logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pro dan Kontra Sertifikat Untuk Pendaki

Pro dan Kontra Sertifikat Untuk Pendaki

Berbagai kebijakan baru diterapkan oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Rinjani  demi menjaga kelestarian gunung kebanggaan NTB tersebut. Selain akan merilis e-rinjani

Rupa-Rupa

Novita Hidayani
Oleh Novita Hidayani
19 Juli, 2018 16:39:45
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 3332 Kali

Berbagai kebijakan baru diterapkan oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Rinjani  demi menjaga kelestarian gunung kebanggaan NTB tersebut. Selain akan merilis e-rinjani yaitu tiket pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) secara online agustus mendatang, KPH Rinjani juga akan membuat sertifikat untuk para pendaki yang berhasil menaklukan gunung Rinjani.

"Sertifikat ini akan menjadi kebanggaan sendiri bagi para pendaki. Karena kalau cuma fotoan atau selfie kan bisa diedit, kalau sertifikat ini asli berstempel KPH," jelas Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, Sudiono (17/7).

Pemberian sertifikat ini merupakan rangkaian dari upaya pemerintah menjaga kelestarian TNGR serta menjaga keamaan para pendaki. Selain pemberian sertifikat, e-rinjani dengan pemberlakuan check in dan check out, pertanggungjawaban sampah pendaki yang lebih ketat, KPH juga memberlakukan surat izin kepada Trecking Organiser, guide dan porter yang ada di sana.

"Sejauh ini dari 120 trecking organiser yang ada, 89 sudah berizin. Sementara itu dari 1288 guide dan porter yang ada, 786 porter dan guide sudah berizin, dengan rincian porter 573 dan guide 213 org. Hal ini dilakukan demi terjalinnya komunikasi yang baik antara pelaku wisata dengan pemerintah," jelas Sudiono.

Sejalan dengan akan diberikannya sertifikat bagi para pendaki, pro dan kontra terjadi di masyarakat. Ada yang menyambut baik wacana yang akan dieksekusi agustus mendatang itu, ada pula yang tidak setuju. Wahyu Setiawati (24) salah seorang mahasiswi Magister Universitas Mataram salah satu yang menyetui diberikannya sertifikat ini.

 

Baca Juga :


"Setuju donk. Kan sertifikat ini nantinya sebagai bukti kita telah menjadi pendaki yang baik. Gak ngelakuin vadalisme, ninggalin sampah, atau metik edelweis. Selain itu sertifikatnya bisa kita gunakan untuk ikut pertukaran mahasiswa misalnya sebagai salah satu prestasi. Kan gak semua orang bisa ngendaki ya!" jelas gadis asal Labuapi ini.

Suara sumbang juga datang dari beberapa orang yang kurang setuju dengan diberikannya sertifikat ini.  Pualanesha (21) mahasiswi Ilmu Komunikasi S1 Universitas Mataram salah satunya.

"Kalau tujuannya cuma untuk panjat sosial kan gak banget. Untuk apa repot-repot buat sertifikat. Gak semua orang yang naik gunung kan butuh sertifikat," komentarnya. (tim media)



 
Novita Hidayani

Novita Hidayani

email: hidayaninovita@gmail.com facebook: Novita Hidayani twitter: @yfoundme

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan