logoblog

Cari

Jeleng Minyak, Tradisi Muharaman Di Abiantubuh

Jeleng Minyak, Tradisi Muharaman Di Abiantubuh

Tanggal 10 Muharram banyak diperingati sebagai hari besar Islam. Bulan Muharram atau dalam istilah penanggalan jawa disebut bulan suro merupakan bulan

Rupa-Rupa

KM. Abiantubuh
Oleh KM. Abiantubuh
06 Oktober, 2018 12:05:08
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 8670 Kali

Tanggal 10 Muharram banyak diperingati sebagai hari besar Islam. Bulan Muharram atau dalam istilah penanggalan jawa disebut bulan suro merupakan bulan yang sering dilekatkan dengan cerita mistis. Bahkan, sampai saat ini ada beberapa pihak yang tidak berani menyelenggarakan acara atau hajatan di bulan muharram atau suro karena kemistisan di bulan pertama tahun hijriyah ini. Dibalik semua itu, bulan Muharram atau bulan suro sebenarnya memiliki sejarah yang besar bagi perjalanan Islam di dunia. Pada tanggal 10 muharram tersebut, ada tujuh peristiwa besar yang harus diketahui oleh umat muslim di seluruh dunia. Pertama di tanggal 10 Muharram Nabi Adam bertobat kepada Allah. Kedua Berlabuhnya kapal Nabi Nuh di bukit Zuhdi
Ketiga, selamatnya Nabi Ibrahim dari siksa api Namrud, Keempat, Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara Mesir. Ke Lima, Nabi Yunus keluar dari perut ikan hiu serta beberpa kisah lagi yang terjadi persis di tanggal 10 Muharram. Di Abiantubuh, malam 10 Muharram juga diperingati warga dengan bersama-sama mengaji surah Yasiin atau membuat bubur. 
Selain itu ada hal unik yang menjadi tradisi di bulan Muharram, yaitu pembuatan minyak obat secara tradisional atau biasa disebut “Nyeleng Minyak”.  Minyak yang dibuat bisa digunakan untuk berbagai macam penyakit, terutama luka dan terkena benda tajam. 
Acara Nyeleng minyak yang diadakan sekali dalam setahun ini, dilaksanakan di sebuah rumah tokoh agama, yang dekat dengan masjid. Sejak beberapa hari sebelumnya masyarakat telah mengumpulkan bahan yang akan dijeleng menjadi minyak. Terutama kelapa sebagai bahan utama pembuat minyak. Disiapkan juga bahan-bahan lain seperti rempah-rempah yang dalam bahasa lokalnya disebut isin rong yang terdiri dari semua jenis rempah herbal untuk pengobatan atau ragi.  Usai shalat isya, warga masyarakat mulai memarut kelapa. Mereka yang memarut kelapa harus dalam kondisi suci atau berwudlu. Selain itu, mereka juga diharuskan mewiridkan atau membaca kalimah tayyibah seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar, atau bacaan shalawat hingga selesai memarut. Semua kelapa diparut secara manual, kecuali kelapa terlalu banyak maka akan dipilih opsi sisanya akan diparut menggunakan mesin. Opsi ini akan ditempuh manakala sudah taka da waktu dan santan harus sudah diproses. 
Setelah semua siap maka dilakukanlah pembuatan minyak obat menggunakan wajan besar atau kuali. Proses mengaduk santan ini bisa berlangsung sampai pagi harinya.  Hasil pembuatan minyak obat biasanya akan dibagi kepada seluruh masyarakat yang terlibat.

 

Baca Juga :




 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan