Berita Hoax Bisa Membunuh Siapapun



“Saya minta maaf karena selama ini telah memfitnah pak kiyai,” ujar santrinya.

“Iya saya sudah memaafkanmu,”kata Kiyai.

Namun santri tersebut belum puas dengan hanya minta maaf. Santri ini meminta kepada gurunya untuk dihukum lebih berat lagi karena merasa maaf yang diberikan sang gurunya belum mampu menutupi rasa berdosannya.

Beberapa kali diminta akhinya, Kiyai tersebut menyuruh santrinya pulang dan meimntanya nkembali dengan membawa "kemoceng" alias sapu bulu yang terbuat dari buluy ayam. 

"Cabutilah setiap helainya sambilk berfjalan dari rumahmu menuju kesini," kata Pak Kiyai.

Santri itupun segera mematuhi perintah Pak Kiyai. Sambil berjalan dicabutinya bulu ayam tersebut helai demi helai hingga tiba di rumah Pak Kiyai yang tertinggal hanya tangkai kemocemng tersebut.

“Hukuman ini belum seberapa Kiyai, saya minta agar dihukum lebih berat lagi." pinta santri

“Sekarang kamu pungut kembali bulu ayam yang sudah kamu cabuti tadi dan bawa kembali ke hadapan saya." perintah kiyai.

Santri tersebut melaksanakan perintah kiyai untuk memungut kembali bulu ayam tersebut dan bulu ayam itu sudah beterbangan dibawa angin, nyangkut di genteng rumah, menempel di ban mobil, tertiup angin ke sawah, pasar-pasar, sungai dan berbagai tempat.

Akhirnya, dengan wajah lemas, capek dan tertunduk dihadapan kiyainya, santri tersebut kembali dan membawa beberapa helai bulu ayam tadi. “Kiyai hanya beberapa bulu ayam ini yang saya dapatkan,” ujarfnmya

Sang Kiyai dengan suara lembut mengatakan, “Tahukan kamu pelajaran apa yang ingin saya sampaikan dari peristiwa ini,” ujar kiyai. Santrinya diam dan membisu.

"Itulah fitnah. Bulu ayam yang dicabut merupakan kata-kata yang dikeluarkan dengan mudah dari mulut kita.  Kata-kata itu berterbangan kemana-mana dan diterima telinga kemudian diucapkan kembali oleh mulut." Jelasnya

"Demikian setewrusnya. Meski sudah dimaafkan, meskipun diasntara kiktaz sudah m,agti sekalipun, kataz-kata itu akan terus berterbangan mengisi ruang telinga setuaop orang yang mendedngarnya dan kembali diucapokan oleh mulut dan siap akan membunuh siapa saja." lanjutnya

Ilustrasi tersebut disampaikan oleh Sekertaris Dinas Kominfotik Provinsi NTB Fairuz Abadi pada kegiatan pelatihan meningkatkan kompetensi dan pemahaman insan jurnalis  dengan tema “Jurnalisme Warga dan Pengenalan Berita Hoax” yang digelar Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengda NTB, Rabu (31/10) di hotel Montana Senggigi Lombok Barat.

“Ilustrasi tersebut mengambarkan begitu hebatnya berita bohong atau fitnah atau istilah sekarang lebih kita kenal berita hoax menyebar dan bahkan mampu membunuh orang, kita tau gara-gara sms penculikan anak, beberapa nyawa meregang di lombok beberapa tahun yang lalu,” kata Fairuz.

Untuk itu, peran media atau dalam menyajikan berita yang baik itu sangat penting untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Akhir-akhir ini peredaran informasi berkembang begitu cepat, dunia maya banyak bermunculan  informasi dan berita palsu atau lebih dikenal dengan istilah “hoax” oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggungjawab.

Menurut Fairuz, informasi itu ada dua yaitu mengajak orang lain berbuat baik dan mengajak untuk berhenti berbuat keburukan yang lainnya hoaks atau fitnah.

Berkembangnya dunia internet akhirnya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bermedia social. Apalagi diikuti dengan fasilitas yang memadai. Maka masyarakat perlu di edukasi dengan pemahaman untuk mengenal berita hoax.


Salahsatu cara yang mudah sesuai dengan Undang-undang Pers adalah mempunya media, memiliki penanggungjawab dan alamatnya jelas. “ Nah ini jelas, kalau sumber berita itu mempunyai ciri-ciri seperti ini dan diikuti oleh ciri yang lain seperti memiliki badan hokum, maka dapat kita percayai,” kata pria yang biasa disapa Abu Macel ini.

Ciri lainpun bias dikenali dari judul provokatif, Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif. misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu.

Kemudian Cermati alamat situsnya. “Kalua situs milik pemerintah menggunakan domain go.id dan seterusnya,” jelasnya.

Apabila menjumpai informasi hoax, lalu bagaimana cara untuk mencegah agar tidak tersebar. Pengguna internet bisa melaporkan hoax tersebut melalui sarana yang tersedia di masing-masing media. Atau jangan meneruskan Informasi, berita, foto atau video tersebut.

“Saya berharap pelopor dan terdepan dalam melawan hoax adalah Insan Media. Maka tingkatkan kemampuan dalam membuat berita dengan benar sehingga Media Pers menjadi Media yang mampu mencerdaskan masyarakat,” harap Fairuz. (Edy)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru