Jango Samawa, Menengok NTB Gemilang

Jango Samawa dalam bahasa Indonesia berarti menjenguk Sumbawa. Istilah ini dilontarkan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Sumbawa Besar, Varian Bintoro. Secara konsep ia menyebut Jango Desa untuk program yang akan dilakukan dinas DPMPD Sumbawa Besar dalam mengelola potensi desa. Namun dalam konsep yang lebih besar, Jango Samawa untuk memastikan program NTB Gemilang gagasan Gubernur Zulkieflimansyah dipahami dan dilaksanakan oleh para pemimpin mulai dari kabupaten/ kota sampai ke desa. Setidaknya di beberapa desa yang dikunjungi Tim Media Dinas Kominfotik NTB.

Sumbawa Besar merupakan wilayah dengan luasan terbesar di NTB setelah Lombok.  Luasnya 6.643,98 km². Terdapat 166 desa dari 20 kecamatan (data BPS 2017) dengan potensinya masing masing. Sebagai sumber daya, potensi desa adalah kekayaan  bagi warga desa sendiri. Namun sebagai asset, ada banyak potensi yang belum dikenali, belum berkembang maupun membutuhkan perhatian agar dapat menghidupi apalagi memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah Sumbawa. Negeri Intan Bulaeng.

Alokasi anggaran dana desa dari pemerintah pusat telah berjalan dengan baik. Banyak persoalan dapat teratasi dari sisi pendanaan bagi warga desa. Dalam format umum, badan usaha milik desa menjadi pilihan agar pengelolaan dana desa dapat lebih terarah dan terukur. Dengan manajemen badan usaha diharapkan pengelolaan dana desa yang tak sedikit itu ikut mendukung program pemerintah daerah porpinsi untuk kesejahteraan masyarakat.

Bagaimanapun, meski secara otonomi desa merupakan entitas mandiri dari kabupaten/ kota namun pemerintah daerah memiliki kewajiban melakukan pendampingan. Tidak hanya dalam adminstrasi pengelolaan tapi juga hal hal lain. Secara umum dua hal focus pengelolaan dana desa adalah di bidang ekonomi dan infrastruktur. Penyempurnaan fasilitas umum di desa juga menunjang bidang lain seperti pendidikan dan kesehatan selain menunjang bidang ekonomi. Varian pengembangan ekonomi lebih banyak menyasar pendanaan bagi Usaha Kecil Menengah hingga pariwisata.

Meski secara umum pula desa desa di NTB saat ini memiliki potensi wisata desa namun dalam hal pengembangan UKM maupun inovasi baru dalam pemberdayaan potensi seringkali mengalami hambatan. Kalau tidak mendapat dukungann dari masyarakat desa, program yang diunggulkan biasanya gagal dlaksanakan karena banyak hal.

Desa Songkar di Moyo Utara ini misalnya. Desa ekowisata itu masih tetap mencari format baru dalam program Bumdes mereka. Desa yang dikelilingi ribuan lahan persawahan ini memang berpenduduk para petani. Oleh sebab itu fokus Bumdes adalah menyelenggarakan simpan pinjam bagi petani penggarap untuk mengurangi interaksi dengan tengkulak. Selain itu ada pula stasiun isi ulang air minum yang dikelola Bumdes bagi warga desa untuk pengembangan UKM, Bumdes memberikan modal rintisan usaha makanan tradisional Timung milik salah seorang warga. Selain membuka lapak di desa tersebut kini ia telah membuka lapak kedua di daerah kota.

Anggaran dana desa yang dikelola Bumdes Desa Songkar rencananya juga akan menghidupkan situs wisata Paralayang yang telah lebih dulu ada di desa itu. Perbaikan infrastruktur jalan menuju kawasan wisata itu baru saja selesa dikerjakan oleh pemerintah desa sehingga Bumdes mengajukan proposal untuk pengadaan tenda shelter bagi penerbang Paralayang dan lapak makanan disekitar kawasan wisata.

Tak jauh dari Desa Songkar, Desa Penyaring masih di Kecamatan Moyo Utara memiliki potensi kuliner yang sangat khas Sumbawa. Tidak hanya menyajikan menu dengan bumbu warisan, produk olahan daging sapi menjadi menu utama karena banyak warga desa ini menjadi peternak sapi.

Pulau Sumbawa sebagian besar adalah tanah perbukitan. Itu sebabnya desa desa di Sumbawa berada di punggung hingga kaki bukit. Akses jalan menuju perkampungan atau desa selalu diawali dengan menanjak dari jalan utama kabupaten. Menuju desa desa tersebut lalu lalang aktivitas perdagangan sama seperti juga di daerah lain. Desa yang menjadi penyangga perekonomian selain kota dengan aktivitas perdagangan modern dan ragam profesi memang tak banyak menampilkan kesenjangan.

Sebagai pembangunan yang berkelanjutan masih banyak pula hamparan ladang jagung di atas bukit dari program era pemerintahan sebelumnya. Visi Sejahtera dan Mandiri dari NTB Gemilang memang masih membutuhkan pemetaan potensi desa jika ingin fokus kepada pemberdayaan potensi desa. Jika Lombok sedang giat membangun desa wisata. Desa-desa di Sumbawa juga harus segera menentukan produk unggulan mereka.

Tak hanya pemerintah provinsi. Pelibatan lembaga sosial dalam upaya menemukan potensi desa banyak dilakukan. Desa Pelat di kecamatan Unter Iwes juga sedang membangun diri. Ada juga program wisata selain pengembangan usaha usaha warga masyarakat untuk mencoba mengembangkan kreatifitas baru. Lembaga lembaga nirlaba dilibatkan untuk pengembangan sumber daya manusia agar setiap tahunnya ada banyak usulan dari warga sendiri untuk melakukan perubahan dengan lebih percaya diri mengikuti perkembangan zaman.

Kelompok pemuda menjadi target utama pemberdayaan di desa ini. Mereka yang belum memiliki pekerjaan atau yang kurang beruntung dalam hal pendidikan lanjutan masih memiliki peluang untuk memperbaiki keadaan ekonomi sendiri maupun keluarga. Selain kerajinan kayu ada pula pelatihan kompetensi untuk profesi tertentu yang dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat dari luar daerah. Dengan demikian anggaran dana desa dapat dialokasikan untuk kebutuhan lain seperti membiayai pemasaran atau menyediakan sarana kerja untuk mereka yang memiliki keahlian khusus. (jm – tim media)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru