Akhirnya Menjadi Pulau Bungin

Pulau bungin merupakan salah satu pulau yang terletak di kecamatan Alas kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Konon ceritanya, asal terbentuknya pulau ini adalah diawali dengan ditemukannya sebuah daratan kecil yang muncul di permukaan laut, yait dekat Kecamatan Alas Sumbawa. Daratan yang sangat kecil itu adalah berupa pasir putih yang yang sangat indah. Kemunculan sebuah daratan kecil dalam bentuk pasir putih di atas permukaan laut disebut “Bungin” dalam bahasa Bajo. Akhirnya daratan itu dinamakan bungin.

Pelaut asal Sulawesi tersebut membangun sebuah masjid kecil di atas daratan pasir putih yang luasnya hanya berkisar 7 X 8 meter. Adapun ukuran masjid yang dibangun pada waktu itu adalah hanya berukuran 4 X 5 meter persegi. Masjid kecil itu pun diberi nama Masjid Bungin.

Keberadaan masjid kecil di atas gumpalan pasir putih tersebut, akhirnya seorang nelayan bugis lagi mendirikan sebuah rumah panggung di dekat masjid itu. Bangunan rumah panggung tersebut diawali dengan mengumpulkan batu karang dari laut untuk dijadikan sebagai timbunan di tepi lokasi masjid kecil itu. Di atas timbunan batu karang itulah dibangun sebuah rumah panggung. Pada masyarakat nelayan pada waktu itu, ketika akan mampir di masjid itu, mereka pun mengatakan mampir di pulau bungin.

Dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun, pulau ini selalu mengalami perluasan wilayah, dan sampai kini luas wilayah pulau bungin sudah mencapai sekitar tujuh hektar. Salah satu faktor penyebabnya adalah tradisi mengumpulkan batu karang bagi yang ingin membangun rumah di pulau ini. Artinya , mereka pun harus mengumpulkan sejumlah batu karang dari laut untuk dijadikan sebagai bahan timbunan pada tepi pantai, yang lalu kemudian mendirikan rumah panggung adat Sulawesi di atasnya.

Tradisi mengumpulkan batu karang juga diberlakukan bagi penduduk yang ingin melangsungkan perkawinan dan ada niat untukmenetap di pulau tersebut. Inilah yang menyebabkan pulau ini semakin meluas.

Semenjak munculnya pulau bungin di dekat Alas sampai dengan sebelum tahun dua ribu,yang mana ketika orang akan mengunjungi pulau ini harus mempergunakan perahu sampan. Tapi setelah tahun dua ribuan, dari swasembada masyarakat berusaha membuat infrastruktur jalan daratyang menghubungkan antara pulau ini dengan daratan pekampungan yang ada di alas kota, sehingga penduduk yang ada di pulau ini banyak mengalami perubahan, khususnya perubahan sosial di sektor ekonomi dan di sektor pendidikan. Keberadaan akses jalan ini pula menjadi salah satu penyebab dari orang-orang luar untuk membangun rumah di kawasan ini. Membangun rumah di kawasan pulau ini, tentu pula harus menjalankan tradisi mengumpul batu karang dari laut untuk membuat timbunan lokasi tempat tinggal.

Akibat pertumbuhan penduduk di wilayah pulau ini menyebabkan pula kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk di wilayah ini sudah mencapai kurang lebih empat ribu jiwa. Hal ini sudah menunjukkan tidak adanya keseimbangan antara jumlah penduduk dengan lokasi pemukiman.

Mukhsin, selaku kepala desa pulau bungin mengatakan bahwa peningkatan penduduk di pulau ini selalu terjadi. Selain disebabkan oleh nikah dini, juga setiap pasangan yang telah menikan memilki anak yang minimalnya satu orang.Berarti pula bahwa dengan kepadatan penduduk di pulau ini, barang tentu akan mempengaruhi wilayah pulau ini semakin meluas.Tentu warga penduduk  di pulau ini ingin memperluas lokasi rumahnya, atau pun membangun rumah untuk anak-anaknya. Terlebih lagi pembangunan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat setempat. () -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru