Cara Mengelola Informasi

Oleh:
Dr TGH Muhammad Zainul Majdi
Gubernur NTB

Allah memberikan ilmu kepada manusia untuk mengembangkan diri dan meningkatkan keimanan. Kalau ingin mendapatkan ilmu maka hati ini harus bersih dari dosa dan maksiat. Kita pasti menginginkan ilmu bermanfaat. Ini adalah ilmu yang membuahkan rasa takwa kepada Allah. Semakin banyak membaca buku, semakin sadar tentang keterbatasan kita dan kemahakuasaan Allah. Semakin sering mendengar ceramah, semakin dalam keyakinan kita kepada Allah, semakin cinta kepada kebaikan, dan semakin mengharapkan ridha Allah.
Ini ilmu bermanfaat.

Firman Allah yang pertama kali turun adalah seruan untuk membaca, seperti yang termaktub dalam al-Alaq ayat pertama. Ini ada rangkaiannya. Ada syaratnya. Apakah maksud Allah dengan iqra bismi rabbikallazi khalaq. Bukan sembarang membaca, tetapi harus dengan nama Allah. Artinya, kita harus menyaring apa yang kita baca. Sekarang ini adalah masa ilmu pengetahuan banyak sekali. Yang paling dasar adalah informasi atau ma'lumat.
Lalu lintas informasi lebih ramai dari lalu lintas jalan raya. Ada di media sosial, media daring, cetak, visual. Banyak sekali.

Tak terhitung ada berapa informasi yang kita dapatkan setiap saat. Kalau kita menerapkan iqra bismi rabbikalladzi khalaq, maka kita harus menyaring informasi yang ada. Tidak sembarang informasi harus kita serap.
Harus kita pilah-pilah. Informasi yang benar sudah barang tentu harus kita terapkan dan menjadi pengetahuan kita. Jangan sampai kita mendapatkan info yang belum terverifikasi kemudian kita sebarkan ke orang lain.
Islam mengajarkan kepada kita, jangan menyampaikan hal tersebut. Kita tidak boleh menyampaikan sesuatu yang kebenarannya belum pasti atau masih diragukan.

Pendengaran, penglihatan, akal pikiran, semuanya akan dipertanggungjawabkan. Kata Allah, "Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. "(al-Isra:36).

Kata Rasulullah, menjadi pembohong tak sulit. Sampaikan saja apa yang didengar. Tanpa mengklarifikasi, bertabayun, itu sudah menjadi pendusta. Sabda Rasulullah berbunyi, Kafa bil mar'i kadziban ayyuhadditsa bikulli ma sami'a (HR Musim).

Artinya, cukuplah seseorang dikatakan pendusta jika dia membicarakan apa yang dia dengar. Seseorang sekadar membicarakan apa yang dia dengar dari orang lain tanpa klarifikasi, itu sudah menjadi pembohong. Yang ada di pikiran dia sampaikan, walaupun tak sengaja, itu sudah menjadi pendusta. Islam memberikan perangkat kepada kita untuk menyaring berbagai informasi.

Ada tahapan agar sesuatu yang didengar tidak langsung keluar dari mulut. Tidak otomatis keluar begitu saja. Tidak sembarang informasi itu valid. Tidak sembarang ilmu perlu kita cari. Tidak semua ilmu perlu kita pelajari. Yang pelu dipelajari adalah yang langsung atau tidak langsung menunjukkan ketakutan kepada Allah. Kalau ilmu semakin menjauhkan kepada Allah, semakin membuat congkak, maka tinggalkan. Ilmu sihir, misalkan, tak perlu dipelajari. Atau ilmu yang memutus silaturahmi. Ini tidak boleh.

Islam memberikan perangkat kepada kita untuk menyaring berbagai informasi. Ada tahapan agar sesuatu yang didengar tidak langsung keluar dari mulut. Tidak otomatis keluar begitu saja. [] -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru