Kita Untuk Perbaikan

Jantungku berdegup semakin kencang. Motor yang kukendarai kulajukan cepat. Rasanya seiring dengan detak jantungku yang berdetak semakin cepat begitu motorku semakin mendekati kampung halamanku. Gempa 7,0 tadi malam telah membuatku merasakan takut yang luarbiasa. Tadi malam aku terus menghubungi keluargaku. Menanyakan bagaimana keadaan mereka. Mereka katakan mereka baik-baik saja. Tapi aku tidak tenang. Apalagi setelah melihat begitu banyak berita di media sosial. Melihat sebaran di media sosial tentang rumah roboh dan korban meninggal. Dan itu berada di kampung halamanku. Gunungsari.
Aku ada di Sekotong Barat ketika gempa terjadi dan perasaan tidak tenang terus menghantuiku. Sampai akhirnya hari Senin, 06 Agustus siang aku memutuskan untuk pulang melihat keadaan kampung halamanku.
.
Aku mulai memasuki dusun. Keretakan terlihat di sana sini. Banyak tenda yang telah didirikan. Kulihat Kepala Desa sedang menurunkan terpal dari truk untuk dibagikan pada warga.
Semakin aku masuk ke dalam, dadaku makin sesak. Mataku mulai memanas. Reruntuhan berserakan di jalanan. Puing-puing rumah bertebaran. Aku tidak menyangka keadaannya akan separah ini.
Semakin mendekati rumah. Aku semakin takut, hingga akhirnya aku sampai dan memberhentikan motor. Di depan rumah ada begitu banyak tenda. Televisi di letakkan di jalanan dan orang-oramg berkumpul menyaksikan tayangan gempa Lombok.
Airmataku jatuh, beberapa orang yang kutemui menatap simpati dan mengarahkan di mana orangtuaku.
Airmataku semakin banyak terjatuh begitu kulihat ayahku. Dia baik-baik saja. Ibu dan saudaraku baik-baik saja. Rumah kami retak dibanyak bagian, tapi syukurlah tidak ada nyawa yang diambil.
.
"Seperti suara guntur besar. Begitu menakutkan. Terdengar datang dari arah utara dan tiba-tiba semuanya bergoncang. Saat itu semuanya gelap karna mati lampu dan hujan juga. Di Masjid baru dua rakaat solat Isya. Malam itu tumben sekali ayahmu tidak ke Masjid." Ibu bercerita. Karna malam itu di Sekotong tidak mati lampu sama sekali. Sekorong juga cukup jauh dari pusat gempa. "Semua orang makin panik, dengan isu air yang sudah naik."
Ya. Berita itu sangat menakutkan. Apalagi malam itu aku menelpon temanku di Kuta dan dia mengatakan air benar-benar naik. Aku pikir Lombok akan tenggelam malam itu.
.
Satu hal yang menarik setelah gempa ini. Orang-orang menjadi semakin dekat. Satu tenda diisi oleh puluhan keluarga. Karna kurangnya terpal, kami memutuskan menggabung seluruh terpal menjadi aatu dan membagi lokasi tempat tidur. Satu TV digunakan untuk menonton bersama. Malam Selasa semua orang ribut. Isu pencurian menyebar. Diisukan bertruk-truk pencuri di lepaskan untuk mencuri di rumah-rumah warga yang ditinggal mengungsi. Ayahku memutuskan tidur di teras rumah. Aku tidur ditenda bersama para perempuan lainnya. Para lelaki berjaga di luar. Kami mengobrol, bercerita dan semuanya terasa menyenangkan hingga suara ribut terdengar. Seorang warga mengatakan melihat dua orang maling berkeliaran. Aku mengambil batu bata, meletakkannya di sampingku. Mungkin ini bisa jadi senjata jika ada hal buruk terjadi. Kepala Desa sibuk menelpon kenalannya dari beberapa dusun untuk menanyakan tentan isu pencurian, karna beliau begitu khawatir dengan warganya yang was-was tidur karna gempa, dan ditambah kekhawatiran tentang pencurian.
Pagi itu seorang warga membagikan kangkung hasil dia tanam sendiri. Berusaha membagi ke setiap tenda dan itu sangat membantu sekali. Mengingat belum ada yang berjualan makanan. Mi instan menjadi begitu sulit ditemukan. Bahkan di kota Mataram. Air untuk minum sulit sekali didapatkan. 
.
Kami menunggu keadaan baik-baik saja hingga tanggal 11 Agustus, gempa masih terus terjadi. Orang-orang di pengungsian memutuskan pindah dari lokasi pengungsian awal karna merasa tidak enak pada pemilik tanah. Aku dan keluargaku memutuskan pindah lokasi ke wilayah halaman rumah pamanku. Halamannya yang cukup luas membuat kami bisa membangun tenda cukup besar di sana.
Kadang dua hari sekali para remaja akan berkeliling sekedar membagikan dua bungkus mie dan satu kilo beras atau beberapa makanan lainnya. Ada isu yang menyebar bahwa kepala Desa tidak ingin terlalu banyak mengambil sumbangan yang ditawarkan, sebab menurut beliau ada yang jauh lebih membutuhkan dan kami menghargai itu. Di Gunungsari, ada Medas, Dopang, Kekait dan beberapa wilayah lainnya yang terdampak sangat parah dan tentu saja jauh lebih membutukan bantuan. Aku merasa malu mengatakan lokasi dan rumahku terdampak parah, sebab faktanya ada yang jauh lebih parah dan menderita.
.
Orangtua bilang hujan deras pertanda akan berhentinya Lindur dan mereka menantikan itu. Setelah beberapa minggu akhirnya hujan turun di Desa Midang. Aku dan Ibu segera menyuruh adik kecilku, yang belum berusia dua tahun masuk ke rumah paman. Sedang aku, ibu dan adikku yang lain membantu memindahkan barang terutama kasur dari tenta ke berugak paman. Karna jika tidak dipindahkan pasti akan basah dan itu akan mengganggu kenyaman kami saat tidur.
Hujan itu tidak terlalu besar, dan hujan itu ternyata bukan pertanda berhentinya lindur.
.
Setelah sekitar satu minggu, aku dan Ibu pergi ke pasar Gunungsari. Kami akan pergi berbelanja. Kata Ibu pasar itu sudah mulai ramai lagi. Walau orang-orang tidak berani masuk ke dalam gedung pasar, karna keadaan bangunannya yang cukup parah.
"Hidup kami dibiayai pemerintah. Diberi makan tiga kali sehari, tapi kami tidak bisa terus bergantungkan." Itu perkataan salah seorang Ibu dari Desa Kekait. Desa yang termasuk dalam jajaran terparah dampak gempa. Ya. Mereka tidak boleh terus bergantung.
"Saya pergi jualan ke Lombok Utara. Tapi sampai sana. Ya Allah. Rasanya saya tidak tega. Saya lebih ingin memberikan mereka dagangan saya."Salah satu laki-laki penjual sayuran bercerita. Sebelumnya dia memang pergi menjual bahan-bahan masakan ke Dayan Gunung atau Lombok Utara.
.
Aku melihat beberapa orang pemuda berjualan opak-opak. Mereka dari Lombok Utara. Mereka bilang tidak tau harus bekerja apa, maka dari itu mereka memutuskan berjualan. Sedang seorang Ibu dan beberapa orang lainnya dari Lombok Utara membeli begitu banyak singkong. Mereka bilang, agar ada yang bisa mereka makan di pengungsian.
.
"Saya tidak tau, ternyata saya masih hidup. Saya pikir saya akan mati malam itu." Itu cerita pamanku. Dia tinggal di Nipah, Lombok Utara. Dia ceritakan bagaimana suasana begitu mengerikan malam itu. Bagaimana semalaman dia begitu khawatir karna terpisah dengan anak dan istrinya. Bagaimana suara bebatuan jatuh dari bukit dan suara takbir dan kalimat-kalimat Allah lainnya menggema bersamaan dengan suara rumah-rumah yang roboh.
.
Sekarang ini. Dua bulan lebih pasca gempa. Aku melihat sekeliling Dusunku. Berdecak kagum melihat rumah-rumah baru para pengungsi. Sampai sekarang masih begitu banyak yang tidak bisa kembali ke rumah. Tepatnya masih takut untuk tidur di dalam rumah. 
Para lelaki yang bukan tukang bangunan menjadi bisa membangun. Membangun rumah sederhana dari papan dan calsiboard. Membangun untuk istri dan anak mereka tercinta. Kengerian gempa itu masih terasa dan masih meinggalkan rasa takut, tetapi bukan berarti kita hanya menyembunyikan diri di balik selimut. Mengharapkan bantuan datang. Mengharapkan oranglain membangun rumah kita atau memperbaikinya. Mereka sadar itu, hingga membuat mereka mulai membangun dan menata kembali apa yang sebelumnya rusak bahkan hancur. Karna berubah dimulai dari keinginan diri sendiri. Keinginan untuk bangkit dan berusaha menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru