Akibat Luka Batin

Mungkin anda pernah merasa kecewa karena ditinggal kawin oleh seseorang yang amat dicintai, sehingga batin anda terluka. Ataukah di saat anda masih kecil kedua orang tua berpisah, sehingga anda sangat kecewa. Ataukah juga anda telah mengalami pelecehan seksual pada seseorang ketika anda masih remaja, sehingga anda merasa kecewa pada diri anda, yang akhirnya anda sangat malu dan tidak mau bergaul lagi dengan orang-orang. Selain itu, mungkin anda pernah melihat sesuatu menyeramkan seperti melihat mahlus aneh, sehingga anda sangat ketakutan dan mengalami histeris?

Kejadian-kejadian seperti di atas dapat membuat diri kita berada pada suatu titik traumatis. Tentu anda sudah paham istilah tramatis bukan? Belum atau sudah saya akan jelaskan di depan anda.

Istilah trauma adalah suatu kata yang cukup familer di telinga kita. Istilah ini sering dipakai oleh orang dalam konteks kalimat yang serius, ataupun dalam konteks kalaimat bercanda. Misalkan seorang yang tidak senang melihat orang pacaran, akan berkata “ gue trauma melihat orang pacaran”; ketika seorang diundang dalam suatu acara perkawinan, akan keluar kalimat “idih, guwe gak senang yang namanya  acara perkawinan, guwe trauma”.

Agar anda lebih paham lagi tentang trauma, saya berikan contoh lain dalam bentuk kalimat, yaitu “mas guwe trauma lihat laut,” ya mungkin takut melihat laut karena pernah mengalami kecelakaan di laut, atau melihat orang tenggelam di laut. “Mas saya gak bisa diantar pakai sepeda motor, saya truma,”mungkin saja dia pernah jatuh dari sepeda motor, atau melihat orang lain jatuh dari sepeda motor, sehingga dia tidak ingin naik sepeda motor.

Menyimak beberapa contoh kalimat trauma di atas, apa sebenarnya trauma itu? Trauma dapat juga  diartikan luka batin. Untuk lebih jelasnya, anda harus paham bahwa trauma tidak kasatmata. Trauma tidak dapat dilihat pada setiap orang. Tidak seperti jika seorang yang jatuh atau tabrakan dan mengalami luka pada salah satu anggota tubuhnya, itu dapat dilhat. Seseorang yang mengalami luka batin, mana kita tahu,tidak dapat dilihat secara langsung, bahkan orang yang mengalami luka batin pun, terkadang tidak mengeanal lukanya sendiri. Intinya, trauma dapat disebut luka yang ada dalam batin, atau luka batin.

Dalam kajian psikologis, luka yang ada dalam batin atau trauma  sangat terkait dengan penglaman-pengalaman yang mengejutkan, tidak diharapkan, namun sangat menyakitkan dan memilki dampak yang serius, dan dapat berlangsung dalam jangka waktu lama. Pada ketika itu, dampak serius dari luka batin tidak disadari, dan tidak juga muncul seketika pada waktu itu. Bahayanya, trauma ini dapat berakibat pada penurunan kondisi fisik atau tubuh, karena suatu alasan bahwa di dalam suatu kondisi psikis (jiwa/batin)  yang mengalami gangguan dapat memberi pengaruh pada kondisi fisik atau tubuh. Seseorang yang memilki perasaan takut yang tinggi dan ketidak berdayaan, besar kemungkinan mengalami tramatis dan mudah sakit.

Suatu peristiwa yang memilki tekanan yang dasyat memungkinkan menjadi traumatis jika peristiwa itu terjadi secara tiba-tiba pada diri kita, dan di mana kita tidak siap untuk menerima kejadian atau peristiwa itu, akhirnya tidak ada daya untuk mencegah peristiwa itu. Sebut saja salah satu contohnya adalah ketika seorang anak yang menyaksikan perceraian dari ke dua orang tuanya, sehingga mengalami suatu kekecewaan yang sangat berat atau sangat terpukul batinnya. Seorang anak laki-laki yang mengalami hal seperti ini, akan mempengaruhi cara pergaulannya. Anak seperti ini lebih cenderung memilih teman perempuan sebagai teman permainan ketimbang teman prianya. Ketika sudah beranjak remaja, dalam arti memasuki usia puberitas, dia akan lebih cenderung menyukai seorang pria dibanding perempuan, bahkan dia akan memanjakan dirinya pada teman prianya karena tidak mendapatkan rasa kasih sayang dari seorang bapak di waktu kecil. Bagi anak perempuan yang mengalami hal serupa ini, ada kalanya ketika memasuki usia remaja memilki perasaan benci pada kaum pria karena sangat dendam pada seorang bapak yang meninggalkan ibunya. bahkan dia merasa benci melihat temannya yang memiliki keharmonisan dengan keluarga.  

Suatu peristiwa atau kejadian yang terjadi secara berulang-ulang, merupakan suatu hal yang dapat menyebabkan traumatis pada seseorang. Seorang anak yang setiap harinya mendapatkan pukulan secara fisik dari orang tuanya, ini dapat menyebabkan anak tersebut memiliki rasa ketakutan, kehilangan semangat. Bahaya dari kejadian ini, seorang anak dapat menjadi minder atau kurang percaya diri, pemalu,suka meyendiri, kurang mampu berkreatif. Lebih ekstrimnya lagi, anak seperti ini ketika sudah menjadi remaja, akan mudah terpengaruh lingkungan yang dapat lebih merusak keperibadiannya, misalnya beresentuhan dengan minuman beralkohol, selalu merasa aman dan nyaman ketika menkomsumsi obat penenang, atau berbagai perbuatan yang asusila.

Peristiwa lain yang sengaja dilakukan oleh orang dan sangat mengecewakan diri adalah ketika seorang anak remaja yang mengalami pelecehan seksual. Kejadian serupa ini juga dapat membuat pada seorang korban minder, selalu ketakutan, bahkan ketika melihat seorang pria dia berlari ketakutan sambil menangis. Hal ini terjadi karena mengingat masa lalu yang sangat mengecewakan dirinya. Lebih ekstremnya lagi dapat menjadikan seorang korban mengalami depresi. Depresi adalah penyakit perasaan, yang ditandai dengan perasaan sedih, yang berlebihan, mudah kecewa, kurang semangat, merasa tidak ada yang sayang, merasa tidak berharga, tidak punya harapan, sulit merawat diri, menyalahkan diri sendiri, sering iri pada orang sekitar.

 Di sisi lain, saya sampaikan juga bahwa gejala-gejala atau simtom emosional dan fisik dari trauma yang gampang dilihat antara lain : merasa sulit untuk tidur, sangat mudah terkejut, sensitive terhadap cahaya dan suara yang tiba-tiba terdengar, takut akan bahaya atau pada musibah , suasana hati terkadang gelisah, terkadang juga marah. Selain itu, terkadang perasaan senang, merasa sedih tanpa tanpa diketahui penyebabnya, bahkan terkadang ada rasa ingin menangis. Gejalan simtom emosional lain pada orang yang dilanda traumatis adalah prilaku  cuek, bahkan menarik diri dari orang lain atau lingkungan sekitar. Juga sering mimpi buruk, merasa capek atau kurang energi, otot-otot sering tegang, tangan atau tubuh  gemetar, cepat mengeluarkan keringat, terkadang merasa bingung, dan sulit konsentrasi pada suatu obyek.

Saya bukan ahli psikologi, tapi saya banyak membaca buku psikologi dan sering mengamati dan bincang-bincang dengan orang-orang yang dilanda traumatis, sehingga saya bisa menulis beberapa gejala sintom emosional pada seorang yang mengalami traumatis seperti yang dia atas, dan beberapa lagi saya akan kemukakan, yakni seorang yang mengalami traumatis memilki kesukaan untuk menyalahkan diri, ada perasaan tidak layak untuk bekerja tentang apa saja atau mersa tidak layak menhadapi orang-orang sekitar, malu, sulit mempertahankan hubungan yang harmonis, merasa sendiri di dunia, jantung sering berdebar-debar, sering merasa ketakutan, suka membela identitas. Namun yang paling berbahaya adalah terkadang ingin bunuh diri.

Tidak semua peristiwa traumatis mengarah pada gangguan emosional maupun psikologis yang permanen. Banyak orang mampu menyembuhkan atau melupakan kejadian atau peristiwa yang paling traumatis yang mengejutkan. Sebagian lainnya tidak mampu menmghapus ataumelupakannya, namun mereka tetap tampil dengan normal saja dan mereka tidak akan membicarakan pada orang-orang.

Traumatis juga dapat terjadi pada seseorang yang mengalami  kejadian baru jika pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Kejadian atau peristiwa masa lalu pada seorang anak remaja yang sangat kecewa dalam pemutusan cinta oleh kekasihnya dapat  melukai batinnya. Masa lalu itu memang telah terlupakan, namun tatkala kemudian muncul peristiwa atau kejadian baru yang serupa, ini dapat lebih mencekam lagi pada batin.

Trauma pada masa kecil sangat berbahaya.Dapat memberi pengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan fisik anak, dan akan berlangsung lama. Olehnya itu ada beberapa beberapa penyebab trauma masa kecil yang saya ketahui adalah lingkungan tidak aman dan tidak stabil, pisah orang tua, penyakit serius, prosedur medis yang mengganggu, kekerasan seks, kekerasan  fisik, kekerasan verbal (kata-kata), kekerasan dalam rumah tangga, pengabaian atau perbedaan perlakuan, gempa bumi, banjir, kebakaran dan tsunami. Selain itu, karena kecelakaan fisik, kekerasan kriminal, pemerkosaan, perampokan, saksi mata pada bunuh diri, hadir di saat perang atau perkelahian yang sadis, melihat mahluk aneh yang menyeramkan.

Selain Penyebab traumatis seperti yang diungkapakan di atas, dapat pula kita melihat tanda-tanda yang dimiliki pada seorang anak yang mengalami luka batin atau trauma, antara lain adalah anak menjadi pemalu, patuh atau penurut, kurang percaya diri, suka menyendiri, cemas, terkadang secara tiba-tiba menunjukkan ledakan tangisan, terkadang melampiaskan kekejaman pada orang lain atau hewan, sering mimpi buruk, suka mengotori tempat tidurnya, berprilaku lebih muda  atau lebih tua dari umur yang sebenarnya, begitu pun juga dapat memiliki perekembangn psikis yang terlambat.

Sedangkan tanda-tanda traumatis atau luka batin pada remaja atau orang dewasa adalah kekurangan energi, terkadang merasa kebingungan, kurang konsentrasi, cenderung merasa harga diri rendah, menunjukkan depresi yang ekstrem, kurang motivasi untuk mebenarkan kesalahan, suka berputus asa, mengabaikan kesehatan dan penampilan,  selau merasa sedih dan menyendiri, selalu menangis, selalu menghindar dari teman dan keluarga, suka merahasiakan sesuatu, merasa tidak ada orang yang mau dengar kata-katanya, sering mengeluh karena sakit perut atau kepala, mempunyai ledakan kemarahan yang histeris dan prilaku perusak, merasa sulit untuk tidur,  merasa nyaman bila mengkomsumsi alkohol atau obat penenang, pola makan tidak teratur, kurang nafsu makan, terkadang kuat makan hingga naik berat badan, memakan sekaligus membuangnya(bulimia), pesimis, terkadang ingin bunuh diri, pergi meninggalkan keluarga, melakukan hal asusila.

Siapapun orangnya ketika mengalami luka batin yang disebabkan oleh beberapa hal, akan memilki suatu dampak psikologis, antara lain : menjadi rendah diri, merasa diri tidak berharga dalam hidupnya, malu menghadapi orang-orang sekitar, menyimpan kemarahan dalam hati, ada kesulitan untuk menyampaikan kemarahan pada seseorang, dalam dirinya penuh dengan rasa kebencian, merasa hidupnya sangat pahit, tidak ingin mengalami kegagalan, perasaan tidak nyaman dan aman, tidak mau dikecewakan dan kalaupun ditolak sama orang dia akan berusaha untuk mencapai keinginannya, suka merahasiakan identitas diri yang sebenarnya, dan depresi.

 Selain dampak psikologis pada luka batin, dapat juga kita melihat dampak sosiologinya, antara lain adalah selalu menarik diri dari kumpulan orang-orang, merasa canggung berbicara dengan orang yang baru dikenal, terlebih ketika berada di depan forum atau orang banyak, selalu berpikir negative atau berprsangka buruk, suka merahasiakan sesuatu hal termasuk pribadi yang sebenarnya, tingkat seksualitas kurang stabil, memilki prilaku kekanak-kanakan. Selain itu, selalu menjauh dari permasalahan, cenderung tidak mau bertanggung jawab, suka menyalahkan diri sendiri, memilki prilaku narsis, berupaya berkelakuan baik  pada orang dengan menyembunyikan kelemahannya.

Pada orang yang mengalami luka batin atau trauma, terkadang dia menganggap Tuhan itu tidak adil pada dirinya, sehingga tidak mau menjalankan ibadah kepada Tuhan. Sedangkan secara badaniah, di mana orang yang mengalami luka batin, akan mengalami gangguan pada fisik. Perasaan gelisah dan sulit tidur akan menyebabkan tekanan darah rendah, dan berpengaruh pada kurang nafsu makan, yang tentu berpengaruh pula pada kondisi perut yang tidak stabil, sakit kepala. Ada banyak gangguan fisik dari luka batin yang menimbulkan kegelisahan adalah biasanya gangguan pernafasan, gatal-gatal, gangguan pencernaa, dll. [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru