Anak Kampung Yang Tak Kampungan

Pagi itu langit sangat cerah, Awan putih bak kapas yang biasanya menutupi birunya langit semuanya berarak menepi seakan sengaja memberikan jalan buat sang mentari menampakkan diri guna menghangatkan semesta raya beserta segenap isinya. Kicuan burungpun yang dipadu padankan dengan suara semilir angin bagai simponi yang membuat Desa Masmas semakin layak menjadi tempat mencari ketenangan dan kenyamanan.

Habib seorang Pemuda Desa yang lahir, tumbuh, berkembang dan tinggal di Desa Masmas yang kemudian menjadi inisiator terinstallnya Masmas menjadi Desa Wisata, seperti tidak mau kehilangan moment untuk menikmati suasana pagi itu. Ia duduk santai di sebuah berugak (gazebo), yang berada dibelakang rumahnya menghadap ketimur sambil menenteng senuah buku kecil yang ntah apa isinya, tapi kalau melihat covernya jelas tertulis, “Motivasi Dan Nutrisi Nurani” Karya KH. Taufiqul Hakim.

Saat Habib tenggelam dalam suasana damai dan hanyut dalam keindahan semesta raya ciptaan sang pencifta. Sebuah Hp merk, “Prince” yang selalu setia menemaninya berdering yang dengan spontan ditekan tombol terimanya, lalu menekan tombol suara luarnya lantaran speaker dalamnya sudah rusak, dan terdengarlah suara disana dengan cukup jelas, dan terjadilah dialog, sebagai berikut:

Penelphon : “Assalamualaikum warahmatullah, hallo”.

Penerima : “waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh”.

Penelphon : “Ini dengan Habiburrahman di Desa Wisata Masmas?”.

Penerima : “ Ya Benar, Saya Habiburrahman”.

Penelphon : “Habib, ini saya Latofi dari Bima, Saya mau datang ke tempat Bapak”

Penerima : “Ooh ya!. Kapan?”. Kata Habib dengan intonasi yang menggambarkan kegembiraan.

Latofi : “ Saya naik pesawat jam 2, kemungkinan sampai Bandara Lombok Jam 3”

Habib : “Bapak perlu saya jemput”. Demikian kebiasaan Habib selalu menawarkan jemputan pada setiap tamu yang booking.

Latofi : “kayaknya Ia, karena saya masih blank lokasinya dimana dan kearah mana”.

Habib : “Baik, nanti saya akan tunggu Bapak di Bandara jam 3.

Sekalipun itu adalah dialog singkat dan pertama, setidaknya Habib sudah mengenal wajah Pak Latofi  melalui Group WA, “Ikhtiar Sasambo”, yang dikelola oleh admint yang juga menjadi penulis buku handal di NTB, Ia adalah Farid Tolamundu. Penulis muda ini jugalah yang merekomendasikan pak Latofi untuk mencari Habib berdasarkan tulisan-tulisan Habib di Kampung Media yang banyak bercerita soal kiprahnya sendiri dalam melayani setiap tamu yang datang dari mancanegara.

Singkat cerita, pada jam yang sudah disepakati, Habib menjemput tamunya di bandara. Bagi Habib, sekalipun belum pernah ketemu dengan tamunya, namun ia tidak mengalami kesulitan untuk mengenalnya karena postur tubuh pak latofi yang tinggi besar dengan kepala plontos kayak petinju ditambah dengan wajah putih berseri yang dihiasi oleh kumis dan jambang yang lebat membuatnya mudah menemukannya.

Tanpa banyak kalam, Habib segera meluncur membawa tamunya ke Desa Wisata Masmas. Sampai dirumah, Habib juga tidak banyak berbasa basi karena tau kondisi tamunya yang mungkin sedikit kecapaian. Ia bersama istrinya langsung menyuguhkan air minum dan kopi.  Dan belum saja kopinya tuntas habis, istri Habib yang memang sudah biasa menerima tamu, langsung menyuguhkan makan siang.

Setelah selesai menikmati menu makan siang yang khas menu desa, pak Habib mempersilahkan tamunya istirahat sejenak sambil ganti pakaian di kamar yang sudah disiapkan. Selang beberapa menit saja, pak Latofi keluar dan mengajak Habib ngomong di gazebo/berugak sekenam (berugak: tempat duduk-duduk yang terbuat dari kayu,beratap ilalang yang tiangnya 6 buah, makanya disebut sekenam).


Dari omongan tersebut, barulah Habib faham maksud dan tujuan kedatangan pak Latofi sekaligus siapa pak Latofi. Beliau adalah Pria Kelahiran Bima, yang masa kecilnya  sebelum usia sekolah, pernah menetap di lombok karena orang tuanya tugas di Lombok tepatnya di Pancor Selong Lombok Timur. Setelah SLTA beliau melanjutkan pendidikannya di Jakarta. Lalu menetap disana sampai sekarang. Beliau mendirikan yayasan yang khusus menangani CSR dengan nama yayasan La To Fi.

Dalam kerangka kerja yayasannya lah beliau datang kelombok, untuk mengajak Habib berbagi cerita(bahasa lain dari Nara Sumber) di Masyarakat Bondo Bangsri Jepara Jawa Tengah. Karena yayasan latofi sedang mendapat kepercayaan untuk menjadi konsultan terhadap program pemberdayaan Masyarakat Bondo, untuk menjadikan Bondo menjadi Desa Wisata yang dananya ditanggung penuh dengan dana CSR PLN yang berlokasi tidak jauh dari Pantai Bondo. Dan yang menjadi wilayah ring satunya adalah pantai Bondo Sendiri. Sehingga yang paling berhak mendapatkan CSR pertama dan terutama adalah wilayah yang berada di ring satu yang paling dekat yaitu Bondo sendiri.

“Syahid” cerita atau “klu” kata orang bahwa, “Habib, Sang Anak Kampung, yang jangankan dirinya yang memang Pendek, udiq, tidak berwawasan akan dikenal banyak orang, Desanya yang namanya cukup mahal, “Masmas” yang punya wilayah cukup luas, punya view yang exotic, punya kuliner yang rasanya dijamin pasti diminati, Toh juga tidak dikenal banyak orang. Jangankan daerah lain sampai Manca Negara, Desa tetangga saja kadang tidak kenal. Tapi justru karena Habib istiqomah bercerita di Portal kebanggan Warga NTB yang diinisiasi sang Briliant Kampung yang kebetulan memiliki nama Fairuzzabadi yang dikenal dengan Abu Macel. Disitu habib menulis soal semua aktifitas setiap tamu yang datang ke Desa Masmas, Akhirnya Desa Masmas termasuk salah seorang penghuninya yang memiliki nama lengkap Habiburrahman Yusuf Akbar jadi dikenal banyak orang, Bahkan sering diminta berbagi cerita ke berbagai daerah seperti Bandung, Garut, Medan, Aceh Utara, jakarta, Bekasi dan Bari minggu kemarin giliran jepara jawa tengah. Belum lagi dari beberapa pemprov, pemkot dan pemda bahkan pemdes yang datang membawa semua perangkatnya untuk datang ke desa wisata masmas hanya sekedar untuk mendengar cerita dari habib. Sekali lagi itu semua karena berkat kampung media.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru