logoblog

Cari

Matinya Seorang Penulis, Kenapa?

Matinya Seorang Penulis, Kenapa?

Penulis mempunyai karakter, memiliki caranya sendiri, Bahasa dan diksinya khas. Tidak sama penulis satu dengan yang lain. Cara pengungkapan idenya tidak

Rupa-Rupa

Firman Purnawirawan
Oleh Firman Purnawirawan
07 Oktober, 2019 20:01:48
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 408 Kali

Penulis mempunyai karakter, memiliki caranya sendiri, Bahasa dan diksinya khas. Tidak sama penulis satu dengan yang lain. Cara pengungkapan idenya tidak mesti stagnan, sopan, bisa jadi liar. Sulit dipegang, lunyu, absurb, kadang juga absurd. Tidak karuan, tak disangka. Sampai titik terakhir, baru Pembaca dapat menyimpulkan. Itupun belum tentu sesuai maksud dan tujuan si penulis. Menulis juga dikatakan sebagai salah satu cara menenangkan hati ketika sedang berada dalam zona rapuh, contohnya menulis puisi, karya, opini, dan yang lainnya. Al hasil penulis juga punya kekurangan yang mampu membuat matinya jiwa penulis. 

Antara pembaca dan Penulis siapakah yang lebih penting? Pertanyaan itu sudah menimbulkan perdebatan. Seorang penulis straight news ataupun piuture juga tidak terlepas dari determinasinya pemikiran, menghilangnya rasa ingin tahu yang kemudian di biarkan. Melihat sistem yang begitu banyak, pengarang pun semakin lama semakin sedikit. 

Dengan menggunakan pendekatan sejarah, banyak peran pengarang di indonesia, dari masa ke masa. Dimulai dari awal lahirnya sastrawan yang sangat berhubungan dengan lingkungan. Pada masa itu peran sastrawan bertugas untuk membentuk citra Sang pemimpin di mata rakyatnya. Dengan mencipatakan dongeng dan cerita tentang kesaktian pemimpinnya diharapkan rakyat akan semakin percaya dengan orang yang memimpin mereka.

Namun kali ini minimnya pemikiran yang kritis dan kurangnya rasa ingin tahu terhadap apa yang ada membuat kurangnya peminat penulis. Benar juga orang sastrawan katakan. Kali ini banyak seorang penulis berhenti menulis  Bukan karena dia mati. Tapi pemikiran pemikirannya terhenti. 

Banyak contohnya seorang penulis melupakan karya karyanya. Ada sebagian orang juga yang sudah menulis judul atau tema, Namun tidak tau akan dari mana dia memulainya. Dosen Jurnalistik pak Latif waktu itu menceritakan beberapa orang penulis handal yang memulai karirnya di dunia sastra. Namun di tengah perjalanan banyak cobaan rintangan yang di hadapi. Terjadi kepakuman terhadap pola pikir. Dan terjadi ke engganan terhadap pena dan kertas. Padahal waktu sebelumnya pena dan kertas menjadi bagian hidupnya, akan tetapi saat terkena determinasi pemikiran dan hilangya rasa ingin tahu membuat pena dan kertas itu mulai di acuhkan. 

 

Baca Juga :


Tidak terlepas dari roda kehidupan. Waktu yang lama dalam mengembalikan keinginan itu. Dan waktu itu tiba, rasa kaku akan kembali dalam situasi. dari mana pemikiran ini akan di mulai untuk di jadikan sebagai karya. Apalagi kosa kata yang indah dan jemari yang lancar dulu sudah jarang di gunakan, pasti akan mengulang dari awal lagi, pada saat pertama mengenal dunia menulis. 

Itulah kenapa, pak Latif dosen Jurnalistik UIN Mataram ini memberikan suatu statmen "baca apa yang bisa di baca. membaca saja, nanti kalian akan tau cara bagaimana kosa kata yang baik, dan tata cara penulisan yang baik", ungkapnya saat perkuliahan berlangsung. Dari ungkapan beliau yang kini membuat  penulis mulai mencoba membuka buku dan membaca. 

Dari hasil membaca, pasti ada saja ilmu yang bisa diresapi. Memang tidak semua isi buku. Paling tidak tahu cara seorang penulis itu merangkai sebuah kata kata yang elegan dan baik.  agar tidak terjadi kembali determinasi pemikiran dan membuka pola pikir yang lebih rasional itu. 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan