Sensasi Reuni Menelusuri Wisata Savana Tambora

Reuni merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh setiap orang, dengan adanya acara reunian kita dapat bertemu kembali dengan sahabat lama baik kawan sekolah, kawan seperjuangan, kawan kecil dan kawan semasa kuliahan.   Beragam cara orang menghabiskan masa liburan pasca hari raya idul fitri, karena moment untuk mengadakan temun kangen dengan sahabat lama akan lebih indah jika diadakan setelah hari raya Idul Fitri. Sebab, semuanya kembali ke kampung halaman.

Saya dan sahabat kampung setelah lama tak berjumpa, akhirnya kami dapat bersua kembali di tanah kelahiran. Canda tawa sangat kami rindukan ketika jarak yang memisahkan. Namun, semuanya sudah terbayarkan setelah kami bertatap muka kembali. Kami memutuskan untuk menghabiskan masa liburan berkunjung ke tempat-tempat wisata yang terdapat di Padang Sabana Tambora. Tempat wisata yang menjadi tujuan kami adalah Mada Oi Rao (Mata Air Rao) yang berjarak sekitar 1 Km dari Pantai Sarae Nduha. Kami berangkat pada hari Minggu tanggal 17 Juni 2018 lalu.

Sepanjang perjalanan yang kami lalui, mata kami selalu dimanjakkan dengan pemandangan menyenjukkan sekaligus  bercampur dengan kejanggalan disetiap gunung dan bukit-bukit yang kami lewati. Gunung-gunung mulai terlihat kesepian tak ada lagi pohon rimba yang menemani, bukit-bukit tinggi yang gersang tak lagi memberikan kesejukkan yang menaungi perjalanan kami dari terik Matahari yang membakar kulit. Saya memaksakan diri untuk menikmati perjalanan jauh meskipun bercampur dengan beribu-ribu pertanyaan yang tak pernah hilang sepanjang perjalanan saya dengan sahabat.

Memasuki wilayah Kecamatan Kempo Kabupaten Dompu, hamparan tanah luas dan bukit-bukit gersang yg membuat perjalanan kami semakin gerah. Tak ada lagi aura kehidupan bagi tumbuh-tumbuhan di sekitar jalan, hanya warna  kematian yang terdapat pada rumput dan tumbuh-tumbuhan sekitar. Hanya terdapat batang jagung yang sudah lapuk yang memenuhi bukit-bukit tinggi dan ladang yang luas. Beberapa minggu yang lalu, ternyata para petani jagung telah melewati musim panen raya dan hanya menyisakan tumpukan sampah tak ternilai.


Kami pun memutuskan untuk istrahat sejenak di desa Oi Hodo, Kec. Kempo, Kab Dompu. Karena di desa ini, terdapat mata air yang besar yakni “Mada Oi Hodo” adalah mata air yang berada di pinggir jalan lintas tambora. Mata Air Hodo yang langsung berbatasan dengan Pantai Hodo

Mada Oi Hodo berasal dari bahasa lokal yang berarti Mata Air Hodo.
Hodo sendiri berarti Jantung.

Jadi, terjemahan bebasnya Mada Oi Hodo adalah Mata air yang menjadi jantung bagi masyarakat sekitar. Uniknya Mata airnya keluar dari celah-celah bebatuan di pinggir jalan. Dan langsung berbatasan dengan pantai Oi Hodo.

Pantai yang identik dengan panas, seketika menjadi sejuk dengan adanya pemandian air hodo. Pohonnya rindang, anginnya pun semilir. Banyak yang memanfaatkan mata air oi hodo sekedar untuk beristirahat seperti shalat, makan, atau sekedar cuci muka bagi para pelintas jalan lintas tambora ini. Mata air Oi Hodo adalah detak jantung bagi masyarakat dan ternak-ternak.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju tempat yang tujuan kami, karena musim ini sebagai musim kemarauan yang melanda padang Savana Dorocanga Tambora, sehingga rumput yang tumbuh memenuhi ribuan hektar lahan tersebut, tidak lagi menampakkan warna kesuburannya. Hanya terlihat warna kuning kecoklatan sebagai tanda bahwa tumbuh-tumbuhan tidak mampu lagi memberikan kehidupan bagi ribuan ekor hewan ternak yang memenuhi luasnya padang tersebut. Kawanan hewan ternak kebingungan untuk mencari makanan di tempat itu.

Sepanjang jalan lintas Tambora, nampak hewan ternak yang seakan-akan pasrah dengan kehidupan ini. Di mana tidak, kegemukan daging hewan-hewan tersebut sudah tidak lagi memberikan pemandangan yang menyenangkan bagi pengendara yang melintas jalan ini. Padang itu dipenuhi dengan kematian bagi ribuan kawanan hewan ternak yang memenuhi padang itu.

Selama 4 jam perjalanan yang kami tempuh, akhirnya kami sampai di Mada Oi Rao yang terletak di Desa Sori Tatanga, Kecamatan Pekat. Mata air Rao dikelilingi oleh Pepohonan warunya meliuk meliuk dan saling bersilang sehingga bisa dijadikan tempat duduk alami. Sehingga mata air ini menjadi tempat favorit bagi masyarakat Dompu untuk menghabiskan liburan bersama keluarga dan kerabat dekat.


Untuk mencapainya, kami harus melewati padang sabana. Mata airnya berada dibalik pepohonan waru tepat berada di tengah-tengah pepohonan waru. Mata airnya muncul dari celah celah akar pepohonan waru. Alirannya deras dan dingin. Dibalik pepohonan waru itulah pantai Rao. Saat kami tiba di sini, ada ribuan masyarakat yang sudah memenuhi mata air ini. 

Karena bertetapan dengan musim panas, maka debu-debu disekitar mata air menyelimuti aktivitas pengujung. Meskipun demikian, tidak menghentikan semangat kami untuk menikmati liburan ini.[]

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru