Pengalaman Pemuda Pelopor Desa di Jakarta


Lima orang pemuda terbaik Lombok Tengah,
mendapatkan penghargaan dan apresiasi dari pemerintah Lombok Tengah melalui kabag Kesra Pemda Lombok Tengah. Bentuk penghargaan dimaksud adalah kelima pemuda terbaik pada tingkat kabupaten ini didampingi oleh kedelapan Juri Pemuda Pelopor tingkat Kabupaten dipimpin Kabag Humas Pemda Lombok Tengah H. L. Makbul mempertemukan dengan pemuda pelopor terbaik nasional di beberapa bidang yang kebetulan berasal dari Kota Jakarta selatan langsung di Kantor Walikota Jakarta Selatan, untuk kelima pemuda Lombok tengah ini bisa belajar banyak soal hal-hal yang harus dipersiapkan dalam lomba pada tingkat berikutnya yakni tingkat provinsi, dan kalau lolos di tingkat provinsi akan dilanjutkan ke tingkat nasional. Bagaimana kronologi perjalanan ke Jakarta?, berikut laporannya.

“Bagai Rusa Masuk Kampung”, itulah bunyi pepatah yang pernah Saya dengar ketika masih duduk di bangku SD dulu, yang menjadi sindiran bagi orang yang terheran-heran melihat sesuatu, di sini saya ingin mengatakan, “Bagai rusa masuk kota”, sebagai sindiran warga desa dalam hal ini adalah Saya sendiri, (untuk menjaga jangan sampai ada orang lain tersenggung) yang terheran-heran melihat perkembangan Kota.

Sekalipun bukan kali pertama saya menginjakkan kaki di Kota Metropolitan Jakarta, bahkan untuk lebih “gaya” saya ingin mengatakan cukup sering, tapi tetap saja rasa heran dan kagum itu tetap muncul, bagaimana tidak?!, perkembangan kota, nyaris lebih cepat dari putaran waktu, perkembangan tersebut terasa sangat cepat karena disanding dengan perkembangan desa yang stagnan bahkan nyaris mundur ke belakang atau dengan kata lain perkembangan kota sangat berbanding terbalik dengan perkembangan Desa.

Satu diantara sekian banyak perbedaan itu adalah dimana kalau warga desa selalu berusaha memakai baju yang lebih besar dari ukuran badannya, supaya bisa multifungsi yakni disamping menjadi penutup tubuhnya juga bisa menjadi selimut, seperti yang sering dilakukan oleh salah seorang kawan saya yang selalu memakai baju yang ukuran besar, ketika dia duduk dia keluarkan tangannya dari lengan bajunya kemudian ia lipat lututnya untuk kemudian dia masukkan dalam baju alias menjadikan bajunya menjadi selimut. Hal ini justru sangat terbalik dengan warga Jakarta terutama warga Prempuan yang selalu meminjam baju adiknya untuk mendapatkan ukuran yang lebih kecil dari ukuran tubuhnya, sehingga apa yang sesungguhnya harus disembunyikan dengan pakaian, justru dengan bangga dipamerkan. Semakin besar benjolan-benjolan yang muncul justru mereka semakin bangga berlenggak lenggok bahkan mereka tidak ragu-ragu menawarkan di depan umum kepada siapapun yang lewat didepan mereka untuk mereka tidak sekedar dapat melihat tapi juga dapat merasakan keempukannya (Na’uzubillahi min zaalik).


Tapi untuk perimbangan, maka tidak baik juga kalau saya bercerita di satu sisi saja, maka dari itu saya juga ingin mengatakan bahwa ditengah kekejaman ibu kota yang melebihi kekejaman ibu tiri,demikian kata banyak orang. ternyata masih banyak warga yang justru sangat peduli dengan soal-soal keagamaan, seperti yang saya lihat pada malam jumat, tepatnya di lingkaran Monas, disini tengah dipersiapkan sebuah panggung yang sangat megah yang dilatarnya bertuliskan Isrok mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW 1436 H., tidak Cuma itu, lapangan yang begitu luas sudah dijubeli oleh jamaah laki dan prempuan dengan pakaian yang sangat islami untuk mengikuti pengajian yang sebentar lagi akan digelar, bahkan sepanjang jalan, muslim dan muslimah sejati berduyun-duyun ingin memadati lapangan guna mendengar uraian hikmah Isro’ Mi’raj. Cuma sayang!, saya tidak bisa mendapatkan keterangan tentang siapa yang menjadi penceramah karena sebelum acara dimulai kami sudah diajak pulang ke penginapan oleh ketua rombongan, sebagaimana saya juga tidak bisa mendokumentasikan jubelan jamaah yang memadati lapangan monas tersebut karena saya tidak bawa kamera.

Oo ya kawan, saya hampir lupa menceritakan bahwa tujuan saya bersama rombongan yang berjumlah 21 orang adalah dalam rangka menjalankan tugas Negara (hehe, buat gaya-gaya) yakni menjadi tukang bawa sandal dan tas pada kegiatan study banding pemuda pelopor terbaik satu Lombok Tengah pada lima bidang yang di lombakan, kelima pemuda terbaik tersebut satu diantaranya adalah coordinator Kampung Media Al-Hikmah yaitu Harnadi Hajri yang berhasil menjadi juara satu, bidang Tehnologi dan Informasi sebagai wakil dari Batukliang, yang kedua adalah wakil dari Batukliang Utara atas nama Yulia Mariana, S. Pd. yang mengambil bidang pangan dan kesehatan, disusul ketiga, adalah terbaik satu bidang pendidikan yaitu Norma Yunita dari Pujut, berikutnya adalah Mustiadi Susanto, S. Pd. dari Beleke Praya Timur bidang Bela Negara, terakhir adalah Ahyar Rosyidi yang telah berhasil menjadi terbaik satu Lombok Tengah bidang Wira Usaha yaitu pengembangan budidaya ikan dengan sistim keramba di mbung Batujai (Bendungan Batujai).


Sebagai catatan, bahwa kelima pemuda pelopor terbaik ini adalah merupakan hasil seleksi yang dilakukan dewan juri yang terdari beberapa SKPD dan dua orang pemuda pelopor terbaik nasional pada dua tahun sebelumnya melalui seleksi yang sangat ketat yakni dengan cara turun langsung kepalangan selama lebih kurang satu bulan.

Tujuan mengajak para nominator study banding ke kota-kota yang pernah mencetak pemuda pelopor terbaik nasional adalah sebagai pembelajaran buat para nominator untuk mengetahui banyak hal terkait dengan persiapan mereka pada tahapan berikutnya nanti, yakni di tingkat provinsi untuk kemudian kalau lolos akan dilanjutkan ke tingkat nasional. [] - 05

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru