Kiprah Setelah Satu Tahun

KM Wadupa’a: Pembaca yang budiman, tidak terasa sudah lebih dari setahun kami eksis sebagai salahsatu komunitas Kampung Media di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Meskipun secara de fakto kami sudah terbentuk dan  eksis jauh dari sebelum itu, sebelum terakomodir dalam jaringan Kampung Media NTB.

Usia satu tahun, memang jika ditakar dalam segala aspek, maka yang terukur masih ketegori belia atau seumur jagung. Masih banyak yang perlu ditatar dan dibenahi baik dari segi konten maupun teknis suguhan informasi. Kami hadir dengan ihtiar melengkapi kebutuhan masyarakat dengan konsep dari kampung untuk kampung dan oleh warga kampung.

Moto itu merupakan komitmen kami dari awal bahwa tak ada batas bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi menulis atau melaporkan peristiwa atau unek-unek yang terjadi di sekitar. Mendorong dan membiasakan budaya menulis, mengubah pola penyampaian ide atau unek-unek dari cara-cara seperti budaya bertutur menjadi lebih terarah atau terstruktur dalam sajian tulisan.

Setidaknya ada banyak output positif setelah Komunitas Kampung Media Wadupa’a terbentuk terutama bagi warga sekitar. Jika selama ini informasi yang disuguhkan media komersial cenderung hanya memilah-milah isu berkekuatan masif dan kerap terbatas pada ruang tertentu. Maka dengan kehadiran komunitas Kampung Media Wadupa’a diharapkan  ekspresi masyarakat semakin tersalur dengan efektif, setidaknya bagi beberapa kelompok mulai dari segmen intelektual (mahasiswa dan pelajar) kalangan profesional (komunitas pendidikan dan SKPD di tingkat bawah),  kelompok baru (tetapi melek informasi), serta kelompok bawah.  

Pada sisi lain Kampung Media Wadupa’a menjadi media penghubung bagi warga yang berada di luar daerah maupun luar negeri termasuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI) untuk tetap mengetahui peristiwa, aspirasi maupun perkembangan kampung yang mereka tinggalkan (strength in on page), tanpa mengabaikan konsep dinamis dan interaktif. Konektivitas antara komunitas Kampung Media dengan social media menjadi ruang bagi masyarakat untuk berinteraktif.

Ya, sejak media online terus menunjukkan progres signifikan, angka melek informasi (akses internet) terus berkembang hingga ke desa-desa termasuk di Kecamatan Soromandi dan wilayah sekitar. Satu sisi keunggulan media online yakni kecepatan (update) informasi, meskipun secara umum media online juga memiliki kelemahan terkait akurasi informasi, namun konsepnya tetap mengikuti cara kerja media mainstream.

Pembaca yang budiman, meskipun terbilang baru seumur jagung, sudah ada beberapa apresiasi yang berhasil kami peroleh, walaupun itu bukan tujuan utama kami. Eksistensi komunitas kami niatkan sebagai penyampai pesan (ruang ekspresi), melengkapi kebutuhan informasi masyarakat. Akhir tahun 2013 lalu kami diberi kepercayaan sebagai salah satu Duta Informasi Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hal itu bukan sekadar label, tetapi merupakan, spirit, amanah dan beban tugas, mendorong akses informasi masyarakat terpenuhi, mencapai hakikat masyarakat merdeka memeroleh.  

Dalam perjalanan, sejak tahun 2013 lalu kami juga membuka ruang pengaduan publik di setiap desa dan pusat pelayanan masyarakat seperti Puskesmas, Kantor Desa dan sejumlah sekolah. Sejak ruang itu dibuka, kami menerima sedikitnya 18 aspirasi masyarakat. Kami memiliki target agar partisipasi masyarakat mengawal kebijakan publik, termasuk pengelolaan anggaran semakin meningkat, sehingga arah pembangunan semakin lebih tepat sasaran.

Lebih Dekat dengan Kru KMWP

Pembaca yang budiman, dari bulan ke bulan jumlah personil komunitas Kampung Media Wadupa’a semakin bertambah. Tidak hanya dari kalangan profesional, pelajar dan mahasiswa. Namun juga berlatar belakang dari kelompok (warga) bawah.

ABDUL HAMID (Sekretaris)

Pria 25 ini merupakan salahsaatu penggagas awal terbentuknya komunitas Kampung Media Wadupa’a. Pemikirannya itu bermula dari hobinya menulis dan menyikapi setiap fenomena dalam masyarakat. Lahir dari keluarga seorang biro`krat menjadikan bungsu dari tiga saudara ini sebagai seorang yang disiplin. Pendidikan formal SD dan SMP diselesaikan di Soromandi. Kemudian dilanjutkan di Program Studi Pendidikan Jasmani dan Rekreasi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Taman Siswa Bima. Tak butuh waktu lama baginya untuk mampu menulis hard news dan news feature. Selain di Kampung Media Wadupa’a. Sebelumnya pemuda keturunan Wera-Penatoi Kota Bima yang  lahir dan menetap sejak kecil ldi Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima ini, aktif menulis pada sejumlah media online. Selain di KMWP, Hamid juga aktif pada sejumlah organisasi masyarakat seperti Forum Komunikasi Pemuda Pesisir Bima.

EDY WIRAWANSYAH (Anggota)

Pria yang akrab dipanggil Erwin ini bergabung dengan komunitas Kampung Media Wadupa’a sejak November 2013 lalu. Semangatnya bergabung dengan komunitas didasari tujuan untuk terus mengasah kemampuan menulis. Pendidikan formal pria kelahiran Ujung Pandang (Makasar) 5 Desember 1989 ini dari SD hingga SMA diselesaikan di Soromandi. Setahun kemudian dilanjutnya di Universitas Veteran (UVRI) Makasar. Beberapa bulan lalu ia mengakhiri masa lanjang dan memantapkan hati tinggal di Desa Kala Kecamatan Donggo. Selama ini  ia paling aktif berkomunikasi dan memotivasi masyarakat, termasuk menghimpun keluhan masyarakat dari sejumlah desa lokasi kotak pengaduan publik yang dibuka komunitas Kampung Media Wadupa’a. Selain aktif di Kampung Media Wadupa,a, sejak menyelesaikan S1, Erwin aktif mengajar pada sejumlah sekolah negeri dan swasta di Soromandi.

AYU NOVITASARI (Unit Usaha)

Selama ini tidak pernah terbayang dalam pikiran remaja 19 tahun kelahiran Waingapu, 05 November 1994 silam ini bakal menggeluti dunia jurnalisme warga (citizen journalist). Selama ini ia hanya menjadi penikmat (pembaca) berita. Namun setelah menggeluti dunia journallism ia merasa survive. Setelah menyelesaikan pendidikan di Prodi Usaha Perjalanan Wisata SMK Inves ADB SMKN 1 Kota Bima. Hingga kini Ayu masih menempuh kuliah di Prodi Ilmu Komunikasi STISIP Mbojo Bima. Ia aktif dalam sejumlah organisasi mahasiswa dan kegiatan sosial dalam masyarakat.

JUFRIN (Korlip)

Lahir dari keluarga sangat sederhana tak membuat minder pria yang akrab disapa Frin ini. Sejak kecil ia memahami bahwa hidup getir dengan serba keterbatasan bisa dilalui dengan semangat. Seluruh pendidikan formal hingga SMA ia lewati di Soromandi. Setelah itu dilanjutkan di Prodi Ekonomi STKIP Bima. Setelah wisuda 2011 silam, kini Frin fokus di komunitas Kampung Media Wadupa’a dan Forum Komunikasi Pemuda Pesisir. Ia juga aktif dalam Organisasi Masyarakat Setempat di Desa Bajo. Sikap supelnya membuat pria ini memiliki relasi dan teman di mana-mana. Selain menguasai bahasa Bima dan Indonesia, ia juga aktif berkomunikasi dalam bahasa Sumba NTT.

FACHRUNNAS APS (Koordinator)

Sejak kecil anak ke-3 dari lima bersaudara ini sudah memiliki cita-cita menjadi jurnalis. Hobinya membaca dan menulis sejak Sekolah Dasar sedikit tidak memengaruhi cita-citanya, meskipun belakangan ia memilih kuliah di Fakultas Teknik. Sejumlah novelis dan penulis kelas dunia seperti Karen Amstrong, Mario Puzzo, dan Kahlil Gibran merupakan inspirasinya untuk terus berkarya. Sebelum membentuk komunitas Kampung Media, sejak mahasiswa sudah tertarik dunia jurnalis. Saat itu, sering diajak rekan satu kos-kosan yang kala itu sedang magang di Lombok Pos untuk liputan di sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah di Kota Mataram. Tahun 2006 setelah tamat kuliah, kemudian melamar di Koran Berita, meskipun saat itu belum dibuka penerimaan wartawan baru. Sejumlah rekan satu kos dan satu kampus yang rata-rata kerja di media menambah motivasinya menggeluti bidang jurnalistik. Setelah diarahkan orangtuanya  mencoba pekerjaan sebagai Honorer Daerah, pria yang juga memiliki hobi pada bidang musik ini kembali ke Bima. Namun pekerjaan mengabdi sebagai Honda ditolaknya. Berkerja sebagai Honda atau PNS bukan cita-citanya sejak kecil.

Awal 2007 kemudian melamar masuk harian BimaEkspress setelah disarankan orangtuannya. Saat itu, ayahnya yang terbiasa membaca koran, menginformasikan jika ada lowongan pekerjaan sebagai wartawan pada media harian pertama di Bima itu. Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk melewati masa magang dan menjadi wartawan tetap. Beberapa tahun setelah itu ia diberikan kepercayaan sebagai redaktur di media harian tersebut. Namun 2011 lalu ia mengundurkan diri dari posisi redaktur karena merasa lebih nyaman berada di lapangan mengumpulkan berita. Sejak kecil pria yang masih memilih lajang ini sudah diajari orangtuanya disiplin. Latarbelakang ayahnya yang merupakan Kepala Sekolah Negeri selama 20 tahun sedikit tidak memengaruhi mentalnya. Beberapa prestasi akademik dan eksrakurikuler pernah ia raih.

Sejak memantapkan hati sebagai jurnalis, pria kelahiran Sarae Kota Bima 30 tahun ini aktif pada sejumlah organisasi jurnalis dan organisasi lain. Hingga kini sedikitnya sudah belasan ribu karya hard news dan puluhan news feature, serta beberapa artikel yang ditulisnya. Selain di media cetak, sejak lama ia aktif menulis pada sejumlah media online lokal dan Nasional.

Meskipun banting setir menggeluti dunia jurnalis, ia tidak pernah lupa latar belakang pendidikan sebelumnya. Bermodal beberapa keahlian sesuai jurusan yang dipilih, pria yang tercatat menempuh pendidikan di tiga kampus ini, beberapakali dikontrak sebagai tenaga teknis di BUMN. Kini waktunya lebih banyak difokuskan mengelolah Kampung Media Wadupa’a dan sejumlah forum. (Bersambung) - (01)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru