Bugis-Makassar Di Sumbawa Bima

Suku Bugis-Makassar merupakan dua suku terbesar di Sulawesi Selatan yang selalu menjadi representasi suku perantau. Wajar saja karena semenjak dulu kedua suku tersebut memiliki kemampuan dalam mengarungi samudera. Kemanapun akan merantau, mereka tak akan mundur sebelum berhaasil. Hal inipun dinyataaakan dalam semboyang mereka “bahwa sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai”, sehingga mereka pun selalu dapat berhasil tiba di tujuan. Tak ada kata menyerah, rasa malu atau siriq’ meresap dan menjadi lokomotor penggerak jiwa Bugis Makassar (BM) untuk selalu berjuang hingga titik darah penghabisan.

Merantau bagi suku Bugis-akassar merupakan suatu bentuk tradisi kuno. Semenjak dulu, mereka sudah terbiasa mengarungi dan menjelajahi samudera dengan hanya mengandalkan perahu pinishi. Mereka telah menjadi pelaut ulung pada masa kejayaan armada Sriwijaya di  abad ke-7 M yang telah mampu menaklukkan samudera hingga ke Madagaskar dan negeri-negeri lain yang sangat jauh dengan membawa barang dagangan berupa emas dari Swarnadwipa (Sumatera). Mereka pun juga berhasil bekerja sama dengan pelaut asing yang membantu kekaisaran Cina pada masa lampau dengan berrhasil menjajakan hasil bumi dan peradabannya tersebar ke seantaro bumi.

 
Merantau bagi orang Bugis-Makassar adalah salah satu faktor penunjang mentalitas. Mereka beralasan bahwa dengan merantau mereka dapat meresapi arti hidup yang sebenarnya. Mereka mendapat pengalaman dan ilmu pengetahuan, sehingga mereka merasa cukup dewasa dalam menghadapi berbagai persoalan yang ada.

 

Dalam perantauan, orang Bugis-Makssar selalu mengaharpkan suatu kebebasan. Tidak seperti di daerah asalnya, yaitu pada abad e16 hingga abad ke 18, kekacauan sering didapatkan hingga memilih untuk mencari kebebasan dan keamanan. Inilah salah satu yang membuat diri mereka merantau demi untuk menemukan kembali harga diri. Ataupun memperoleh ketenangan dan kedamaian di negeri rantau.

Orang Bugis banyak menempati daerah rantau seperti Samarinda, Kalimantan Barat, Riau,Tumase’ (Singapura),Johor, dan mereka pun dipimpin oleh para Matoa dagang. Sementara orang Makassar diperkirakan ke daerah-daerah yang pernah ditaklukkan oleh Gowa pada permulaan abad ke-17, yaitu Bima, Sumbawa, Banggai, Timor, Sumba, Dompu, Sanggar, Kutai, Berau, Buton, Muna, Bungku, Solor, Tedak, Manggarai, Limboto, Gorontalo, Tondano dan Sangir, Buru, Tobea dan Bebe. Diperkirakan yang terbanyak dituju ialah Bima dan Sumbawa, karena sejak tahun 1618 terjadi kawin-mawin antara orang Makassar, Bugis dan orang-orang Sumbawa dan Bima. () -05


 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru