logoblog

Cari

Tutup Iklan

Meniti Hidup dengan Usaha Serabi

Meniti Hidup dengan Usaha Serabi

Taliwang – Kominfo. Kabut tipis masih terlihat, udara pun masih terasa dingin. Namun pejalan kaki sudah terlihat ramai di sekitar alun-alun

Rupa-Rupa

Feryal Mukmin Pertama
Oleh Feryal Mukmin Pertama
03 April, 2018 11:27:39
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 1683 Kali

Taliwang – Kominfo. Kabut tipis masih terlihat, udara pun masih terasa dingin. Namun pejalan kaki sudah terlihat ramai di sekitar alun-alun kota. Pagi itu adalah hari libur. Sebagaimana alun-alun kota pada umumnya, banyak warga yang menyempatkan diri jalan-jalan pagi dan berolahraga disekitar alun-alun Kota Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Adalah Misbah, 45, warga lingkungan Semoan Kelurahan Kuang yang setiap pagi menjual dagangannya tepat di depan masjid Alun-alun kota Taliwang. Ibu dari tiga orang anak itu sudah menjadi pedagang selama 25 tahun sejak dirinya menikah. Memanfaatkan tempat berukuran 2 x 2 meter di sudut alun-alun kota, menggunakan sebuah meja dan dua buah cetakan adonan jajan yang diletakkan di atas tungku panggangan, pada Sabtu (31/3).

Waktu menunjukkan tepat pukul 05.45 WITA. Misbah berusaha menyiapkan tempat dan adonan yang akan dipanggang menggunakan cetakan tersebut. Ada sesuatu yang menarik perhatian ketika melihat cara tradisional membuat jajanan menggunakan cetakan yang terbuat dari tanah liat.

Ya, namanya serabi, jajanan tradisional yang telah ada sejak puluhan tahun itu memiliki aroma dan rasa yang khas, hal itu lah yang menjadi ciri khas tersendiri bagi setiap orang yang ingin mencicipinya. Bukan rahasia lagi bagi masyarakat, tetapi juga suatu keunikan ketika membuat jajanan yang telah puluhan tahun ini masih dengan alat tradisional diantara banyak cetakan yang lebih moderen.

"Cetakan dari tanah liat ini yang membuat rasa dan aroma khas dari serabi tidak hilang, kalau pake cetakan yang besi rasa dan aromanya berbeda," ucap Misbah sembari memasukan kayu bakar ke dalam tungku.

 Senyum di wajahnya tak pernah luntur ketika melayani pembelinya. Misbah pun perlahan menceritakan kondisi kehidupannya. Keadaan ekonomi dan kebutuhan hiduplah yang membuat dirinya membuka usaha kecil-kecilan di alun-alun kota ini.

"Sudah berbagai macam usaha yang saya lakukan, tetapi usaha inilah yang bertahan, yang penting halal. Walaupun hasilnya pas-pasan yang penting bisa beli beras setiap harinya," papar perempuan paruh baya itu.

 

Baca Juga :


Sejak menikah, hidupnya selalu pas-pasan, segala usaha telah dilakukannya demi membantu suami mencari nafkah untuk menghidupi ketiga orang anaknya. Namun pekerjaan itu tak kunjung ia dapatkan, karena pendidikan Misbah hanya sampai di bangku SMP.

"Selama 25 tahun saya berjualan serabi ini. Saya enggak masalah jualan begini. Hanya ini yang bisa saya lakukan. Yang penting bisa makan," imbuh Misbah sambil menuangkan adonan ke tungku percetakan.

Dengan modal Rp 75 ribu perhari ia gunakan untuk membeli bahan adonan dan kayu bakar. Untuk satu pasang serabi dijual seharga Rp1000. Dari hasil jualannya setiap hari Misbah menghasilkan Rp 100 ribu - Rp 150 ribu. Namun sering juga ia pulang dengan hanya membawa hasil jualan dibawah Rp 50 ribu karena sepi pembeli.

"Tidak perlu hasilnya banyak, asalkan ada dan sebagiannya bisa ditabung untuk sekolah anak-anak, dan alhamdulillah saya dan suami bisa menyekolahkan dua orang anak sampai tamat," ujar Misbah.

Menurutnya, ini adalah usaha besarnya dalam menghidupi keluarga, ada satu impian kecilnya yaitu menjadikan bisnisnya ini menjadi sebuah bisnis besar yang dikenal orang banyak. (KominfoFer/Rangga/eko)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan