logoblog

Cari

Tutup Iklan

Menengok Nenek 120 Tahun Di Tenda Pengungsi

Menengok Nenek 120 Tahun Di Tenda Pengungsi

Saat gempa berkekuatan 7 skala richter membuat rumah-rumah di sekeliling rumah Puq Jati mulai ambruk, perempuan yang telah berusia 120 tahun

Rupa-Rupa

Novita Hidayani
Oleh Novita Hidayani
16 Agustus, 2018 14:08:51
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 8262 Kali

Saat gempa berkekuatan 7 skala richter membuat rumah-rumah di sekeliling rumah Puq Jati mulai ambruk, perempuan yang telah berusia 120 tahun itu masih berada di dalam rumahnya.

Fatahul Haziz (30) salah seorang cucunya dengan sigap kembali masuk ke rumah dan menggendong perempuan tertua di desanya itu dan membawanya keluar dari rumahnya. Beruntung, puq Jati berhasil keluar dengan selamat, tanpa terluka oleh reruntuhan rumahnya.

Puq Jati, perempuan tertua di Dusun Orong Kecamatan Batu Layar Lombok Barat, menurut kesaksian keluarga dan warga di desanya telah berusia 120 tahun.
Menurut keterangan anak ke-7nya, Dahrim yang telah berusia 60 tahun lebih, ibunya tersebut memiliki 9 anak, dimana dua di antaranya telah meninggal dunia. Anaknya sendiri yang telah meninggal diperkirakan berusia 80 hingga 70 tahun lebih.

"Saudara saya ada sembilan, dua sudah meninggal," jelas Dahrim yang dalam kondisi sakit-sakitan.

Puq Jati sendiri sebelum serentetan gempa yang mengguncang Lombok, masih dalam kondisi prima meskipun pendengarannya telah terganggu. Pasca gempa, kondisinya menjadi kurang sehat. Ia tak mampu lagi berjalan dan matanya dirasa sedikit gatal dan berair.

"Kaki saya ndak bisa jalan. Sakit. Habis gempa ndak bisa jalan," tutur Puq Jati sembari menggosok-gosok matanya.

Kini pasca gempa yang telah memporak-porandakan rumahnya, Puq Jati dan seluruh warga di Dusun Orong mengungsi menggunakan terpal-terpal di beberapa titik dan hanya beralaskan tikar tipis di atas tanah lapangan. Bantuan para medis sendiri baru datang seminggu setelah gempa berkekuatan 7 sr pada minggu malam sebelumnya.

Di posko pengungsian, Puq Jati sempat membuat para pengungsi lainnya gempar karena teko airnya tertukar. Meski pendengarannya terganggu, ia masih mengingat dengan jelas barang-barang miliknya, anak-anaknya, serta cucu dan cicit-cicitnya.

 

Baca Juga :


"Teko airnya ini pokoknya ndak boleh tertukar. Airnya juga harus terisi penuh. Kalau tidak, Puq Jati bakalan marah-marah. Seperti pas tertukar pertama kali waktu pertama kali mengungsi di sini, kita semua ribut dan sibuk mencarikan teko airnya yang tertukar," cerita Ahmad Tohir, Ketua Remaja Dusun Orong yang juga merupakan tetangga Puq Dahrim.

Puq Jati juga dikenal selalu ceria dalam kesehariannya, meski usianya telah lebih dari satu abad. Ia juga dikenal tidak pernah lupa mengerjakan solat lima waktu di dalam keadaan apapun karena itu ia tak bisa pisah dengan teko airnya.

"Teko air itu harus selalu penuh, harus selalu berada di dekat dia, dan tidak boleh tertukar. Soalnya teko air itu untuk dia wudu. Puq Jati ndak pernah lupa solat lima waktunya," tutur Risa'i, salah seorang cucunya yang kini telah berusia 35 tahun.

Rahasia panjang umur Puq Jati konon karena makanannya. Menurut cucu-cucunya, Puq Jati tidak pernah makan daging-dagingan. Untuk makan sehari-hari, Puq Jati selalu mengkomsumsi umbi-umbian dan sayur-sayuran.

Anak-anak, cucu-cucu, cicit-cicit, dan para tetangganya berharap Puq Jati bisa selalu sehat meski akan tinggal di tenda pengungsian yang dingin selama beberapa waktu. Hingga rumahnya yang telah hancur dapat berdiri lagi dan bencana gempa di Lombok dapat segera berakhir. (novita-tim media)



 
Novita Hidayani

Novita Hidayani

email: hidayaninovita@gmail.com facebook: Novita Hidayani twitter: @yfoundme

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan