Cara Anak Desa O'o Menikmati Kluwih

Pohon Kluwih adalah sejenis  tanaman keras yang buahnya memiliki kulit agak keras dan berduri. Meskipun buahnya berduri tapi tidak melukai seperti duri yang terdapat di buah durian. Karena duri yang terdapat di buah ini sangat lembek.

Nama latin Kluwih adalah Artocarpus Communis atau Artocarpus altilis. Orang- orang di pulau Sumatera menyebutnya Kulu di Aceh, Otal Kulu di Suku Batak, Kalawi di Minangkabau, Kaluwih, Pulor di Lampung, Gomu  untuk suku Melayu.

Sedangkan suku Sunda menyebiunya Kelewih, Kalewih. OKoluih, Keleih, Kulur. Otang Jawa mednyebutnya KluwihKaluih, Kalueh, Klueh. Timbul  di Betawi, Kolor di Madura. Kalancang, Kalewih di Bali.  Kolo di Bima, Laku, Naun Maufe di Timor. Gamasi di Makassar, Kuloro di Selayar.Ulo di Bugis, Lines, Umasi di Seram dan Dolai di Halmahera.

Buah Kluwih mirip dengan buah sukun, tetapi buah ini memiliki biji, sedangkan buah Sukun tidak memiliki biji. Namun, dua jenis buah ini memiliki kesamaan yang hampir tidak bisa dibedakan, mulai dari pohon, bentuk ranting, daun dan bentuk buahnya. Pohon ini biasa tumbuh di pinggir sungai.

Namun, terdapat cara unik pemuda desa O'o Kecamatan Dompu Kabupaten Dompu,  yang menikmati buah berduri ini, mereka menikmati buah ini dengan cara dibakar. Keunikan ini memang sudah lama melekat pada anak-anak desa yang ingin menikmati buah ini tanpa harus di masak. Bahkan mereka sangat menantikan pohon Kluwih berbuah. Pohon ini biasanya berbuah dua kali dalam setahun.

"Buah ini, Kalau dibakar rasanya lebih gurih dan manis dibandingkan dengan di masak," ungkap Fardiansyah salah seorang pemuda asal Desa O'o tersebut, sembari memasukan buah Kluwih ke dalam api, (Rabu 16/05).

Menurutnya, menikmati buah ini dengan cara dibakar memberikan rasa yang lebih nikmat jika dibandingkan dengan dimasak. Meskipun hanya biji yang dapat dinikmati, sebenar dagingnya juga bisa dinikmati, tetapi rasanya yang hambar sehingga kebanyakan akan dibuang. 

Ia juga menjelaskan bahwa menikmati buah ini dengan cara dibakar merupakan tradisi yang sudah lama diwariskan oleh tetua desa terdahulu. Selain caranya yang praktis, juga untuk mengganjal perut kosong ketika berada di tengah gunung. Untuk menikmati buah ini dengan cara di bakar "kita harus mengumpulkan ranting kayu sebanyak mungkin. Sebab kalau dibakar dengan sedikit kayu, maka kita akan membutuhkan waktu yang lama untuk menikmatinya. begitu juga sebaliknya," ungkapnya tersenyum.

Selain itu juga, Kluwih memiliki sekitar 30 biji per-buahnya. Kemudian untuk mengetahui buah ini sudah matang atau belum? Bisa diketahui dari warnanya. Awalnya berwarna hijau sampai berubah menjadi warna hitam pekat. Sehingga semua biji-bijinya matang secara merata.

Banyak masyarakat umum menjadikan buah ini sebagai sayuran favorit, selain dagingnya yang bisa dimakan dan bijinya yang terasa gurih, memberikan rasa yang berbeda antara daging dan bijinya.

Terutama masyarakat Desa O'o yang menyukai buah ini, sebab untuk mendapatkan buah berduri lembut ini tidak perlu dibudidayakan, sehingga harus menunggu bertahun-tahun untuk dinikmati. Karena pohon ini tumbuh dengan sendirinya sejak puluhan tahun lalu dan dapat ditemui di pinggir sungai.

Meskipun buah ini tidak begitu familiar dan tidak diminati oleh masyarakat umum, tetapi buah berduri lembek ini telah memberikan manfaat yang banyak bagi kehidupan masyarakat desa.

Adapun manfaat dari buah berduri ini, dapat mengurangi kolesterol berbahaya dalam tubuh dan meningkatkan kolesterol yang bermanfaat bagi kesehatan. Buah ini juga sebagai antioksidan terhadap radikal bebas yang dapat menyebabkan proliferasi sel yang berbahaya dan kanker yang berbahaya. Hal ini tidak lepas dari kandungan vitamin C yang terkandung dalam Kluwih yang mampu melayani sebagai antioksidan alami tubuh anda. []

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru