Maringkik, Pulau Bersejarah

Maringkik adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Lombok Timur. Dulunya, pulau yang luasnya hanya sekitar 6 Hektar ini di sebut sebagai Pulau Buwung. Buwung dalam bahasa bajo adalah sumur. Pengakuan masyarakat setempat bahwa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia terdapat sebuah sumur yang menjadi tempat persinggahan para nelayan untuk mengambil air minum. Namun sumur tersebut, kini tidak tampak lagi.


Sebagian besar warga Maringkik bertutur bahwa nama Maringkik diambil dari seekor kuda semberani yang sering mengeluarkan suara merengek (meringkik) ketika melintas di sekitar pulau kecil ini. Bahkan kuda yang selalu ditunggangi oleh seorang penyiar islam dari arah timur tersebut kerap kali mampir di pulau ini. Konon, kedatangan pemilik kuda semberani tersebut tak lain adalah untuk bertemu dengan para wali yang sering berkumpul di tempat ini.


Abdul Kadir (55 tahun) selaku toko masyarakat Maringkik bertutur bahwa dalam Mukhtamar Nahdlatun Wathan yang berlangsung di Praya, yaitu pada tanggal 1 januari 1965, Maulana Syekh menyampaikan di depan jama’ah bahwa pulau kecil yang terletak di sebelah selatan dari Tanjung Luar bernama Pulau Maringkik, dan tidak boleh berubah nama. “Sebab Maringkik adalah nama pulau yang bersejarah,” ungkap Kadir mengulang kalimat Maulana Syekh yang mempertegas nama Maringkik tidak boleh diganti nama.


Suatu bukti pendukung jika Maringkik merupakan pulau bersejarah adalah ditemukannya peninggalan bersejarah pada lokasi tempat berdirinya sebuah masjid. Puang Satar yang nenek moyangnya berasal dari Mandar bahwa semasa kecilnya, yaitu 39 tahun lalu, yang mana ditemukan sebuah peninggalan bersejarah seperti jamrud, keris, mangkok yang terbuat dari tanah bercampur emas, tasbi, perhiasan lainnya. Tempat ditemukannya peninggalan bersejarah tersebut adalah di lokasi rumah kediaman dari mertua Abdul Kadir yang kini lokasi tersebut ditempati sebuah masjid.


Ada perkiraan bahwa benda bersejarah yang berupa jamrud, keris, mangkok yang terbuat dari tanah bercampur emas, tasbi, perhiasan lainnya adalah milik dari seorang penyiar islam dari timur atau sulawesi. Namun benda bersejarah tersebut telah diamankan oleh seorang tuan guru dari seberang (Lombok). Ungkap Puang Satar yang juga selaku toko masyarakat Maringkik.

Perkuburan tua yang tidak diketahui silsilahnya juga menjadi suatu kecurigaan kalau Maringkik menyimpan suatu peradaban yang bersejarah. Lima makan tua yang masih nampak jelas, namun tak ada pun yang mengetahui siapa pemiliknya.   

Penyebaran islam di Pulau Maringkik telah berlangsung semenjak dulu. TGH Maulana Syekh (Pancor) dan TGH Mutawalli (Jerowaru) adalah dua sosok penyiar islam yang sering datang melakukan zikiran di tempat ini. Kadir bertutur bahwa semasa hidup Maulana Syekh, beliau sering memimpin zikiran di pulau ini, bahkan para zikrullah Maringkik tak akan melakukan zikiran kalau tidak dipimpin oleh Maulana Syekh.  

Selain Maringkik dalam kaitannya dengan cerita rakyat tentang kuda semberani yang sering merengek ditempat ini, sebuah kapal pesiar ditemukan tenggelam pada zaman penjajahan. Diperkirakan bahwa kapal besar yang sudah menjadi karatan di bagian timur dari pulau ini adalah milik orang Belanda. Pada bukit Maringkik ditemukan sebuah Tugu Satelit Indonesia yang berdiri tegak. Monumen tentang peta Indonesia yang dibangun oleh orang Belanda telah ditemukan ditempat ini, hanya saja silsilah atau peta tersebut telah hilang. Menurut warga sekitar bahwa ada banyak bekas perlu dari kaum penjajah yang bertembaran di tempat ini. Olehnya itu para warga setempat dilarang untuk melakukan penggalian bebas di bukit Maringkik.

Pulau Maringkik berdekatan dengan Tanjung Ringgit. Tanjung Ringgit adalah salah satu tanjung di Pulau Lombok yang merupakan markas tentara Jepang atau Belanda pada masa penjajahan. Sebuah gua tempat persembunyian bagi kaum penjajah masih nampak utuh. Demikian juga dengan meriam yang ada di atas bukit Tanjung Ringgit masih nampak utuh dan kini telah menjadi wisata bersejarah. Dapat disimpulkan bahwa Tanjung Ringgit dengan Pulau Maringkik adalah dua daratan yang pernah dikuasai oleh kaum penjajah. []

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru