logoblog

Cari

Toleransi Gusdurian di Warjek

Toleransi Gusdurian di Warjek

Disudut rumah bersama para seniman NTB, suara keberagaman dan kebersamaan dirayakan. Nyanyian dan Shalawat Nabi digaungkan, begitu menggema area keramian didepan

Rupa-Rupa

EDY IRFAN
Oleh EDY IRFAN
20 November, 2019 21:44:29
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 1853 Kali

Jaringan GusDurian Lombok dan para seniman NTB, suara keberagaman dan kebersamaan dirayakan. Nyanyian dan Shalawat Nabi digaungkan, begitu menggema area keramian didepan Taman Budaya Mataram NTB.

Pemandangan seperti ini hanya bisa disaksikan bersama Gusdurian.  Sebutan untuk para murid, pengagum, dan penerus pemikiran dan perjuangan KH. Abdurahman Wahid atau Gus Dur. 

Mereka berkumpul disebuah warung bambu berlabel Warung Jack (Warjek) Mataram. Ada tokoh agama, budayan dan seniman, birokrat ASN, penulis buku, Dosen, pemuda Hindu, Nasrani, Komunitas, Organisasi, Lintas etnis dan Lintas agama se Kota Mataram. 

Warung sederhana ini bak panggung megah. Tata artistik lampu, alat musik menyempurnakan arena. Gusdurian Lombok  menggagasnya untuk Peringatan Hari Toleransi Internasional 2019.

Dibalut sederhana tanpa formalitas, satu demi satu acara mengalir. Musik terus mengiringi. Bercerita memaknai toleransi mereka diskusikan dengan ide dan gagasan yang luar biasa. Sandalan, sarung dengan kaos oblong. Lesehan dengan kopi dan teh di depan panggung. Namun tampak serius dalam canda para Gusdurian muda dan tua ini.

Diawali pembacaan puisi bertema sosial oleh Zaini Mohammad. Helai demi helai kertas putih berisi bait toleransi dan intoleransi yang ia baca memukau penonton hingga terdiam menikmatinya.

Semakin menarik acara ini saat Koordinator Gusdurian Lombok Fairuz Abadi dikalangan seniman dan budayawan dikenal Abu Macel mengurai kata yang dirangkai dengan bait-bait puisi. Iapun mengajak semua yang hadir berdiri dan mengucapkan Shalawat sebagai nyanyian kerinduan untuk Sang Rasul.

"Kalaul tidak bisa memberi jangan mengambil. Kalau tidak bisa mengjargai jangan membeci," sebait puisinya.

Usai berpuisi yang diiringi petikan dawai guitar dari penyanyi Yodi, pria yang malam itu dipanggil Gus Fai, mengatakan acara ini merupakan tindak lanjut pertemuan di Yogyakarta dalam rangka rakornas GusDurian. Toleransi ini merupakan isu yang menjadi perhatian Gusdurian.

Kata Fairuz, ada kegelisahan yang mengusik kebersamaan dan keberagaman bangsa ini. Bangsa yang terdiri dari suku bangsa, agama, bahasa dan budaya yang berbeda dari Sabang hingga Merauke.

Toleransi dari penduduk yang bermukim di gugusan pulau yang disatukan oleh Nusantara ini, antara sesama manuasi dan bangsa sudah selesai. Keberagaman kita itu pilihan. Sehingga ia menegaskan perbedaan itu hak namun jangan mengalahkan kewajiban untuk bersatu. 

 

Baca Juga :


"Pemahaman kita pada tataran konteks keberagaman itu sudah selesai, maka mari saling menghargai pada semua keberagaman," ajak pria penyuka Sayur Kelor ini.

Maka malam ini, Pikiran gusdur yang baik, perjuangan GusDur tetap hidup dan mengawal pergerakan kebangsaan Indonesia. Tentunya dilandasi 9 Nilai pemikiran Gus Dur. "Perbedaan itu biasa, namun jangan ribut, masalah toleransi dan intoleran terletak pada pemikiran kita," tuturnya.

Pada Peringatan Hari Toleransi Internasional 2019 di Lombok  inipun dihadiri juga oleh Gus Beny dari Jombang dan Maskan Koordinator Gus Durian Provinsi Kepulauan Riau. Kebetulan kedatangannya ke Lombok untuk silaturahmi dengan salah satu tokoh NU NTB TGH M. Mustiadi Abhar.

Tamu dari jauh inipun diberi panggung untuk tampil. Bercerita tentang toleransi. Ia mengatakan Nabi Muhammad SAW manuasia paling toleransi. "Maka sosoknya harus kita ikuti, ini yang diajarkan Gusdur," ceritanya, Selasa malam (19/11/2019) di Warung Jack Taman Budaya Mataram.

Iapun mengajak para Gusdurian Lombok menyanyikan lagu syukur dan menyuarakan Shalawat Nabi bersama. Nada kerinduan itupun serentak bersama diucapkan dengan gesekan dawai Biola dan Gitar.

Acara ini ramai dan riuh ditengah penonton yang menjadi bintang panggungnya. Zaini Mohammad seniman berambut gondrong yang mengawal rangkian acara sejak awal, satu persatu tokoh muda NU, dosen pun dipanggil untuk tampil bercerita tentang toleransi menurut persepsinya masing-masing atau berpuisi bahkan bernyanyi bila mampu.

Acara yang domitori Gusdurian Lombok bersama Komunitas Warjack Mataram inipun tampil juga Paux Iben. Salah seorang pengikut setia yang selalu bersama Gusdur. Pendapatnya, toleransi sudah selesai. Toleransi memang perbedaan. Tetapi bagaimana kita dapat menerima orang lain.  "Itu inti dari toleransi," singkat Paox.

Sedangkan Majas Pribadi mengatakan toleransi itu membiarkan orang bahagia, senang ataupun sejahtera. "Kalau tidak itu Intoleran namanya," kata Pri.

"Kita akan tetap bertemu kembali dalam balutan kesederhanaan Gusdurian di pentas lain waktu," tutup pria Gondrong bersarung kotak-kotak itu. (**)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan