Rambu-Rambu Hidup

Jika kita memandang hidup ini merupakan amanat Allah yang harus dipelihara keselamatan dan kesuciannya, maka tidak jalan lain harus memelihara kehidupan ini sesuai dengan perintah sang Pemberi Amanat. Itulah makna luas dari wasiat Allah yang wajib disampaikan pada setiap mimbar Jum’at : “Ittaqullaha haqqatu qaatih walaa tamuutu illa waantum muslimun – Bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah engkau mati kecuali dalam keadaan Islam”
Perjalanan hidup adalah rimba rambu-rambu yang sangat padat. Jika kita salah membaca dan memilih rambu maka kita akan berputar-putar di tempat tidak mencapai tujuan atau bahkan mungkin kita akan tersesat. Saat ini demikian banyak rambu dan petunjuk petunjuk jalan hidup yang menyesatkan. Rambu mode dan gaya hidup yang ditawarkan kapitalis, rambu nafsu dan kesenangan sesaat, rambu kekuasaan dan keinginan berkuasa dan lain-lain adalah rambu-rambu yang justeru dibayar mahal untuk melewatinya. Tetapi anehnya, sebagian kita yang masih tergolong “miskin” lebih memilih melewati jalan yang ditunjukkan oleh rambu-rambu tersebut.
Rambu yang demikian banyak itu adalah tipuan, fatamorgana dan maya yang semakin jauh kita jalani semakin jauh kita dari tujuan. Sebagai Muslim kita menjalani satu rambu yaitu “Jalan Lurus” - Siratal Mustaqim, dan kita senantiasa berdoa untuk ditunjuk jalan tersebut - Ihdinassiratal Mustaqim. Dan agar kita senantiasa berjalan di jalan yang lurus tersebut kita memiliki rambu yang sangat jelas yaitu AL-Qur’anul Karim, sebagaimana disebutkan dalam awal surat Al-Baqarah : “Zalikal kitabu la raibafiihi - Hudan lil muttaqin” dan Sunnah Rasulullah Saw. Dengan berpegang pada kedua hal tersebut, Insya Allah kita akan mencapai tujuan hidup yang asasi yaitu Ridha Allah.
Pada kesempatan ini, saya akan menyampaikan salah satu Hadis yang menggambarkan rambu-rambu hidup yang sangat sederhana untuk mencapai bahagia dalam menjalani hidup ini.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآَنِ أَوْ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا  (  رواه مسلم)
Artinya :
Kesucian adalah sebagian dari iman, Alhamdulillah memenuhi timbangan, Subhanallah walhamdulillah memenuhi ruangan antara langit dan bumi, shalat adalah nur, sedekah adalah burhan atau dalil keberimanan, Sabar adalah pelita, dan Al-Qr’an adalah hujjah bagi dirimu. Semua orang pergi menjual dirinya, maka apakah ia akan membebaskan diri atau menghancurkannya.
1. Kesucian adalah sebagian dari iman, karena iman yang kuat hanya ada pada orang yang suci. Para Ulama menafsirkan kata suci ini dengan kesucian batin, kesucian hati dari segala bentuk syirik dan penyakit hati seperti dengki, iri, dendam, khianat dll. Sesungguhnya Allah sangat memperhatikan kesucian hati, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ
Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, tetapi kepada hati kalian. HR Muslim
2. Alhamdulillah memenuhi timbangan, antara yang dianugrahkanoleh Allah dengan apa yang kita persembahkan kepadaNya. Alhamdulillah bukanlah sekedar ungkapan kata penghias bibir, tetapi muncul dari kalbu yang tulus dan diwujudkan dengan perilaku. Apapun yang kita dapatkan suka atau duka, banyak atau sedikit, hendaklah kita terima dengan ikhlas, kita manfaatkan sebaik-baiknya di jalan Allah. Untuk itu marilah kita membudayakan kalimat Alhamdulillah ini menjadi hiasan bibir, hiasan hati hiasan perilaku. Alhamdulillah sebagai akhlak  dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian kita terbebas dari penyakit menggerutu, dongkol dan merusak iman kita. Nauzubillah.
3. Shalat sebagai cahaya, maksudnya dalam perjalanan hidup kita di dunia yang gelap, shalat yang kita leksanakan lillahi taala akan me menyelamatkan kita dari kegelapan, akan menjauhkan kita dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah :
إن ألصلاة تنهى عن الفخشاء والمنكر
“Sesungguhnya shalat akan mencegah perbuatan keji dan mungkar”
4. Sedekah adalah burhan. Burhan artinya dalil atau bukti atas keabsahan iman orang bersedekah. Sadakah berarti benar, maka orang yang bersedekah menunjukkan kebenaran keimanannya. Banyak orang yang mengaku beriman bahkan rajin melakukan Shalat, tetapi enggan bersadakah, maka sebenarnya orang yang demikian tergolong kelompok munafik.
5. Sabar adalah pelita, seperti yang telah dikemukakan di atas, bahwa apapun yang kita terima adalah anugrah Allah yang harus diterima dengan ikhlas. Sikap sabar mahbub yang dimaksudkan disini adalah sabar dalam menjalan ketaatan kepada Allah, sabar yang dapat menghindarkan kita dari celaka. Musibah, cobaan dan kemiskinan yang kita terima tidak membuat kita terjerumus ke jalan sesat, tetapi justeru mendorong kita untuk lebih dekat kepadaNya.
6. Orang-orang berjual beli dengan Allah, semua kita menjual diri kita kepada Allah untuk membebaskan diri. Kita menyerahkan seluruh jiwa dan raga kita dengan bayaran surga, sebagai lawan orang-orang yang menjual diri menjadi budak hawa nafsu dan syaitan yang akan emnghancurkannya.
Fiman Allah Swt dalam surat Attaubah ayat 111 :
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ  
Artinya :
Sesungguhnya Allah telah membeli dari kaum mukmin diri dan harta mereka.
Tidak ada jual beli yang lebih mulia dari transaksi kita dengan Allah. Pembelinya adalah Allah, penjualnya adalah Mukmin barangnya adalah jiwa dan raga dan bayarannya adalag Surga.
Subhanallah.
Semoga Allah Swt senantiasa menunjukkan kepada kita jalan yang benar dan membimbing kita untuk mendapatkan RidhaNya sebagai tujuan hidup yang utama. [] - 01

ilustrasi foto: net

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru