Potret Kelam Dunia Hiburan

KM. Sukamulia – Rasanya tidak adil jika selama ini penulis hanya memberikan informasi yang bernilai fositif saja dan mengabaikan atau mencoba menyembunyikan pengalaman negatif yang penulis temukan di lapangan. Penulis juga sangat tidak senang dengan ketidak adilan dan sebab itulah penulis memandang penting untuk menyampaikan sesuatu yang bernilai negatif sebab siapa tahu sesuatu yang bernilai negatif itu dapat kita jadikan sebagai suatu pelajaran yang berharga untuk membangun diri dan daerah kita. Prinsip itulah yang kemudian menyebabkan penulis memberanikan diri untuk menyampaikan informasi yang terkait dengan retorika dunia hiburan yang terdapat di daerah kita ini.

Berawal dari rasa penasaran atas cerita dari beberapa orang kawan saya yang sering menikmati dunia clabers. Mereka menceritakan kepada saya tentang kenikmatan-kenikmatan dunia yang ditawarkan di berbagai tempat hiburan yang terdapat di beberapa tempat wisata yang ada di daerah kita (pulau Lombok). Teman-teman saya itu bercerita tentang dunia calbers yang sangat texas dan eksotis, mereka juga bercerita bagaiman pemandangan naïf yang selalu dihidangkan di berbagai tempat hiburan, terutama tempat-tempat hiburan malam. Mereka bercerita tentang indahnya pesta miras dan narkotika serta indahnya tubuh perempuan-perempuan nakal yang menjual dijual dengan harga yang begitu mura.

Jujur saja, penulis belum pernah menikmati dunia seperti yang diceritakan oleh mereka, memang sich penulis sering menonton film dan tayangan-tayangan televisi yang tidak jauh berbeda dengan apa yang diceritakan oleh mereka namun penulis berfikir bahwa itu hanyalah sekenario yang disusun oleh sutradara dan penulis juga berfikir bahwa hal semacam itu hanya terdapat di kota-kota besar yang ada di wilayah Jawa, Sumatra dan luar negeri. Cerita dari kawan-kawan penulis itu menggelitik otak nakal penulis,  rasa tidak percaya yang berkecamuk dalam otak dan dada penulis ahirnya menggiring penulis untuk melakukan ekpedisi guna menjajaki dan membuktikan cerita-cerita tersebut.

Waktu liburan adalah saat yang tepat untuk penulis melaksanakan ekpedisi sehingga liburan kali ini penulis gunakan untuk menjajaki kebenaran cerita tentang dunia hiburan di sekitar pulau Lombok yang kita cintai ini. Ekpedisi ini penulis laksanakan sejak hari Selasa tanggal 23 Desember 2014 hingga hari Kamis tanggal 24 Desember 2014. Supaya ekpedisi ini tidak mencurigakan maka penulis berpenampilan seperti anak calbers, beberapa tempat hiburan penulis jajali satu persatu. Penulis memulai dari wilayah tengah, barat, utara dan ekpedisi ini penulis ahiri di beberapa tempat hiburan yang ada di wilayah Lotim.

Tiga hari dua malam penulis menjajali dunia hiburan hanya untuk membuktikan cerita yang penulis dapatkan dari beberapa orang kawan dan ternyata apa yang mereka ceritakan itu benar adanya. Awalnya sich penulis tidak percaya dengan hal itu namun apa hendak dikata, penulis menyaksikan hal itu dengan kedua bola mata penulis yang juga memang tidak pakai kaca mata. Dengan mata telanjang penulis mengamati aktifitas yang dilakukan di tempat-tempat hiburan, baik pada saat pagi, siang, sora ataupun malam hari. Ekpedisi itu kemudian membuahkan suatu kesimpulan “Potret Kelam Dunia Hiburan”.

Lombok dan pulau-pulau lainnya ternyata sama saja jika dikaji dari aspek hiburan, terutama di daerah-daerah pariwisata. Sungguh benar katanya orang bijak, kebaikan itu tidak lepas dari keburukan dan keburukan itu tidak pernah lepas dari kebaika. Lombok Pulau Seribu Masjid, itulah julukan pulau kecil yang sangat kita cintai ini namun sayang disebalik itu terdapat juga tempat-tempat hiburan yang mungkin lebih ramai dari pada masjid di kampung kita. Penulis betul-betul menyaksikan bagaimana aktifitas tempat hiburan yang memproduksi dosa, sungguh luar biasa.

Jika kita lihat dari luar, tempat-tempat hiburan malam itu memang kelihatannya sepi tetapi di dalamnya terdapat banyak sekali aktifitas yang dimana semua aktifitas itu memproduksi dosa. Di beberapa tempat hiburan yang penulis jadikan sempel, penulis menyaksikan anak-anak muda berpesta miras dan narkoba, penulis juga menyaksikan gadis-gadis cantik yang menjajakan diri dengan pesona yang luar biasa dan yang paling pemandangan paling naïf yang penulis temukan adalah anak-anak usia sekolah yang dijajakan oleh germo dan orang-orang berusia senja yang masih sempat-sempatnya melakukan pesta miras serta melampiaskan birahinya dengan membeli perempuan-perempuan malam.

Hati penulis miris menyaksikan penari-penari clab yang begitu seksinya, dengan bangga mereka menari dan menuangkan minuman digelas kaca para pengunjung clab, mereka juga tidak marak ketika dipeluk atau dicum dan diraba oleh laki-laki yang minum di seklilingnya. Sekali lagi ini betul-betul pengalaman yang luar biasa bagi penulis sebab selama ini penulis tidak pernah menyaksikan langsung kegiatan-kegiatan yang seperti itu.

Rasa penasaran penulis tidak habis-habis, mengapa anak-anak usia sekolah itu mau menjual diri dan mengapa pula mereka sampai di dunia gelap itu. Pertanyaan itu kemudian membawa penulis untuk mencoba mencari jawabannya dan ahirnya penulis mencoba mendalami dunia mereka. Di beberapa tempat hiburan, penulis memberanikan diri untuk menyewa mereka dengan tujuan untuk mengorek informasi supaya pertanyaan tadi terjawab. Penulis tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk berbuat yang tidak-tidak, waktu bersama mereka hanya penulis gunakan untuk ngobrol dan mengorek keterangan dari mereka.

Keterangan yang penulis dapatkan dari beberapa orang wanita malam di tempat hiburan yang berbeda ternyata lumayan beragam. Mereka juga cukup sulit untuk memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi namun demikian penulis terus melontaran pertanyaan itu. Seorang wanita penghibur yang cukup belia menyatakan bahwa ia terlibat dalam dunia malam dan menjadi kupu-kupu malam sebab ia pernah diperkosa oleh orang tuanya sendiri, peristiwa itu membuatnya stress dan ahirnya ia memutuskan untuk bekerja sebagai kupu-kupu malam dan sekarang pekerjaan itu membuatnya nyaman.

Di lokasi yang lain penulis mengorek keterangan dari seorang perempuan malam yang juga masih berusia belia, gadis cantik itu menyatakan bahwa ia terlibat dalam dunia hitam karena dijebak oleh temannya. Seorang lagi menyatakan hal yang berbeda, dimana ia terlibat dalam dunia malam karena dijual oleh orang tuanya demi memenuhi kebutuhan ekonomi  keluarga mereka. Di tempat yang sama penulis juga mendapatkan keterangan dari seorang gadis malam yang usianya sudah lumayan, ia menyatakan bahwa keterlibatannya dalam dunia seperti itu disebabkan oleh hobbi dan ia juga mengatakan bahwa sebagian besar kawan-kawan seprofesinya melakukan pekerjaan itu karena hobbi. Lalu bagaimana dengan orang tua kalian ? tanya saya. Sebagaian besar orang tua kami tidak mengetahui pekerjaan kami ini, jawab mereka.

Selain mengorek keterangan dari wanita penghibur, penulis juga mencari keterangan dari para pengunjung di beberapa tempat hiburan. Jawaban mereka juga berbeda-beda, ada yang mengatakan bahwa keterlibatannya di dunia hiburan disebabkan oleh hobbi. Seorang laki-laki berusia senja menyatakan bahwa ia sering masuk clab dan menikmati tubuh wanita-wanita penghibur sebab alasan tidak puas atas pelayanan istrinya. Satu jawaban bodoh juga penulis temukan dimana ia sering ke clab karena seteres sebab diputusin oleh pacarnya. Ada juga jawaban konyol, malu sama teman-temannya. Hahaaaaaa ada-ada saja ea kawan.

Masih banyak cerita yang penulis dapatkan selama menjajali dunia hiburan di beberapa termpat yang ada di pulau Lombok ini namun cukuplah ini yang penulis sampaikan sebagai gambaaran bagi kita semua bahwa di derah kita ini ternyata terdapat tempat-tempat perdagangan miras dan wanita yang legal. Tempat hiburan memang perlu dan juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia kepariwisataan namun pemerintah atau pihak terkait juga perlu melakukan pengawasan terhadap tempat-tempat hiburan itu supaya tempat tersebut tidak terlalu menjajakan dosa dan kemaksiatan.

Penulis melakukan ekspedisi itu daam keadaan sadar dan dengan satu tujuan supaya kita semua mengetahui hal itu dan kiranya bisa menghindari tempat-tempat hiburan supaya kita tidak terjebak dalam dunia yang kelam. Ahir kata penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya atas tulisan isi tulisan ini. Harapan penulis, semoga pemerintah dan pihak-pihak terkait dapat melakukan pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di tempat hiburan supaya nama baik daerah kita tetap terjaga. [] - 05

_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru