logoblog

Cari

Tutup Iklan

Abaikan Hoax, Pantai Apenan Bangkit Kembali

Abaikan Hoax, Pantai Apenan Bangkit Kembali

Seperti biasanya, tat kala cakrawala barat mulai memerah darah, deretan kuliner pantai sibuk mengatur barang dagangannya. Kursi meja tertata rapi di

Rupa-Rupa

KM JONG CELEBES
Oleh KM JONG CELEBES
23 November, 2018 21:11:05
Rupa-Rupa
Komentar: 2
Dibaca: 6494 Kali

Seperti biasanya, tat kala cakrawala barat mulai memerah darah, deretan kuliner pantai sibuk mengatur barang dagangannya. Kursi meja tertata rapi di sepanjang pinggir trotoar dan menghadap ke arah pantai. Hilir-mudir rombongan pengunjung menelusuri sudut-sudut pantai, dan sebagian menyaksikan indahnya senja di kawasan langit barat sembari menikmati minuman dan makanan yang disajikan oleh para pedagang. Inilah Pantai Ampenan, Lombok Barat yang setiap sore hingga malam ramai oleh pengunjung. Namun tat kala gempa bumi dengan magnitudo 7.0 SR pada 5 Agustus 2018 mengguncang Pulau Lombok dan Sumbawa, aktifitas pedagang dan pengunjung di pantai itu hilang seketika. Mereka pada berpikir dan kuatir jika gempa yang begitu dasyat akan terulang lagi. Terlebih ketika informasi palsu atau hoax yang beredar lewat media sosial atau pun dari mulut ke mulut, bahwa tsunami akan terjadi di berbagai pantai, termasuk Pantai Ampenan, tentu membuat mereka semakin tidak berani berkunjung di pantai.

Selain itu, Gempa bumi dengan magnitudo 7.0 SR yang melanda Pulau Lombok dan sekitarnya tentu memiliki dampak sosial ekonomi pada kehidupan masyarakat. Terlepas dari banyaknya korban yang meninggal dunia, pengunsian pun terjadi di berbagai titik lokasi. Selain karena rumah mereka amruk oleh gempa, sebagian mereka takut berada di dalam rumah, terlebih ketika mereka mendengarkan berita palsu tentang tsunami . Dalam hal ini, tentu pula berpengaruh terhadap aktifitas kerja, seperti pada sektor perdagangan.

Munculnya berita tidak jelas atau hoax pada masyarakat Lombok, khususnya bagi masyarakat pedagang kuliner pantai adalah suatu tantangan berat.  Walaupun mereka tetap ada niat untuk menjalankan aktifitas kerja mereka, namun masih dirundung oleh rasa ketakutan. Di satu sisi, para pengunjung pun juga memiliki traumatik terhadap gempa susulan, apalagi dengan adanya issu tidak jelas tentang tsunami.

Dalam menghadapi berita tidak jelas atau hoax, khususnya yang terkait dengan issu tsunami, pemerintah pun bekerja sama dengan pihak BMKG dalam menginformasikan kondisi gempa dan tsunami. Selain itu, lewat media sosial, berita-berita kebohongan itu disangkal dan diluruskan oleh para penentang hoax. Bahkan peraturan dan perundang-undangan tentang berita tidak jelas menjadi serangan pada pembuat berita tidak jelas. Hal lain adalah munculnya Forum Group Discussion (FGD) dengan tujuan mengajak masyarakat untuk melawan hoax, seperti yang berlangsung di Balai ITE Mataram, (24/10/2018). Namun tentu pula tidak terlepas dari tingkat kecerdasan bagi warga masyarakat dalam menterjemahkan issu-issu kebohongan, sehingga secara lambat-laun mereka akan sadar kalau issu tsunami yang beredar di media sosial, dan atau dari mulut-ke mulut adalah suatu kebohongan.

Dalam pengembangannya, kurang lebih satu minggu setelah gempa bumi dengan magnitude 7.0 melanda Pulau Lombok, warga masyarakat pun mulai beraktifitas kembali dan tak mau mendengarkan lagi issu tsunami. Walaupun hoax itu masih ada, namun mereka sudah berani mengabaikannya. Yopi (60 th) salah seorang pengunjung setia Pantai Ampenan mengatakan, “ Biarkan aza orang bicara tentang tsunami, tapi buktinya aman-aman aza di pantai. Semua itu hoax,” ujarnya dengan nada tegas.

 “ Tsunami itu kalau akan terjadi ada tanda-tandanya. Misalnya burung-burung di laut tidak ada, air lagi surut sekali, dan banyak ikan yang bertepi di pantai. Jadi gak perlu pikirkan tsunami karena tanda-tanda itu gak ada di pantai ini,” ujar Dedy (37 th),  adalah salah seorang warga Dasan Agung Mataram yang hampir setiap sore menyempatkan diri untuk menikmati senja di Pantai Ampenan.

Demikian juga dengan Hadijah yang dipanggil DJ (35 th), salah seorang pedagang “Pelecing”  Pantai Ampenan mengatakan bahwa “ Gak usah pikirkan tsunami. Kalau memang Tuhan Menghendaki, ya akan terjadi. Tapi justru semakin dipikirkan kita semakin takut, tidak jadi dong kita dagang,”ujarnya dengan sedikit melucu.

Lain halnya dengan Nanda (38 th) yang berprofesi sebagai pedagang pisang goreng, ia pun mengakui dirinya kalau sangat takut terhadap gempa, apalagi tsunami yang sering diissukan oleh orang-orang yang tidak betanggungjawab. Olehnya itu, ia pun selalu mengharuskan diri untuk selalu berkonsultasi dengan orang-orang yang dianggap paham tentang tsunami, entah itu pada seorang nelayan tua, atau pun  pada pengunjung yang dianggap pemikirannya dewasa dalam memberikan kejelasan tentang gempa dan tsunami. Hasilnya pun, dirinya tak ingin memikirkan tsunami, bahkan ketika seorang pengunjung yang membahas tentang tsunami, ia pun seolah-olah tak mau mendengarkan, atau mengabaikan pembicaraan tersebut.

 

Baca Juga :


Berdasarkan pengamatan, sekitar satu minggu setelah gempa dengan magnitude 7.0 SR melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, para pedagang kuliner pantai di Ampenan, Mataram berangsur-angsur kembali beraktifitas seperti semula. Demikian juga dengan pengunjung, mereka pun menampakkan diri kembali tanpa ada rasa kekuatiran terhadap gempa ataupun issu tentang tsunami. Seperti biasanya, mereka pun menjelajahi sudut-sudut pantai semabari berselfi-ria. Sebagian pula kembali menyaksikan indahnya senja di kawasan pantai sembari mencicipi hidangan para pedagang yang telah disajikan di atas meja.

Kini, geliat Pantai Ampenan menunjukkan kebangkitannya kembali. Hampir setiap sore kawasan ini dipadati oleh para pengunjung. Mereka seolah-olah melepaskan rindu setelah dijedahkan oleh situasi gempa yang kian dasyat. Terlebih jika pada akhir pekan, hilir-mudir pengunjung menyusuri trotoar pantai, yang seolah-olah akan menutupi wilayah trotoar yang telah dibangun oleh pemerintah Kota Mataram. Demikian juga dengan pedagang-pedagang kuliner pantai, mereka pun semakin sibuk dan tampak ceria melayani para pengunjung yang telah kembali menyapanya.

Seiring dengan bangkitnya kembali Pantai Ampenan sebagai salah satu kawasan wisata di Pulau Lombok, geliat pemerintah setempat semakin tampak. Sejumlah berugak yang bertengger di atas tembok pembatas pantai menjadi daya tarik pengunjung. Demikian juga dengan areal trotoar yang memanjang mengikuti batas bibir pantai, pemerintah setempat telah membenahinya sehingga tampak lebih indah dan rapi.( By ANDI MULYAN) #LombaNTBKita.

 

 



 
KM JONG CELEBES

KM JONG CELEBES

Andi Mulyan Datu Tjondong Dari Kabupaten Soppeng (Sul-Sel) -, tinggal di Selong/Mataram , fb: - Aron Zaan, No. Hp. 085337771699, pendikan Si (sastra perancis -UNHAS),pendidikan : S2 Sosiologi,ngabdi di UNU NTB MATARAM< UGR LOTIM<

Artikel Terkait

2 KOMENTAR

  1. Abu Jihad

    Abu Jihad

    30 November, 2018

    mantap pak


  • KM BONGAK

    KM BONGAK

    29 November, 2018

    keren pak


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan