Segalau Galaunya Hidup

Assalamu’alikum wr wb…

Kesempatan nulis itu banyak. Tinggal pribadi saja yang menentukkan. Kira-kira waktu yang tepat kapan. Dalam 24 jam, ada banyak waktu luang di sana. Untuk pribadi, waktu luang itu banyak. Karena itu, tidak jarang dalam sehari itu bisa nulis, dan bisa post 1 tulisan. Cuma 1? Itu tidak banyak memang. Itu murni mood yang buruk. Mengandalkan mood memang buruk sekali. Walau waktu luang banyak, kadang 1 pun tidak ada yang ditulis. Tragis, kan?

Kenapa harus menulis? Tidak banyak jawabannya. Itu murni karena isi waktu luang yang banyak kosong. Atau, kata lainnya karena tidak ada kerjaan. Cari kerjaan memang sulit. Apalagi yang berpenghasilan banyak. Susah. Gambaran kehidupan memang begitu. Tapi, apa harus mundur untuk hidup ini? Tidak. Itu bukan cerminan hidup seorang muslim. Bagiku, kerja atau tidaknya yang penting berusaha. Berusah cari kerja juga sudah termasuk bekerja. Walau dikatakan tidak menghasilkan apa-apa. Dari pada diam, hayo, mana yang lebih parah?

Kerja dan penghasilan sedikit. Porsi ini kadang tidak adil. Banyak orang yang kerja keras tapi hasilnya hanya bisa untuk makan sehari. Keringat bercucuran seolah tidak ada artinya sama sekali. Beda dengan lainnya, kerja sedikit justeru mendapatkan penghasilan. Gambaran hidup seperti ini drama banget memang. Namun, mau apa lagi. Inilah perputaran kehidupan. Banting tulang. Patah tulang, hingga lainnya, tapi penghasilan tetap sedikit. Menangis? Boleh. Itu lumrah. Sebagai manusia memang memiliki kemampuan untuk menangis. Jadi, jangan disia-siakan kemampuan itu. Melegakan adalah upah dari menangis. Itu mungkin alasan Tuhan menyisipkan kemampuan itu.

Kapan bisa berpenghasilan banyak? Ini ujian. Masih dibutuhkan kerja keras. Tidak semua terlihat indah itu manis. Ada darah yang menetes sehingga mencapai itu. Percaya. Tapi, kenapa kadang hidup itu susah. Gali lubang tutup lubang. Tidak ingin begitu. Tapi, apa mau dikata? Padi sudah menjadi nasi. Apa ujian itu berat? Kenapa tidak menggunakan lembaran? Biar gampang untuk dijawab. Kira-kira soal apa yang membuat ujian itu selalu gagal. Kurang iman? Sepertinya. Tapi, banyak kok yang abai justeru merasa bahagia. Apa mesti contoh mereka, ya.

Hidup itu memang pahit. Pahit seperti pare. Tapi kayaknya pare sekarang tidak begitu pahit. Sepertinya pahit seperti kehilangan seseorang yang dicintai. Menangis lagi, kan? Sepertinya, ini semacam guratan yang sengaja tercipta. Apa Tuhan setega itu pada hambanya? Padahal, doa, selalu tercurahkan. Pagi, siang, hingga malam. Apa tidak ada yang tersampaikan? Katanya, Tuhan itu maha mendengar? Lalu? Astagafirulloh….

Abai. Kenpa aku seabai ini. Seharusnya, seusiaku ini harus memahami kehidupan. Lebih pintar untuk berucap. Kenapa seperti anak SD begini. Mungkin, takaran usia tidak mejamin. Apa karena hal ini Tuhan belum menurunkan aku jodoh? Entah. Yang pasti, aku sadar. Dosaku bertambah. Setiap detik malah bertambah. Sepertinya, bertasbih tidak mampu menggugurkannya. Hai, sekejam itukah aku? Untuk diri sendiri terutama. Tidak. Ini bukan aku. Ini hanya tanganku saja yang bergerak. Ada sesuatu yang menggerogotiku. Setan?

Aku lemah. Maka, seringkali timbul rasa harap pada orang lain. Padahal, ketahuilah, berharap itu sama dengan sakit hati. Parah. Perihnya pun level 10. Itu apa namanya? Sakit yang meliuk-liuk. Namun, inilah lemahnya iman. Tidak sepantasnya aku berharap pada manusia. Salah total. Ke Tuhan? Apa Tuhan tidak pernah mengecewakan? Sepertinya sering. Tapi, Tuhan tahu mana yang terbaik bagi hambanya. Aku? Sebenarnya tahu pasti mana yang baik. Namun, ada saja yang menipu. Bicara manis namun berular. Kadang berbisa. Kadang membelit. Hingga tidak memiliki kemampuan untuk berontak. Jadi, stop berharap. Berharap itu bunuh diri. Percayalah!

Tulisan berapa paragraph ini, anggap saja bukan aku yang menulis. Anggap saja ini sebuah kisah dari seseorang yang tidak ingin namanya tercantum. Kisahnya hanyalah selingan yang tertulis. Jadi, tanpa bermanfaat sama sekali. Hanya sebuah tulisan yang entah enak dibaca atau tidak. Yang penting, kata perkata berubah jadi kalimat. Kalimat pun berubah jadi serangkaian makna yang sebenarnya tidak bermakna sama sekali. Sama sekali!

Jadi, ini apa? Inilah galau segalau galaunya hidup! () -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru