi terdahulu sehingga membentuk generasi kekinian NTB yang diharapkan.

"Di tengah perkembangan zaman globalisasi, Pemuda saat ini masih terkubur dengan lokalitas. Kita harus membuka diri terhadap kultur, pengetahuan dan peradaban yg lain atau disebut dengan multikulturalisme," ungkapnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, Lahirnya Budi Utomo pada 1908 merupakan gerakan penyadaran dan generasi milenial saat ini mampu mengkonvers kesadaran itu kerena generasi memiliki potensi kesatuan yang berasaskan lokalitas.

Dari segi sosial generasi saat ini memiliki segala-galanya dengan pengetahuan yang membanjiri. Pengetahuan merupakan modal dasar kebangkitan suatu generasi dan masyarakat. Sumber pengetahuan yang terus berkembang. 

"Tantangan adalah belum adanya solidaritas untuk mengkonversi sumber-sumber pengetahuan, budaya, gagasan serta warisan budaya dari generasi lampau," tutur Wahid. 

Kehadiran tiga tokoh penting ini sebagai langkah awal umtuk mengingatkan kepada generasi bangsa untuk tingkatkan segala pootensi dalam diri dan berkarya untuk daerah, bangsa serta masyarakat secara umum. (Man-Tim Media)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru