logoblog

Cari

Tutup Iklan

Menjadi Perokok Teladan (Curhatan Versi Perokok)

Menjadi Perokok Teladan (Curhatan Versi Perokok)

Menjadi perokok, mungkin sebuah pilihan dan bukanlah takdir. Seharusnya, pilihan itu dihargai dan dihormati. Bukan diremehkan dan disudutkan. Apalagi menyebut perokok

Rupa-Rupa

Azwar Zamhuri
Oleh Azwar Zamhuri
14 April, 2018 19:20:31
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 3026 Kali

Menjadi perokok, mungkin sebuah pilihan dan bukanlah takdir. Seharusnya, pilihan itu dihargai dan dihormati. Bukan diremehkan dan disudutkan. Apalagi menyebut perokok egois dan bukan sosok idaman. Sungguh sangat menyayat hati melebihi perihnya diputuskan pacar yang sangat dicintai. 

Lahir dan besar dalam keluarga pecandu rokok. Kakek, ayah, om, paman, misan dan tetangga yang semuanya perokok. Bahkan dalam pergaulan, hanya segelintir kawan yang tidak membawa korek api kemana saja. 

Mengenal rokok sejak kecil, mulai mencicipi pada saat di Sekolah Dasar (SD). Beranjak SMP tidak menyentuhnya, namun mulai di bangku Madrasah Aliyah (MA) sudah menjadi perokok berat. 

Ibu, adalah wanita pertama yang meminta berhenti merokok. Menuntut jangan merokok. Memberikan pemahaman bahaya dan ruginya menghisap benda bernikotin itu. 

Ketika sekolah, sempat berjuang melepas diri dari cengkraman rokok Surya yang menjadi favorit. Berhasil beberapa hari saja merelakannya, namun Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK). Tak kuat rasanya jauh dari benda yang dibakar itu, galau dan merana sepanjang waktu. 

Persoalan rokok merambah kemana-mana. Tidak terkecuali dalam dunia asmara, masih saja rokok menjadi masalah. Berdiskusi, berdebat hingga bertengkar menjadi konsekuensi. 

Dan inilah Curhatan saya, isi hati kami kaum perokok. 

Dalam sehari, minimal Rp 20.000 habis untuk biaya merokok. Artinya sebulan Rp 600.000, dan setahun uang untuk rokok hanya sekitar Rp 7.200.000. Jumlah tersebut sekedar minimal. Nominal kecil dan besar, tergantung sudut pandang. 

Beli rokok, kemudian membakar dan menghisapnya. Begitu saja irama dan prosedur merokok, tidak ada inovasi atau gaya kreatif untuk menikmatinya. Menjenuhkan, tentu saja tidak. Membuat ketagihan, itu sudah pasti. 

Semua perokok, pasti sempat terbersit dalam pikirannya untuk berhenti. Namun untuk bisa melakukan itu, tidaklah semudah mengucapkan I Love You. Berat, lebih sulit dari mengikhlaskan hubungan cinta yang kandas. 

Saya, sudah berkali-kali mencoba berhenti. Telah khatam merasakan lika-liku berjuang. Pengalaman asam-garam memilih untuk berpisah, nyatanya masih saja bertahan. Ibarat seseorang yang rela tersakiti demi menjaga hubungan cinta. 

Saya, hingga saat ini masih ingin berhenti merokok. Lelah mendengar keluhan, jenuh dicerami soal kesehatan. Berhenti merokok, sama juga dengan mengurangi pengeluaran. Anggaran bisa dialihkan untuk kebutuhan lain. 

Perokok selalu dituntut menghargai dan menghormati yang tidak merokok. Namun sebaliknya, perokok sangat jarang dihargai dan dihormati. Justru dicaci dan dibatasi, dicemoohi tanpa mau mengerti. 

Andaikan saja, berhenti merokok semudah selingkuh atau move on dari mantan. Tentu akan banyak perokok memilih melepaskan daripada bertahan. Rela berpisah demi hidup yang lebih cerah. 

Banyak hal yang tidak diketahui oleh penghina rokok. Padahal untuk bisa berhenti, yang dibutuhkan perokok adalah pengertian, bukan cacian. Inginkan dukungan, bukan cemoohan. 

Ketika hati bahagia, menghisap rokok menjadi penyempurna. Berkumpul dengan kawan menambah keasyikan. Hati sempit, dengan rokok menjadikan hidup tidak rumit. Ada masalah, mencari solusi menjadi lebih mudah. 

Belum lagi ketika menikmati kopi, rokok sudah pasti harus menemani. Berhenti, artinya harus bermusuhan juga dengan kopi. Keduanya sulit terpisahkan seperti cinta sejati yang selalu dipersatukan. 

 

Baca Juga :


Lalu bayangkan ketika rokok harus dibuang. Bagaimana saya akan membahagiakan orang tersayang. Jika ide-ide menjadi dangkal, kreatifitas tidak jalan. Pekerjaan sulit terselesaikan. Semua itu haruskah dikorbankan? 

Meminta berhenti merokok, artinya dengan sengaja membuat perasaan saya tidak nyaman. Tidur menjadi susah, tidak ada lagi pengusir lelah. Hati mudah tersinggung, sensitif dan gampang tersulut emosi. 

Pekerjaan menjadi berantakan, karena sulit berkonsentrasi. Kepala terasa pusing, nyeri di kening. Bahkan hati menjadi perih seperti ketika kekasih ingkari sebuah janji. Semua itu terjadi ketika rokok tidak dikonsumsi. 

Belum lagi membayangkan saat berkumpul dengan kawan. Meneguk kopi menghisap rokok penuh kenikmatan. Jika ingin berhenti merokok, harus pandai hindari pertemuan. Tidak ada bisikan Syetan disini, tapi melihat tukang parkir dengan rokok di mulutnya saja sudah mengundang hasrat. 

Sungguh, semua orang ada keinginan berhenti merokok. Tapi situasi dan kondisi tidak pernah mendukung. Tuhan telah menciptakan banyak kenikmatan, memberikan karunia tidak terhitung, salah satunya rokok. 

Demi hidup yang lebih baik, selalu ingin membuang karunia Tuhan itu. Menggantikannya dengan kenikmatan yang lain. Namun yang kami dapatkan ledekan, tidak banyak yang percaya betapa sulitnya berhenti merokok. 

Dan tahukah waktu ternikmat menghisap rokok? Bukan setelah makan, tidak juga bersama tegukan kopi. Tapi, merokok ternikmat saat bisa menghisap dalam asapnya, sambil memandang indah wajah orang terkasih. 

Sayangnya, kenikmatan ternikmat itu selalu saja direnggut dan digagalkan. Merokok dianggap menyakiti orang lain, membuat sakit orang terkasih. Sebuah tudingan yang keji dan gagal paham. 

Semoga saja, suatu saat nanti ditemukan sesuatu yang mampu membuat orang mudah berpisah dengan rokok. Tentu saja, sesuatu yang baru. Persis, seperti kenangan mantan yang dihapus oleh sosok yang baru.

Jika tidak ada cara terbaik untuk berhenti merokok, maka izinkanlah saya tetap menjadi perokok. Semoga bisa seperti Einstein, yang menemukan Teori Relativitas saat menghisap rokok. 

Atau melalui kenikmatan rokok, menjadikan begitu hebatnya seorang Sartre, Albert Camus, Derrida, Sigmund Freud dan lainnya. 

Saya juga ingin seperti Soekarno, Che Guevara, Winston Churcill, John Kennedy, Jenderal Sudirman, Steve Jobs, Mao Zedong, Winston Churcill dan orang-orang yang banyak berjasa karena bantuan asap rokok. 

Ada pula para sastrawan-pemikir, mulai Rudyard Kipling, Hemingway, Mark Twain, Pablo Neruda, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, KH Said Aqil, Gus Mus, Cak Nun, dan lain sebagainya.

Mungkin, solusi terbaik adalah menjadi Perokok Teladan. Yaitu, Merokok Pada Tempatnya. Tidak mengganggu dan tidak merugikan orang lain. 

Salam... 
(Perokok Teladan)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan