Jokowi dan Hari Santri Nasional

Ada undangan terbuka dari FB, terkait acara silaturrahmi Presiden RI, Jokowi nanti sore jam 4 di Bagu. Ponpes Qomarul Huda, asuhan TGH.L.M Turmuzi Badarudin, Ponpes pertama di Lombok yang akan dikunjungi oleh Jokowi. Memilih Ponpes Qomarul Huda untuk di datangi silaturrahmi saya rasa bukan semata karena kebetulan atau hasil loby pengurus. Ada ikatan dan jalinan sebelumnya termasuk kapasitas dan integritas keilmuan pimpinannya.

Kalau diminta mengajukan usulan nama-nama ponpes untuk dikunjungi, saya percaya hampir semua ponpes di Lombok ini akan mengajukan diri untuk di datangi oleh presiden. Terutama ponpes-ponpes besar di Lombok meski para pengurus ponpes itu dulu tidak memilih Jokowi. Dan saya melihat Jokowi mendatangi suatu tempat bukan semata mendatangi wilayah "lumbung suara" untuk kepentingan elektoral semata. Tapi untuk berinteraksi, berdialog dan bercanda dengan rakyat.

Menurut saya, salah satu pengejawantahan atau bukti nyata dari kebijakan Hari Santri Nasional (HSN) yang akan dirayakan 22 Oktober besok ini adalah rajinnya Jokowi mendatangi berbagai pesantren di berbagai daerah. Bukankah pesantren itu adalah basis dari komunitas santri. Kalau ada orang beranggapan hari santri adalah seremonial semata itu salah pakai teori dan analisis.

Atau itu hanya kepentingan orang-orang NU saja karena sempat ditolak oleh Ormas Islam lain. Bukan hanya hari santri ditolak oleh ormas itu, Perpu Ormas yang dikeluarkan Jokowi juga ditolak secara resmi di DPR. Dan aroma perayaan kegembiraan muncul di mana-mana. Sahabat-sahabat Nahdlatul Wathon (NW) di Lombok pun kini sudah mulai banyak mengganti foto profile FB-nya dengan logo ucapan selamat dan bangga jadi santri NW 2017. Itu salah satu contoh kecil saja.

Hal itu membantah hari santri hanya untuk warga NU. Dan kelahiran hari santri saat ini sangat tepat ditengah situasi nasional yang gaduh dengan manuver politik yang menganggu eksistensi pancasila, UUD 45 dan kebhinekaan NKRI. Dan tentu saja ada landasan kesejarahan yang di sebut Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Rais Akbar NU, Syekh KH. Hasyim Asya'ari untuk menyikapi situasi kegentingan Nasional saat itu di Surabaya.

Bagi saya Jokowi adalah politisi yang cerdas, sudah memilih mitra koalisi yang tepat di tengah situasi saat ini. Lahirnya hari santri yang digagas oleh PBNU telah mengembalikan marwah dan kepercayaan diri kaum santri untuk terus menjaga kesatuan bangsa ini dari perongrong dari dalam dan luar termasuk berkiprah lebih luas distruktur pemerintahan dan masyarakat. Apa lagi ketika namanya muncul sebagai kandidat presiden tahun 2014 lalu, dirinya, keluarga dan pembantu-pembantunya kerap diterpa isu negatif. Isu anti Islam, komunis, cina dan lain-lain makin kencang ditimpakan kepada satelah menjadi presiden.

Penasaran melihat tingkah santri dan jamaah berdialog dengan Jokowi. Momen langka bisa berdialog langsung dengan presiden. Hal yang jarang bahkan tidak dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya. Bahkan presiden-presiden setelah Jokowi. Siapakah santri yang ketiban sepeda Jokowi? Kalau tidak ada halangan, hari ini akan terjawab mas .[]

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru