Giong dan Perkembanganya


Giong”  (bahasa Sasak) atau Ayunan jika dalam bahasa Indonesia merupakan salah satu alat tradisional yang hingga kini masih ditemukan. Bentuk Giong ini pun sangat beragam. Biasanya orang tua zaman dahulu menidurkan bayi mereka menggunakan Giong. Giong zaman sekarang ternyata tidak hanya terbuat dari bahan seperti bamboo maupun kayu, melainkan bisa lebih sederhana lagi. Kain maupun selendang pun bisa menjadi giong (tempat) ayunan untuk menidurkan bayi.

Salah satunya yang terlihat di pinggir Pantai Melase seberang Kantor Kecamatan Batulayar. Meskipun menggunakan kain selendang, bocah yang dilepas atau ditidurkan di Giong pun bisa ceria. Tak perlu mahal jika bisa memanfaatkan apa yang ada. Cara pun sangat sederhana dan cukup mudah. Tinggal mengikatkan kain di dahan atau ranting pohon, giong pun bisa tercipta. Bayi pun bisa diayun dan tidur pulas. Ditambah dengan sejuknya angin pantai, suasana makin enak dan ceria.

Giong dengan menggunakan kain maupun selendang ini masih dijumpai dikalangan masyarakat perdusunan, pegunungan, maupun masyarakat yang tinggal di pinggir pantai. Mereka tak pernah berpikir bagaimana menciptkan alat yang lebih modern semisal Giong. Menurut mereka, disamping sebagai tempat menidurkan bayi, Giong bisa dimanfaatkan untuk bermain. Atau dengan bahasa lain, anak kecil yang tengah terjaga pun bisa di-Giong alias diayun. Mereka bisa tertawa dan senang hanya dengan selembar kain selendang atau sarung. Waaah ternyata Giong bisa juga untuk orang dewasa.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru