Cenggu vs Nisa Tegang, Warga Tidak Beraktifitas

KM, Sarei Ndai.- Sejumlah warga Desa Cenggu tidak berani ke Pasar Tradisional tente-woha, hal itu disebabkan Desa Cenggu dengan Desa Nisa masih suasana tegang akibat saling kontak senjata. Akibatnya, kebutuhan dapur didesa itu tidak terpenuhi. Bukan hanya itu, sejumlah pedagang asal desa cenggu juga tidak berani berdagang.

Selain warga cenggu, warga Desa Nisa yang biasa buruh bawang di Desa Renda dan Ngali juga merasakan hal yang sama. Setiap pagi, puluhan warga nisa sudah bersiap-siap menuju renda, namun karena masuk dalam desa konflik warga pun mengurung niatnya.

Kedua desa bertetangga itu sama-sama merasakan kekurangan, mencari nafkah untuk kebutuhan keluarga kedua desa iitu, harus tertunda akibat perseteruan persoalan sepele.

Selama berlangsungnya ketegaangan tersebut, selama itupula masyarakat yang tidak berdosa selalu merasakan penderitaan akibat ulah oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Tentu hal ini diharapkan pemrintah bisa mencarikan solusi secepatnya untuk mengantisipasi persoalan tersebut.

“Apa yang bisa dilakukan, dilakukan. Yang penting, dua desa langganan konflik ini cepat teratasi dan bisa kembali harmonis seperti semula. Suasana lebaran masih ada, harusnya saling silaturahim antara seksama yang kita tingkatkan, bukan konflik yang kita ciptakan,”ujar salah satu warga cenggu yang tidak mau dikorankan namanya.

Dikatakanya , Perang kampung merupakan peristiwa yang memilukan. Pasalnya semua aktifitas akan tertunda dan terhalangi dengan sikap kekerasan tersebut. peristiwa ini akan  terus berkepanjangan, dan ini merupakan peristiwa yang ke tiga kalinya dan dampakanya yaitu masyarakan yang tidak tau titik persoalanya.

“Bayangkan, kami lebih banyak makan nasi to’, ketimbang makan dengan lauk paut. Itu akibat konflik yang tidak ada ujung pangkatnya,”ungkapnya.

Diakuinya, walaupun tidak ada penghadangan jalan, tetapi isu swiping  merupakan ciri khas yang membuat hati masyarakat takut. Apalagi pasar tersebut berlokasi disekitar Desa Nisa. “kami merasa takut saja ke pasar, apalagi pernah terjadi swiping yang dilakukan orang nisa,”katanya.

Orang tadi berharap, pemerintah bisa secepatnya menyelesaikan dan mencari solusi terbaik, supaya masyarakat bisa beraktifitas dengan baik. “ Yang bertani bisa bertani, yang dagang bisa berdagang dan yang buruh bisa bekerja dengan tenag,”harapnya.

Ditempat terpisah warga Desa Nisa yang juga tidak ingin dikorankan namanya, juga mengatakan hal yang sama. Konflik cenggu vs nisa bukan berarti menguntungkan warga nisa karena, masuk pusat perbelanjaan. Namun, sebaliknya warga nisa juga tetap merasakan kekehawatiran yang sama dirasakan warga cenggu. Sembari mengaku, puluhan warga nisa mengais rejeki di desa renda hanya ingin mendapatkan upah dari hasil buruh bawang. Namun, adanya konflik ini aktifitas dan kebutuhan keluargapun menjadi sasaran konflik.

“memang tidak ada warga cenggu yang menghadang, tetapi rasa takut tetap menghantui kami untuk menuju desa renda,”ujarnya. Ia berharap, konflik mudah-mudahan cepat terpecahkan, supaya masyarakat bisa kembali beraktifitas seperti biasanya,”pungkasnya.(Yadin) -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru