logoblog

Cari

Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut Ke Pantai

Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut Ke Pantai

Orang Bugis-Makassar terkenal sebagai pelaut ulung. Mereka berani mengarungi samdera yang luas hingga ke berbagai pulau yang ada di Indonesia, bahkan

Rupa-Rupa

KM JONG CELEBES
Oleh KM JONG CELEBES
13 Juli, 2018 13:47:58
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 60724 Kali

Orang Bugis-Makassar terkenal sebagai pelaut ulung. Mereka berani mengarungi samdera yang luas hingga ke berbagai pulau yang ada di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Penjelajahan di lautan samudera, mereka hanya menggunakan perahu pinishi, perahu yang hanya mengandalkan layar terkembang. Keberanian mereka dalam mengarungi lautan samudera didasari suatu perinsip hidup, yaitu “Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut Ke Pantai”.

“Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut Ke Pantai”, diartikan “Lebih Kupilih Tenggelam (di lautan) daripada Harus Kembali Lagi (ke pantai)”. Arti harafiah dari perinsip hidup ini adalah bahwa masyarakat Bugis-Makassar memiliki sifat keberanian. Dalam menjalankan prinsip hidup ini, orang Bugis-Makassar didasari suatu kearifan lokal dan penuh perhitungan yang matang.

Perinsip hidup atau pepatah tersebut merupakan sebuah catatan lama dari perantauan orang Bugis-Makassar pada abad XVII. Catatan perantauan menjelaskan bahwa motivasi perantauan bagi orang Bugis-Makassar signifikan dengan “pengalaman pahit” yang dialaminya di Negeri sendiri, sehingga mereka bermaksud “membuang diri” beserta kepedihannya di Negeri Rantau yang jauh. Berbagai macam rintangan di tengah laut patut untuk dihindari. Mereka pun memberanikan diri untuk menghalau semua tantangan yang dihadapi di lautan lepas.

Catatan sejarah mengenai I Mallombassi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin Sombayya Gowa, bahwa demi menyelamatkan rakyat yang kian menderita, keberanian adalah suatu keutamaan, namun segalanya memerlukan kearifan dalam berpikir.

Perinsip ini juga terkait dengan kehidupan nelayan Bugis-Makassar. Nelayan Bugis-Makassar memaknai bahwa "Lebih memilih tenggelam di lautan daripada harus kembali lagi ke pantai tanpa hasil".

 

Baca Juga :


Dalam kehidupan masyarakat luas yang ada di tanah Bugis-Makassar, peribahasa ini memberi makna bahwa tatkala orang Bugis-Makassar mengambil suatu keputusan, maka mereka pun tidak ada keraguan dalam menjalaninya, walaupun itu berbagai macam tantangan dan rintangan yang menghadang.

Demikian juga pada perantau Bugis-Makassar yang tersebar di berbagai penjuru tanah air Indonesia bahkan di luar negeri, mereka pun tak akan menyerah dalam berjuang di tanah rantau. Pahit dan getirnya hidup, mereka pun siap dan tabah dalam bertahan hidup. Orang Bugis-Makassar pun juga menganut budaya “sirik”, artinya malu. Mereka akan malu di kampung halaman, atau pada sanak-saudara jika tidak meraih suatu kesuksesan di tanah rantau. Itulah sebabnya rata-rata perantau Bugis-Makassar berjuang matian-matian untuk mewujudkan mimpi mereka demi untuk mengangkat derajat mereka di depan keluarga atau sanak-saudara. []



 
KM JONG CELEBES

KM JONG CELEBES

Andi Mulyan Datu Tjondong Dari Kabupaten Soppeng (Sul-Sel) -, tinggal di Selong/Mataram , fb: - Aron Zaan, No. Hp. 085333838169, pendikan Si (sastra perancis -UNHAS),pendidikan : S2 Sosiologi,ngabdi di UNU NTB MATARAM< UGR LOTIM<

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan