FGD "Melawan Hoax"

Informasi "hoax" atau berita tidak jelas sangat hits dibicarakan di berbagai sosial media. “Berdasarkan data dari kominfo pusat, ada sekitar 800 hoax yang beredar di lini masa. Penyebaran hoax tersebut melalui media sosial seperti Facebook, Whatsap dan lainnya,” seperti itulah kata pengantar seorang MC Hani pada Forum Group Discussion yang berlangsung di Balai ITE Mataram, (24/10/2018)


Kemajuan teknologi moderen menyebabkan publik semakin gencar mengakses ragam informasi. Hanya dalam sekejap waktu mereka dapat mengirim dan menerima informasi. Namun titik persoalan adalah berkembangnya informasi tidak jelas dan tersebar dengan cepat, yang justru menghipnotis sejumlah orang sehingga yakin sebagai suatu kebenaran informasi.

Jangankan dari kalangan masyarakat awam, dari kalangan berpendidikan pun terjebak dengan berita palsu atau hoax. Dari sinilah kita perlu tanggap dengan baik dalam menghadapi tantangan yang ada, yang notabenenya adalah akibat dari perkembangan teknologi modern.


"Hoax lewat media sosial memang pengaruhnya luar biasa. Banyak kasus terjadi karena hoax,” ujar Kasubdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Ditrireskrimsus Polda NTB AKPB Darsono Setyo Adjie dalam FGD “Melawan Hoax” di Balai ITE Mataram.” Olehnya itu, hati-hati sharing di dunia maya, karena dunia maya taka ada batasnya,” ujarnya.

Selain itu, dapat dipahami bahwa maraknya peredaran informasi "hoax" dipicu dua motif yaitu ekonomi dan politik. Ada situs-situs yang notabenenya sengaja dibuat dengan tujuan mendapatkan kunjungan sebanyak mungkin, dengan membuat berita penuh sensasi. Di satu sisi, ada hoax yang motifnya untuk menyalurkan aspirasi politik melalui media sosial dengan membuat kabar palsu, lanjutnya.


Terkait dengan hal di atas, Darsono Setyo Adjie mengemukakan sejumlah tips untuk mendeteksi informasi hoax agar pengguna media sosial tidak termakan berita fitnah, hasut dan hoax. Misalnya, lakukan cek silang jika menemukan informasi yang provokatif dengan menggunakan mesin pencari google untuk memastikan bahwa apakah informasi tersebut ditulis dan diterbitkan oleh situs berita lain. Setelah itu, dapat dibandingkan informasi tersebut, sehingga kita dapat mengetahui apakah informasi itu hoax atau tidak.

Selain itu, netizen dapat memperhatikan alamat situs web dan media yang menerbitkan, jika yang memuatnya adalah situs yang tidak terdaftar dalam Dewan Pers, maka kita harus hati-hati terhadap informasi tersebut. Dalam arti pula bahwa situs yang masuk dalam dewan pers pun belum tentu informasinya benar. Terkadang juga informasi itu dibuat dengan sudut pandang, beda dengan media resmi karena lebih kredibel dan memiliki standar jurnalistik, serta mengikuti Pedoman Pemberitaan Media Siber dan dapat dilaporkan ke Dewan Pers jika ada pelanggaran, seperti itulah bahasa Darsono Setyo Adjie.

Selanjutnya Sekretaris Dinas Kominfotik NTB Fairuz Abadi, SH melanjutkan bahwa di sebuah media sosial terpajang poto korban tsunami yang lokasi pengambilan gambarnya bukan di Palu, namun pemberi informasi menulis kalau poto korban itu berasala dari peristiwa tsunami di Palu. “Ini adalah contoh informasi tidak jelas,”ujarnya.

Dalam arti bahwa pada sebuah informasi perlu dilakukan cek foto di dalam artikel berita karena terkadang pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca. Caranya, unduh atau screenshot foto di artikel lalu buka Google Images di browser dan seret (drag) foto itu ke kolom pencarian Google Images. Periksa hasilnya untuk mengetahui sumber dan caption asli dari foto tersebut. Sekarang juga sudah bisa menggunakan aplikasi Android untuk mengecek foto, pesannya.Lalu, masyarakat juga dapat bergabung dengan Fanpage Anti-Hoax dan mengikuti Group Diskusi Anti Hoax.demikian juga untuk Google, bisa menggunakan fitur Feedback untuk melaporkan situs yang keluar dari hasil pencarian sebagai situs palsu yang tidak benar. Twitter pun memiliki fitur untuk melaporkan twit yang negatif, dengan Report Tweet dan Instagram memiliki fitur Report untuk melaporkan konten negatif.

Darsono Setyo Adjie lebih lanjut, bahwa dengan hape canggih, berita hoax dengan melalui sms berantai sangat merugikan. Menurutnya, hoax itu adalah suatu kebohongan yang ditujukan untuk kegiatan yang jahat. Olehnya itu, Darsono Setyo Adjie menyarankan agar setiap informasi yang ada, khususnya melalui sms berantai harus lebih dicermati kebenarannya.” Selain itu, ia menyampaikan bahwa mengirim suatu berita yang tidak jelas sebaiknya dicantumkan sumbernya.

Sekretaris Dinas Kominfotik NTB Fairuz Abadi, SH, dalam Forum Group Discussion, yang mana memberikan konsep hoax dalam bahasa filsafat. Menurutnya dalam terjemahan harafiah bahwa hoax itu adalah fitnah. Jika fitnah itu berantai, dalam arti tersebar dari mulut ke mulut berarti orang yang terkena fitnah itu akan dirugikan. Selain itu, menurut Fairuz bahwa di sinilah pentingnya ahlak dan kemampuan untuk menanalisis suatu informasi-informasi yang ada dan jangan cepat percaya dengan informasi yang ada tanpa ada pembuktian yang akurat.

Dalam menyikapi hoax yang kini marak dibicarakan di berbagai media social, berbagai komentar yang datang dari forum diskusi. Diantaranya, Andi Mulyan pengajar UNU NTB mengatakan bahwa dalam menyikapi hoax perlunya ada sosialisasi hox yang lebih meluas di setiap elemen-elemen masyarakat. Dalam arti bahwa sosialisasi hoax dapat dilakukan di berbagai sekolah, kantor, masjid, gereja , atau pada kelompok-kelompk remaja, seperti pada keompok karang taruna. Namaun, dalam sosialisasi tersebut, para pemeberi materi seharusnya mensosialisasikan konsep dari hoax, factor penyebab hoax, upaya penanggulangan hoax, dan juga undang-undang yang mengatur tentang hoax. Sebab dengan melalui strategi seperti ini akan lebih memudahkan warga masyarakat untuk menyadari tentang bahya hoax pada masyarakat.

Komentar lain adalah bahwa hoax itu dapat disikapi dengan pendidikan ahlak. Sebab dengan pendidikan ahlak yang terbentuk dalam lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan sekolah, tentu membuat seseorang untuk tidak melakukan fitnah atau informasi kebohongan.

Tapi bagaimana dengan dengan masyarakat awam yang tidak paham tentang hoax. Dari forum mengatakan bahwa selain peran ahlak juga perlunya ada program Forum Group Discussion di berbagai tempat yang akan membahas tentang hoax dan melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Hal lain yang diungkap oleh Darsono Setyo Adjie dalam FGD “Melawan Hoax” adalah Peraturan Perundangan di Indonesia mengenai penyebaran kabar bohong.

Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008
tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Pasal 28

(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.

(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Undang Undang Nomor 1 Tahun 1946
tentang Peraturan Hukum Pidana

Pasal 14

(1) Barangsiapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.

(2) Barangsiapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan yang dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, sedangkan la patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun.

Pasal 15

Barangsiapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berkelebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patut dapat menduga bahwa kabar demikian akan atau sudah dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi, tingginya dua tahun.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru