Petani Kangkung dan Kali Jangkuk

Kali Jangkuk menjadi salah satu kali besar yang membelah kota Mataram. Aliran kali ini, memberi manfaat bagi para petani kangkung, dan beberapa petani keramba yang memanfaatkan aliran kali untuk sebagai tempat melakukan budidaya. Petani kangkung misalnya, mereka memanfaatkan aliran Kali Jangkuk yang tenang sebagai tempat membudidayakan kangkung. Kangkung Kali Jangkuk terkenal dengan kualitas terbaiknya. Ada dua jenis kangkung yang terkenal berkualitas di Lombok. Yang pertama kangkung di kali Jangkuk, kangkung ini dipelihara secara alamiah di aliran kali. Yang ke dua adalah kangkung Pesongoran. Kangkung Pesongoran dibudidaya di tempat khusus dengan perlakuan tertentu. Berbeda dengan kangkung kali Jangkuk yang memanfaatkan musim panas untuk melakukan penanaman. Kangkung yang di jual di pasar Kebon Roek banyak berasal dari hasil usaha para petani kangkung di Kali Jangkuk. Kangkung Kali Jangkuk menjadi bahan utama pembuatan kuliner khas Lombok yaitu pelecing. Musim kemarau yang panjang adalah saat keberuntungan bagi para petani kangkung dikawasan Kali Jangkuk. Air yang tidak terlalu deras memudahkan penanaman kangkung yang hanya berbekal pepacek atau kayu penambat. Para petani kangkung akan turun memetik hasil di pagi buta untuk diantar dan dijual pasar terdekat.  

Saat musim kemarau, para petani tidak ada resiko, mereka biasanya mendapatkan keuntungan besar pada musim itu. apalagi jika harga kangku di pasar mulai naik. Namun berbeda dengan datangnya musim hujan, para petani kangkung akan mengalami kerugian bahkan tak bisa beraktifitas. Tanaman kangkung akan hanyut terseret banjir ke tengah laut. Sudahnya banyak kangkung yang tinggal di panen justru hanyut karena banjir yang tiba-tiba datang. Kali Jangkuk sebagai hilir sungai, seringkali menerima banjir kiriman dari hulu. Air tiba-tiba meluap padahal tidak ada hujan, itu karena di hulu sedang terjadi hujan. Tidak hanya air, kebiasaan masyarakat menjadikan kali sebagai tempat membuang sampah, membuat Kali Jangkuk kotor dan dipenuhi sampah. Berkali-kali pemerintah dengan dinas Kebersihan dan Dinas Pekerjaan Umum harus bergotong-royong mengangkat sampah yang menghambat jalannya air ke atas kendaraan, untuk dibuang di tempat sampah. Tak jarang perkampungan di sekitar muara Kali Jangkuk, terkena banjir akibat luapan air yang meluber ke perkampungan. Bukan hanya banjir dari air kiriman saja yang menjadi penyebab banjir, namun naiknya air laut juga menjadi faktor penyebab.

Menurut publikasi dari sebuah penelitian berjudul Historic Hydrologic Landscape Modification and Human Adaptation in Central dari John Klock, dari 33 sungai yang ditemukan di Pulau Lombok 90 % sumber airnya berasal dari Gunung Rinjani. Sungai Jangkuk adalah salah satunya. Daerah aliran sungai Jangkuk mempunyai luas 158,10 Km2 dengan panjang sungai utama 68,3 km membujur dari arah timur ke barat melintasi Kabupaten Lombok Barat di bagian hulu dan Kota Mataram bagian hilir lalu bermuara di Selat Lombok. Sungai Jangkuk sumbernya daru Danau Segara Anak di Gunung Rinjani. Sungai Jangkuk termasuk dalam sungai dengan tipe perenial, yaitu sungai yang kondisi ekuifernya sedemikian sehingga dalam kondisi musim hujan maupun musim kemarau akan selalu memberi sumbangan aliran air ke dalam alur sungai.  

Dari sisi kedalaman sungai, saat ini kondisi sungai Jangkuk telah berubah. Pemanfatan tanah atau hutan yang cenderung dilakukan secara tidak baik, membuat daerah resapan tidak lagi mampu menampung curah hujan seperti dulu. Dampak utamanya adalah luberan air manakala musim penghujan datang. Aliran sungai yang deras dan banjir memicu terjadinya erosi di bibir kali sepanjang Kali Jangkuk. Erosi pelan-pelan tertimbun di dasar Kali Jangkuk. Di hulu Kali Jangkuk curah hujannya mencapai 2.567 mm/tahun sementara di hilirnya sebesar 1.566 mm/tahun (Ida Bagus Giri Putra-2007).   02

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru