logoblog

Cari

Kita Bukan Saudara Seiman, Namun Saudara Dalam Kemanusiaan

Kita Bukan Saudara Seiman, Namun Saudara Dalam Kemanusiaan

Membantu sesama tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, oleh sekat-sekat agama, suku, dan ras. ketika kita ingin berbuat baik-berbuat baiklah,

Rupa-Rupa

Hamdi
Oleh Hamdi
24 November, 2018 11:19:28
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 13974 Kali

Membantu sesama tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, oleh sekat-sekat agama, suku, dan ras. ketika kita ingin berbuat baik-berbuat baiklah, karena tidak dibatasi oleh batas negara. Nilai-nilai kemanusiaan dikedepankan tanpa melihat yang lain. Menurut Gus Dur “yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan”. Seperti pengalaman kami beberapa bulan yang lalu ketika menjadi Relawan bersama teman-teman membawa bantuan yang akan kami bagikan, ke beberapa kelompok masyarakat terutama yang tidak terjangkau oleh banyak relawan.

Gempa telah menyatukan kami di lombok, orang berdatangan dari berbagai macam daerah, dengan latar belakang agama yang berbeda. Mereka rela meninggalkan keluarganya berbulan-bulan, untuk membantu sesama manusia. Rela Mengorban jiwa, raga, dan materi yang sangat banyak.

Ketika kami turun lapangan bersama teman-teman, menemui masyarakat yang menjadi penyintas di beberapa Cam Pengungsian, dengan membawakan bantuan, Mereka sangat senang, dan bersyukur atas kedatangan kami. Seakan di binar-binar mata mereka menyimpan harapan, semoga gempa ini cepat berlalu. Sehingga mereka bisa beraktifitas kembali seperti sedia kala. Mereka malu bergantung kepada orang lain, namun mau bagaimana lagi. Keadaan yang tidak mengijinkan. relawan kami terdiri dari berbagai macam komunitas, dan agama. Tidak hanya orang muslim.

Ada pengalaman yang menarik ketika kami menjadi relawan, kami dikirimkan barang oleh NGO Internasional dan komunitas Kristen Jakarta, dalam bentuk Sarung. Mereka mengirimkan sarung itu kepada Masyarakat Muslim untuk digunakan Sholat di Masjid atau Mushola. Sarung itu kami bagikan ke beberapa titik di masjid-masjid darurat yang ada. Mereka dengan sadar mau mengirimkan sarung untuk sholat, padahal kita memiliki agama berbeda. Namun mereka mau berbagi dengan kita, tanpa melihat agamanya apa. Justru mereka menyarankan sarung yang diberikannya kepada kami supaya digunakan untuk menjalankan ibadah.

Tidak hanya itu Kami juga mendirikan tempat wudhu dan Toilet di tempat-tempat ibadah, yang nantinya bisa digunakan oleh banyak orang.

 

Baca Juga :


Sementara pada saat itu isu kristenisasi sangat kuat, membuat masyarakat khawatir dengan anak-anaknya, mengingat 80% penduduk Lombok beragama Islam-pulau seribu Masjid. Isu ini telah menyebar kemana-mana, membuat satu sama lain saling mencurigai. Kejadian ini juga sangat membahayakan buat persatuan dan kesatuan. Bahkan bisa memicu terjadinya konflik antar agama. Apalagi kondisi masyarakat yang lagi sedang kalut, pikiran tidak menentu. Mudah sekali akan terpancing emosionalnya. Masyarakat lombok sangat relejius-isu agama menjadi sangat sensitif. Apalagi yang berkaitan dengan keyakinan, bagaimana hubungan manusia dengan tuhannya.

Namun kondisi itu, tidak menyurutkan semangat dan perjuangan mereka untuk membantu sesama. Apalagi Pulau lombok adalah pulau seribu masjid, di setiap gang, dusun, dan kampung kita bisa melihat masjid berdiri megah dengan dihiasi oleh ornamen-ornamen terbaik yang dibeli dengan harga yang mahal. Masyarakat berbondong-bondong membangun rumah ibadah. Mereka membangun dengan cara bergotong royong, dan mengeluarkan materi sesuai dengan kesepakatan dan kemampuan masyarakat. Mereka meyakini bahwa setiap agama mengajarkan perdamaian, bisa membangun harmonisasi kehidupan. Tapi bangunan itu sekarang sudah rata dengan tanah, tidak bisa digunakan lagi.

Masyarakat dalam menjalankan ibadahnya pasca Gempa Bumi, di bawah tenda-tenda masjid darurat, yang juga ikut di bangun oleh para relawan yang beragama lain. Mereka melakukan itu atas panggilan kemanusian, kita dilahirkan ke bumi tidak bisa memilih menjadi muslim atau non muslim. Oleh sebab itu, nilai-nilai persatuan dan kesatuan harus tetap dibingkai dalam Bahineka Tunggal Ika. Menghadirkan cinta bagi semua orang.

Saling menanggalkan ego masing-masing, dan tidak menganggap diri menjadi kebenaran tunggal, yang lain salah. Dalam kondisi bencana yang dibutuhkan adalah kebersamaan, saling meringankan beban satu sama lain. Karena saling curigai dan mencurigai hanya akan melahirkan perpecahan antar masyarakat, yang rugi adalah kita bersama.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan