Ratusan Pengungsi Masih Bertahan Di Lapangan Karang Genteng


(28/08/2018). Ratusan pengungsi masih tetap bertahan sampai hari kemarin di lapangan Karang Genteng Pagutan Kota Mataram. Masih trauma, resah dan khawatir ditambah isu akan terjadi gempa besar tanggal 26 menjadi alasan mereka walaupun tanggap darurat yang sudah dicabut oleh pemerintah dan proses belajar mengajar di sekolah kembali normal. Ratusan pengungsi ini tidak hanya berasal dari warga karang genteng namun juga berasal dari tanjung,sumbawa dan bima.

Salah seorang pengungsi warga Kampung Karang Genteng Maniah mengatakan sudah 5 hari berada dilapangan karang genteng bersama suaminya Lalu Sumiarto asli Tanjung. Sebelumnya Maniah berada di pengungsian bersama keluarganya di tanjung pasca gempa tanggal 29 juli dan gempa tanggal 5 agustus 2018.


Maniah menuturkan rumahnya yang di tanjung dusun tembobor sejak gempa tanggal 29 juli rata dengan tanah dan sudah di data oleh Kadus setempat untuk mendapatkan bantuan. Saat berada di pengungsian tanjung pernah mendapatkan bantuan berupa mie,beras,telur dan lain-lain.

Saat ditanya sampai kapan akan bertahan di tenda pengungsian, Maniah mengaku akan berada di pengungsian sampai betul betul keadaan aman dari gempa, tapi sampai kapan diapun belum tahu, masih menunggu arahan dan pemberitahuan dari pemerintah.

Hal yang sama juga di tuturkan oleh Sabdi asal Sokong Majalangu Tanjung, Sabdi mengatakan rumahnya yang berada di tanjung sudah rata dengan tanah saat gempa pertama dan kini sudah di data. Ia Mengungsi ke Lapangan Karang Genteng bersama anak istrinya karna istrinya asli orang Karang Genteng.Tterkait dengan dengan rumahnya yang di Sokong Tanjung saat ini di urus oleh orangtuanya.


Ditanya sampai kapan berada di pengungsian, Sabdi mengatakan jika kondisi sudah aman, walaupun sudah ada pemberitahuan dari pmerintah namun adanya gempa susulan yang sering terjadi di tambah lagi ucapan dari anak istrinya yang masih takut dan resah membuatnya tetap bertahan di pengungsian.

“Kalau aman yang kita rasakan yaa pasti pulang, tapi keresahan anak istri saya yang membuat saya tetap bertahan di sini bersama temen-temen”. Akui Sabdi.

Hal senada juga di katakan oleh Sita pengungsi asal Tanjung, Sita mengatakan Ia berada dipengungsian sejak tanggal 5 agustus 2018 saat gempa 7.0 SR dan sampai saat ini tidak ada yang berani pulang sampai sekarang , mereka takut pulang karna masih ada gempa susulan.

“Saat itu rumah retak semua dan semua rumah yang rusak akibat gempa sudah didata oleh kepala lingkungan. Selain di photo juga diminta photo
copi KK dan KTP sebagai laporan ke kelurahan.” Akui Sita

Sambung Sita, walapun sudah mulai masuk anak sekolah dan sudah tidak lagi ada tanggap darurat, seluruh pengungsi di lapangan karang genteng tetap tidak ingin pulang kerumah karna masih trauma apalagi masih saja ada gempa susulan. Walaupun gempa susulannya kecil tapi warga tetap bertahan dengan alasan sedia payung sebelum hujan.

“Takutnya begitu mereka pulang, gempa lagi, itu yang di takutkan. Para pengungsi tidak hanya dari kampung karang gentang namun banyak juga yang ngungsi dari luar wilayah seperti tanjung,Sumbawa dan bima.”Ujarnya []

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru