Dua Puluh Enam, Penghalang Rizki

Sudah menjadi rutinitas bagi Kemus bahwa setiap tanggal satu setiap bulan selalu mengadakan pengkajian, dengan mengundang para tuan guru secara bergiliran untuk menjadi narasumber. Tema yang dikaji dalam setiap pertemuan adalah tergantung dari masalah yang tengah di hadapi oleh masyarakat yang merupakan binaan dari anggota komunitas.

Anggota yang punya giliran untuk ditempati Pada tanggal 1 bulan Juli 2014 ini, adalah Rumah Samiun Basri yang lokasinya di Dusun Penyengaq Desa Presak Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah, sementara yang diundang untuk menjadi narasumber pada kegiatan pengkajian tersebut adalah Drs.  TGH Hamzah, yang berasal Dusun Bagik Longgik Desa Rakam Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur.

Dipakainya istilah “Pengkajian” bukan “Pengajian” seperti yang biasa di pakai orang kebanyakan adalah karena kalau pengajian, kadang sifatnya sangat monoton dan yang ada hanya monolog sepihak, sementara pengkajian adalah membahas suatu permasalahan lengkap dengan dalil dan perbandingan-perbandingannya sekaligus bagaimana implementasinya di Lapangan juga masing-masing peserta boleh mengajukan pendapat dengan argument masing-masing atau dengan kata lain boleh diperdebatkan dulu untuk kemudian nanti disimpulkan di bagian akhir.

Sementara Kemus loteng yang menjadi host kegiatan ini adalah merupakan singkatan dari kelompok muzakarah Asy-Syafi’I Lombok Tengah yaitu sebuah organisasi kemasyarakatan yang berorientasi pada bidang Ekonomi, social, pendidikan dan da’wah. Kegiatan ekonomi yang dilakukan adalah melakukan usaha-usaha yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi anggota. Diantara kegiatan ekonomi yang dilakukan adalah pada setiap pertemuan yang sekali sebulan semua anggota harus mengeluarkan iuran sama-sama Rp. 100.000, yang mana awalnya dulu ketika kelompok ini baru di bentuk yaitu pada tahun 2004 masing-masing anggota sama-sama 5.000 setelah berjalan beberapa bulan, terasa sedikit ringan iuran ditambah lagi sama-sama 10.000 hingga akhir tahun 2013.

Uang yang berhasil dikumpulkan lalu dikembangkan dengan membeli sapi, lalu sapi tersebut di berikan kepada warga sebagai pengadas dengan ketentuan pembagian 60 Vs 40 %. 60% buat peternak dan 40% buat kelompok. Hal ini dimaksudkan supaya ada perbedaan dari yang masyarakat biasa kembangkan sebagai bentuk social dari komunitas.

Kelompok Muzakarah yang sering di singkat kemus yang dibaca kemos, yang berarti tersenyum hingga hari ini yang jika di akumulasi total pengeluaran masing-masing anggota diperkirakan sekitar Rp. 1.200.000/Orang. Tapi jika dihitung dari omset yang dimiliki hingga hari ini diperkirakan masing-masing orang sudah memiliki satu ekor sapi, ditambah lagi dengan pohon kayu yang ditanam pada lahan seluas 94 are yang berisi lebih kurang 3000 pohon. Kalau di asumsikan pohon tersebut hidup sekitar 2000, kemudian dibagi dua dengan pemilik lahan berarti ada seribu pohon. Kalau kemudian yang seribu pohon di bagi dengan 12 orang yang menjadi  anggota kemus maka masing-masing orang akan punya bagian sekitar 83 pohon/Orang. Kalau kemudian di asumsikan nilai jual minimal per pohon 200.000 saja maka artinya masing-masing sudah mendapat bagian sekitar Rp.16.600.000.

Kembali ke pengkajian. Tema yang dibahas dalam pengkajian tersebut adalah Soal Keuzuran shalat dengan rujukan ”Kitab Kaasyifatussaja” yang merupakan syarah dari kitab “safiinatunnaja”. Yang menarik di kaji disitu disamping soal tentang Keuzuran solat juga pada bagian Tanbiihun (Peringatan), Dimana di tanbih tersebut dibahas tentng “sebab-sebab yang  menyebabkan rizki berkurang” dengan kata lain “Hal-hal yang menghalangi Rizki”.

Dalam kitab tersebut, Imam Suaefi menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang mengakibatkan rizki seseorang itu terhalang atau dengan kata lain yang mengakibatkan kemiskinan adalah :

  1. Terlalu banyak tidur
  2. Suka berbohong
  3. Suka tidur telanjang
  4. Suka makan dalam keadaan junub
  5. Suka meremehkan remah (Menyia-nyiakan sisa makanan)
  6. Suka membakar kulit bawang (bawang merah dan bawang putih)
  7. Suka menyapu malam hari
  8. Suka membiarkan kotoran dalam rumah (jelaga)
  9. Berjalan mendahului orangtua
  10. Memanggil orangtua dengan nama mudanya
  11. Suka basuh tangan dengan tanah
  12. Meremehkan solat
  13. Suka menjahit pakaian ketika sedang dipakai
  14. Suka segera keluar dari masjid
  15. Paling dulu datang dipasar dan paling telat pulang
  16. Suka membiarkan bejana dalam keadaan kotor (tidak langsung di bersihkan)
  17. Suka membeli makanan dari orang yang minta-minta.
  18. Suka memadamkan lampu dengan nafasnya (meniupnya)
  19. Menulis dengan pena yang rusak
  20. Menyisir rambut dengan sisir yang rusak
  21. Tidak mendoakan orang tua
  22. Memasang imamah dengan cara duduk
  23. Memasang celana dengan cara berdiri
  24. Pelit
  25. Terlalu hemat/irit untuk nafkah keluarga
  26. Terlalu berlebihan/Pemborosan.

Kalau pembaca misalnya ragu dengan apa yang disampaikan oleh Imam Suaefi dalam kitab tersebut  karena tidak bisa dirasionalisasikan misalnya. Maka itu tidak masalah, tapi yang penting coba saja dipraktikkan. Karena saya amat sangat yaqin kalau semuanya bisa dipraktikan pasti akan mendapatkan banyak hikmah.

“jangan pernah meyakini atau juga meragukan sebuah teori apapun sebelum anda coba mempraktikkannya”. Karena dari hasil praktik Anda itulah Anda akan tau kebenaran atau kesalahannya. Itulah yang sering di sindir melalui sebuah adegium yang artinya “Pengalaman adalah Guru yang paling baik”. [] -05

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru