Komisi II Temukan Tumpukan Pupuk Bersubsidi


KM-Madapangga—Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Bima melakukan monitoring dan evaluasi (Moniv) mendadak terkait pendistribusian pupuk Urea yang terjadi di tingkat pengecer. Moniv tersebut dilakukan menyusul adanya laporan masyarakat (petani) akan sulitnya (langka) mendapatkan pupuk bersubsidi. Bahkan harga jual pupuk tersebut dinilai melenceng dari Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sebelumnya sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Misalnya di Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima-NTB. anggota Komisi II menemukan puluhan karung pupuk bersubsidi yang masih tersimpan rapi dalam gudang milik pengecer UD Nurul di Desa Rade, Jum’at (9/1/2015). Temuan langsung oleh anggota Komisi II DPRD tersebut menjadi kuat dugaan adanya praktek penimbunan pupuk bersubsidi di wilayah tersebut. Ironisnya, di tempat itu, pengecer sempat mengeluarkan nada tinggi ketika ditanya baik-baik oleh salah satu anggota Komisi II. 
Selain temuan itu, anggota Komisi II juga mendapat pengakuan langsung dari pengecer terkait harga jual pupuk urea yang dijual pada petani. Seperti diakui pemilik UD Sabalong Desa Bolo Kecamatan Madapangga. Pupuk berlabel subsidi tersebut dijual seharga Rp100 ribu per zak. Padahal, harga subsidi dijual di tingkat pengecer hanya Rp90 ribu. Dua pengecer yang menjadi temuan Komisi II tersebut dibawa kendali Distributor CV Lawa Mori.
Setelah mengevaluasi dari pengecer ke pengecer, sejumlah anggota Komisi II tersebut bertolak menuju salah satu RM di cabang Donggo-Sila. Mereka didampingi Distributor dari UD Rahmawati dan CV Lawa Mori. 
Sebelumnya, anggota Komisi II melihat langsung stock pupuk yang disimpan di gudang milik KUD Sumber Jaya, sebelah barat GSP Dolog Madapangga. Gudang tersebut di kontrak oleh PT Pupuk Kaltim sebagai salah satu tempat penyimpanan stock pupuk di Kabupaten Bima. 
Menurut M Hariyadi, stock pupuk di gudang itu diperkirakan masih 600 ton. Jumlah tersebut masih akan memenuhi kebutuhan petani kedepan. Hanya saja, saat ini diakui bahwa penggunaan pupuk Urea dinilai sudah melebihi dari kebutuhan tanaman. “Petani semestinya dapat sesuaikan pemanfaatan pupuk yang berdasarkan luas lahan yang digarap,” ujarnya disela-sela kegiatan Moniv.(muhsen) - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru