logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pedagang Tikar Pandan Menerima Anugerah Kampung Media

Pedagang Tikar Pandan Menerima Anugerah Kampung Media

Kaget dan terharu, itulah ekspresi Amaq Salimah ketika mengetahui dirinya mendapat penghargaan Anugerah kampung Media. Amaq Salimah adalah salah satu sosok

Rupa-Rupa

KM JONG CELEBES
Oleh KM JONG CELEBES
14 Januari, 2018 14:57:12
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 4016 Kali

Kaget dan terharu, itulah ekspresi Amaq Salimah ketika mengetahui dirinya mendapat penghargaan Anugerah kampung Media. Amaq Salimah adalah salah satu sosok inspiratif yang sempat kena bidik potret oleh seorang jurnalis kampung media. Berkat bidik potret dari jurnalis KM Jong Celebes, perjuangan hidup dari seorang Amaq Salimah yang berprofesi sebagai pedagang tikar pandan keliling di Kota Mataram menjadi berita hangat pada Portal Jurnalisme kampung media NTB. Suatu keberuntungan, tulisan yang mengupas tentang cerita hidup dari Amaq Salimah, dengan judul “Perlawanan Lelaki Tua Dalam Arus Globalisasi” menjadi salah satu pemenang dalam kategori sosok inspiratif pada Malam Penghargaan dan Anugerah Kampung Media yang berlangsung di Hotel Lombok Astoria Mataram, Kamis, 21 Desember2017.

Amaq Salimah adalah seorang pedagang tikar daun pandan yang hampir tiap hari memasarkan barang dagangannya di sudut-sudut perkotaan. Usai sholat subuh, ia pun bergegas meninggalkan kampung halamannya menuju Terminal Mandalika Mataram dengan menggunakan transportasi umum. Dari terminal, ia pun mulai melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Dari lorong-lorong jalan hingga ke berbagai lokasi perumahan, menjadi rute perjalanan dari seorang Amaq Salimah dalam mengais rezeki.

Dalam usia yang sudah memasuki delapan puluh lima tahun, ia tetap gigih dalam menukuni profesi sebagai pedagang tikar trdisional, walaupun jenis pekerjaan yang digelutinya adalah membutuhkan tenaga atau kekuatan fisik yang cukup tinggi. Namun kenyataan berbicara, lelaki tua yang lahir di zaman penjajahan Belanda ini, tetap tampak tegar memikul beban di pundaknya, yaitu dengan menggunakan alat pemikul berupa potongan bambu.

Di setiap ujung bambu itu, barang dagangan berupa tikar daun pandan yang tergulung rapi digantungkan. Ia pun juga tak lupa membawa sebuah tas rajutan plastik yang berisi perlengkapan sholat dan sebuah botol plastik air miunum, yang juga menggantung pada ujung pemikul itu.

Bagi Amaq Salimah, waktu adalah uang. Prinsip hidup yang sudah tak asing ini membuat dirinya tetap ulet untuk bekerja sebagai pedagang keliling. Bahkan, ia pun tak akan pulang ke kampung halamannya sebelum barang dagangannya habis terjual.Terkadang empat atau enam hari menginap di kota, yaitu di sebuah masjid.

Suatu perinsip hidup yang melekat pada diri Amaq Salimah, bahwa selagi Tuhan memberi kekuatan, ia pun tetap akan berjuang mengais rezeki, walaupun umur sudah sangat lanjut. Ia pun juga tak mau manjadi beban orang atau keluarga. Bahkan, ia sangat bersyukur ketika mampu memberi hadiah atau uang kepada cucu-cucunya.

Bila dikaji lebih dalam, Amaq salimah merupakan salah satu sosok warga kampung yang mampu mempertahankan kreatifitas tradisional atau kearifan lokal di tengah berkembangnya arus globalisasi dan teknologi moderen. Banyaknya warga masyarakat yang beralih pada tikar moderen, namun Amaq Salimah masih tetap berjuang untuk mempertahankan dan memasarkan tikar tradisional yang dirajut oleh para ibu-ibu yang ada di kampung halamannya. Sebagai sosok inspiratif, tentu Amaq Salimah telah banyak mengabdi kepada warga sekitar atau di kampung halamannya, yaitu membantu kaum ibu-ibu dan pedagang daun pandan dalam meningkatkan ekonomi keluarganya.

Atas kegigihan dan keuletan Amaq Salimah dalam memperjuangkan hidup, tentu layak bila diacungkan jempol, dan layak sebagai sosok inspiratif bagi orang-orang. Tak salah memang, ketika seorang jurnalis kampung media menemukan sosok pedagang tikar tradisional ini di pelataran sebuah masjid yang ada di Kota Mataram, ia pun langsung terkena bidik potret. Beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh Jurnalis KM Jong Celebes, dijawab dengan apa adanya, walaupun sosok lelaki tua ini masih kaku dalam menggunakan bahasa Indonesia.

Selang beberapa hari kemudian, sebuah tulisan yang muncul di media sosial mengupas cerita hidup dari seorang pedagang tikar tradisional. Dalam hal ini, perjuangan hidup Amaq Salimah yang berprofesi sebagai pedagang tikar keliling telah ditulis oleh KM Jong Celebes pada Portal Jurnalisme Kampung Media NTB, yakni pada pertengahan bulan November 2017.

Kamis, 21 Desember 2017, Malam Penghargaan Anugerah Kampung Media NTB digelar di Hotel Lombok Astoria Mataram. Fairuz Abadi selaku Kepala kampung Media membacakan nama-nama pemenang jurnalis kampung media. Alhamdulillah, pada malam itu, tulisan yang berjudul “Perlawanan Lelaki Tua Dalam Arus Globalisasi” disebut sebagai salah satu pemenang dalam kategori sosok inspiratif. Tulisan ini adalah kisah hidup Amaq Salimah yang berprofesi sebagai pedagang tikar pandan keliling, dan ditulis oleh KM JONG Celebes.  

 

Baca Juga :


Kemenangan KM Jong Celebes pada Malam Penghargaan Anugerah Kampung Media NTB, bukan berarti hanya sang jurnalis yang mendapatkan penghargaan. Akan tetapi, obyek yang ditulis pun, yakni Amaq Salimah juga mendapat penghargaan pada dari Kampung Media-kementerian KOMINFO. Olehnya itu, sebagai jurnalis yang berhasil mengupas kisah hidup dari seorang pedagang tikar hingga mendapat prestasi yangbaik, Jurnalis KM Jong Celebes merasa bertanggung jawab untuk menyodorkan penghargaan itu pada sang obyek yang ditulisnya.

Ada kesulitan jurnalis KM Jong Celebes dalam menemui sosok inspiratif yang membuat dirinya mendapatkan penghargaan dari Kampung Media. Amaq Salimah yang sebagai sosok inspiratif dalam tulisan itu tidak menetap di suatu tempat, atau di Kota Mataram. KM Jong Celebes pun akhirnya berkeliling di Kota Mataram demi untuk mencari sang sosok yang membuat dirinya mendapatkan kemenangan pada Malam Pengharagaan Anugerah Kampung Media.

Dua minggu lamanya menyusuri sudut-sudut Kota Mataram, namun KM Jong Celebes belum membuahkan hasil. Berbagai upaya telah dilakukan, entah dengan bertanya kepada banyak warga masyarakat sembari memperlihatkan gambar Amaq Salimah, dan atau pun dengan melalui jaringan eletronik, yakni facebook dan WA.

Setelah tiga minggu melakukan pencarian pada seorang Amaq Salimah, jurnalis KM Jong Celebes masih belum beruntung. Ia pun akhirnya nekad mencari sosok inspiratif (Amaq Salimah) di kampung halamannya, dengan membawa catatan alamat yang sesuai dengan apa yang tertulis pada tulisan “Perlawanan Lelaki Tua Dalam Arus Globalisasi”.

Alhasil, Amaq Salimah sangat di kenal di kampung halamannya. Hal inilah yang membuat sedikit ketenangan pada diri Jurnalis KM Jong Celebes. Namun sebelumnya, Jurnalis KM Jong Celebes tidak lupa memperlihatkan gambar Amaq Salimah yang terpajang di dalam ponsel sang jurnalis tersebut. Jurnalis Kampung Media ini pun akhirnya diarahkan menuju ke tempat kediaman Amaq Salimah.

Jalan berliku nan kecil di tengah perkampungan terpencil, belum lagi harus melewati sebuah jalan sempit yang membentang di tengah persawahan. Demikian pula dengan fisik jalan yang berupa tanjakan dan turunan, harus dilewati ketika akan menembus ke lokasi tempat tinggal Amaq Salimah. Namun Jurnalis KM Jong Celebes tetap berjuang dengan tenang untuk bertemu dengan seorang lelaki tua yang telah ditulis di media sosial hingga menjadi seorang pemenang. Bagi jurnalis yang satu ini, “Ketika suatu amanah dari Tuhan melalui orang lain, dalam hal ini adalah Kampung Media, hal itu adalah sebuah tanggung jawab besar yang harus disampaikan agar kita tetap berada pada jalan yang benar dan dalam suatu kejujuran”. Perinsip hidup inilah yang membuat Jurnalis KM Jong Celebes tetap bersemangat untuk mencari lelaki tua itu hingga berhasil menemukannya di tempat tinggalnya. Namun pada waktu itu, Jurnalis Kampung Media ini diajak oleh Amaq Salimah menuju ke sebuah rumah yang cukup sederhana, dan rumah itu adalah milik dari anak kandung Amaq Salimah.

Pertemuan Jurnalis Km Jong Celebes dengan Amaq Salimah sungguh membahagiakan. Tiga minggu lamanya sang jurnalis ini berkeling di Kota Mataram mencari sang sosok inspiratifnya, namun akhirnya bertemu di sebuah perkampungan terpencil. Ucapan terimah kasih yang sebanyak-banyakanya mengalir dengan nada gembira dari bibir lelaki tua itu, tatkala sebuah amplop berwarna putih hinggap ditangannya. Spontanisasi kalimat terima kasih yang dilantungkan oleh Amaq Salimah adalah tanda syukur kepada Allah SAW, karena berkat pemerintah, Kampung Media, dan sang penulisnya, ia pun telah mendapat rezeki yang jauh sebelumnya tidak pernah disangka-sangka.

Namun di awalnya, Amaq Salimah seolah-olah tak percaya ketika diberitakan bahwa dirinya mendapat penghargaan dari Kampung Media. Tatkala Jurnalis KM Jong Celebes mengeluarkan sebuah amplop putih dari tas rangsal berwarna hitam, ekpresi wajah lelaki tua itu tampak kaget dan terharu. Keyakinannya pun sempurna tatkala Jurnalis KM Jong Celebes menyerahkan sebuah symbol penghargaan yang tertulis RP.2.500.000, dan sebuah tropy yang bertuliskan “pemenang”.

Dalam penyerahan Anugerah Kampung Media dari Jurnalis KM Jong Celebes ke Amaq Salimah yang berlangsung di rumah keluarga Amaq Salimah, Amaq Salimah kembali mengucapkan “terimah kasih yang sebesar-besarnya, dan semoga dipanjangkan umur dan semoga pemerintah tetap sukses, begitu pun juga Kampung Media, serta Jurnalis KM Jong Celebes agar tetap bisa bekerja dengan baik dan selalu dilindungi oleh Allah”. Itulah ungkapan bahasa dari seorang Amaq Salimah yang telah berhasil menjadi sosok inspiratif terbaik Kampung Media 2017.   



 
KM JONG CELEBES

KM JONG CELEBES

Andi Mulyan Datu Tjondong Dari Kabupaten Soppeng (Sul-Sel) -, tinggal di Selong/Mataram , fb: - Aron Zaan, No. Hp. 085337771699, pendikan Si (sastra perancis -UNHAS),pendidikan : S2 Sosiologi,ngabdi di UNU NTB MATARAM< UGR LOTIM<

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan