Menembus Badai

KM Sambang Kampung- Akhir tahun 2014 ini bertepatan dengan datangnya musim hujan. Musim hujan memang diprediksi mulai bulan Desember sehingga berbagai persiapan dilakukan oleh setiap orang untuk menghadapi keadaan ekonomi yang kemungkinan akan mengalami kesulitan apabila musim hajan telah tiba. Bagi petani musim hujan merupakan awal untuk bercocok tanam, namun bagi pedagang mungkin musim hujan akan menjadi kendala untuk beraktivitas.

Salah seorang pedagang cilok yang sehari-harinya mangkal di depan tugu kota Selong yaitu Suharni merasakan dampak musim hujan dalam menjalankan usahanya. Wanita dua anak ini harus terus berjualan ditengah hujan lebat disertai petir yang mengguyur kota Selong. Dalam kondisi hujan lebat seperti itu dia terus bertahan menunggu rombong cilok yang bertuliskan cilok Pak Ahyar. Modal jas hujan dan tutup kepala dari kertas keresek dia duduk disamping rombong ciloknya, dia terlihat sangat kedinginan namun ketika pembeli menghampiri dan membeli ciloknya dengan semangat dia melayani pembelinya.

Sungguh perjuangan seorang wanita demi menghidupkan keluarganya, sebagai tulang punggung keluarga dia harus mampu bertahan dalam berbagai macam kondisi  cuaca, baik hujan maupun panas. Menurut Suharni menjual cilok adalah pilihan satu-satunya untuk dapat membiayai kebutuhan hidup rumah tangga saya, suami saya juga berjualan cilok keliling, saya harus membantu suami saya mencari nafkah demi kelancaran sekolah anak-anak kami.

Hal ini merupakan sebuah perjuangan hidup seorang wanita yang mempunyai semangat untuk menyekolahkan buah hatinya demi masa depan yang lebih baik. Hujan maupun panas tidak dihiraukan demi mendapatkan hasil jualan cilok. Kondisi cuaca tidak menghalangi aktivitasnya untuk bekerja, semoga harapan yang dia impikan dapat terwujud. (Uyik) - 05

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru