Miskin Kaya Antara Takdir Dan Nasib

Seperti pepatah mengatakan "Kehidupan Bagaikan Roda" kadang berada di puncak kemewahan atau tertindas oleh kemewahan tak berpihak. Memiliki harta yang berlimpah adalah impian semua insan, hukum Alam mengajarkan kepada setiap insan, siapa yang bekerja dan berusaha ia akan mendapatkannya dan begitupun sebaliknya.

Miskin kaya merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Kemiskinan akan selalu menghantui orang-orang malas untuk bekerja dan berusaha. Sedangkan kekayaan akan selalu menghampiri orang-orang yang bekerja keras tanpa putus asa. Agama juga, mengajarkan kepada manusia tentang bagaimana mendapatkan harta dengan cara yang halal. Sedangkan, orang-orang yang beranggapan bahwa miskin adalah takdir dari Tuhan, sehingga pasrah dengan keadaan.

Antara takdir dan nasib terdapat ketentuan Tuhan yang dapat diubah dan tidak bisa diubah. Terlahir dari keluarga kurang mampu adalah pilihan Tuhan yang harus diubah oleh manusia itu sendiri. Allah SWT telah melengkapi raga manusia dengan akal, tangan, kaki dan lain-lain. Tergantung ke arah mana, kita memanfaatkan kemampuan tersebut, apakah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup dalam mengubah kemiskinan menjadi kaya raya.

Takdir adalah ketentuan Tuhan yang tidak bisa diubah. Contohnya, seseorang terlahir dengan jenis kelamin laki-laki. Ini merupakan salah satu takdir Tuhan yang tidak dapat diubah. Kemudian kematian juga, adalah takdir Tuhan yang tidak bisa kita tentukan waktunya atau dalam keadaan apa kita akan meninggal. Sedangkan nasib adalah ketentuan Tuhan yang bisa kita ubah. Contohnya, seseorang terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Bagaimana cara mengubahnya? Dengan kerja keras dan berusaha.

Sementara itu, masih banyak kita temukan anak-anak di jalanan bahkan orang tua dengan pakaian kusut, meminta sembari mengatakan “Pak..., minta sedekahnya karena saya belum makan” kita tahu bahwa mereka masih memiliki kemampuan untuk mencari nafkah dengan cara yang baik. Sebab dalam ajaran agama Islam bahwa memimta-minta adalah cara mencari nafkah yang salah. Sementara untuk orang dengan keadaan yang cacat sejak lahir atau karena kecelakaan menimpanya. Mungkin masih bisa di maklumin.

Bukankah Rosulullah SAW pernah mengingatkan kepada umatnya dengan hadist “tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah” orang yang suka memberi lebih baik, dari pada orang yang suka meminta-minta. Orang yang ditakdirkan dengan keadaan kurang mampu, rata-rata beranggapan bahwa saya miskin karena takdir dari Tuhan (Tuhan yang disalahin karena sudah ngasih takdir yang jelek)”.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru