Kopi Tambora Dalam Guratan Sejarah Kolonial

"Hadir kopi Tambora yang memiliki keunikan rasanya, serta alami tanpa dicampur dengan bahan lainnya. Kopi Tambora yang keberadaannya sejak zaman kolonial Belanda tersebut, ditanam di lereng gunung Tambora. Kopi hasil peninggalan kolonial Belanda tersebut"


Kopi merupakan salah satu minuman favorit generasi muda di era milenial ini. Kopi yang menyuguhkan cita rasa yang unik dan menarik tersebut menjadi pilihan generasi muda baik itu di saat-saat santai maupun di saat melaksanakan pekerjaan berat. Sebab di balik secangkir kopi, ada kebahagiaan dan semangat untuk melakukan aktivitas.

Di balik secangkir kopi tersebut, ada semangat persahabatan yang mampu menyatukan simpul-simpul tersebut. Walaupun tidak bisa dinafikan bahwa minum kopi memiliki efek yang cukup keras jika dikonsumsi dengan cara yang berlebihan. Namun, jika dikonsumsi dengan cara yang baik, maka kopi memiliki efek yang sangat baik, salah satunya adalah melancarkan metabolisme tubuh Anda.

Hal itu disebabkan karena kopi dapat merangsang thermogenesis sehingga lemak pada tubuh akan lebih banyak terbakar. Adapun cara meminumnya adalah dengan takaran yang pas, yakni secangkir kopi di pagi hari.
Seperti yang dilaksanakan dalam International Journal of Epidemiology, menyebutkan bahwa orang yang rutin mengonsumsi kopi di pagi hari lebih rendah risiko terkena obesitas. Namun perlu diingat, kopi yang dikonsumsi adalah kopi hitam atau kopi murni, bukan kopi yang dicampuri dengan bahan lainnya.


Nah, kini hadir kopi Tambora yang memiliki keunikan rasanya, serta alami tanpa dicampur dengan bahan lainnya. Kopi Tambora yang keberadaannya sejak zaman kolonial Belanda tersebut, ditanam di lereng gunung Tambora. Kopi hasil peninggalan kolonial Belanda tersebut, kini telah melewati perjalanan panjang. Hampir 200 tahun sudah perjalanan tersebut telah dilaluinya, cita rasa kopi Tambora kian lekat dihati pecinta kopi. Salah satu Putri Kesultanan Bima, Siti Maryam Salahudin Rahmat dan Henri Chambert mendokumentasikan dalam kitab "Bo Sangaji Kai."


Menurut cacatan sejarah (Bo Sangajai Kai), perkebunan kopi Tambora sudah ada sebelum Gunung Tambora meletus. Setidaknya ini terbukti dari catatan berisi perjanian damai dan perdagangan antara kerajaan-kerajaan di lereng Gunung Tambora dan Belanda, yang dilakukan di Makasar, 17 April 1701. Fakta itu juga didukung oleh penemuan tim peneliti Arkeologi, Denpasar Bali yang menemukan biji kopi yang terkubur awan panas di kawasan yang diperkirakan pernah menjadi lokasi kerajaan Tambora.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru