Kreasi Tiada Henti

ITULAH UNGKAPAN yang pantas di sandangkan pada prestasi para siswa-siswi SMPN 3 Kopang yang tiada hari tanpa ide dan kreasi. Selalu saja ada ide-ide baru muncul saat momentum-momentum penting akan datang, bukan hanya sekedar “gugur kewajiban”. Bagi mereka setiap momentum adalah ajang belajar, maka kesempatan itu tidak akan lewat begitu saja tanpa kejutan dan kesan mendalam.

OSIS sebagai pioneer sekaligus mobilisatornya, senantiasa progresif dalam gerak dan langkah kerja mereka. Setiap potensi yang ada, akan berusaha digali dan diberikan kesempatan untuk berkembang dan muncul sebagai warna dalam setiap moment kegiatan. Meskipun seringkali langkah massif mereka terkendala pendanaan, namun itu menjadi motivasi mereka untuk belajar bagaimana memecahkan masalah dan menerobos segala bentuk halangan dan tantangan. Tidak jarang pengorbanan materi bagi para pioneer mengalir dari kantong tipis mereka, dan sesekali mereka meminta bantuan kepada teman-teman mereka para siswa-siswi yang peduli dengan kesungguhan mereka untuk berkreasi tanpa basa-basi.

Untuk mengisi setiap momentum sebagaimana yang di ulas di atas, Teater Club selalu menjadi warna paling mencolok dalam setiap kegiatan. Berkolaborasi dengan group kasidah, para karateka, pramuka, mereka mampu meramu setiap momentum sesuai dengan situasi, kondisi dan kebutuhan acara. Terlebih pada acara puncak pelepasan kelas IX (sembilan).

Untuk mencetak generasi baru menjadi kreator-kreator baru, setelah para kreator lama dari kelas IX lulus, pembina OSIS senantiasa melaksanakan pembinaan secara berkala setiap triwulan dan reguler sesuai kebutuhan.

Bagi para pembina yang kreatif, belajar dan pembelajaran tidaklah berhenti hanya sebatas teori-teori yang diajarkan di kelas. Tetapi yang ter-penting adalah bagaimana peserta didik diarahkan untuk menemukan jati diri mereka sehingga lepas dan bebas berkreasi membangun masa depan mereka sesuai karakter dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan nenek moyang kita pada bangsa dan generasi mendatang.

Jika anak bangsa hanya dijejali dengan menguasai dan menghafal materi, mendapatkan nilai 100 dalam raport, tanpa bimbingan yang menngarah pada kepribadian dan akhlakul karimah, maka tunggulah saatnya dimana bangsa ini akan dipenuhi oleh para koruptor yang hanya cerdas di otak namun tidak cerdas di hati, akan hanya mementingkan golongan dan diri sendiri, menjadikan politik sebagai alat kejahatan bukan untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Maka untuk mang-antisipasi lahirnya anak bangsa yang MUNAFIK, maka berilah ruang gerak luas dan fasilitasi daya kreasi mereka dengan dana yang layak buat mereka dan bimbinglah mereka dengan keteladanan, bukan OMONG KOSONG yang penuh dengan kepentingan pribadi.

Sungguh kasihan dengan Ibu Pertiwi-ku, anak-anakmu telah menjual nama besarmu, mainan lucu yang kau berikan telah mereka jadikan lelucon dimeja makan, telah mereka jadikan keset di hotel-hotel berbintang....sungguh sangat pandai mereka bersandiwara. ( paragraf terakhir ini, akan di ulas penulis pada opini mendatang dengan judulUndang-Undang Versus Andang-Andang” ). hery [] - 05

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru