logoblog

Cari

Tutup Iklan

Jajan Kampung Di Istana Negara

Jajan Kampung Di Istana Negara

“Keadaan itu memberi tau”, itulah bunyi terjemahan kaidah ushul fiqh dalam kitab mabaadi’u Awwaliyah. Kaidah ini Saya pakai untuk mengawali cerita

Rupa-Rupa

KM Kaula
Oleh KM Kaula
16 Desember, 2017 05:36:38
Rupa-Rupa
Komentar: 1
Dibaca: 4134 Kali

“Keadaan itu memberi tau”, itulah bunyi terjemahan kaidah ushul fiqh dalam kitab mabaadi’u Awwaliyah. Kaidah ini Saya pakai untuk mengawali cerita Saya ketika datang ke istana negara minggu kemarin tepatnya dihari Rabo tanggal 13 November 2017.
Jika pembaca atau siapapun anda mendengar cerita soal kesederhanaan kehidupan presiden Jokowi, mungkin anda akan mengatakan itu “pencitraan”, itu Saya perkirakan pada Pembaca dan yang lainnya karena itu yang sering Saya dengar dari  teman-teman Saya ngomong, bahkan difikiran Saya sendiri, nyaris membenarkan kata orang mengenai pencitraan tersebut.
Tapi begitu Saya masuk di kantor Kementrian Sekretaris Negara yang menjadi perantara Istana Presiden, fikiran pencitraan itu harus segera kita buang jauh-jauh, kenapa?. Jelas, karena hal itu sangat jauh dari kenyataan, karena sejatinya presiden dan semua orang-orang dekat Beliau sangat ramah dan Sederhana. Bagaimana Saya tau itu?, biar Saya tidak ulangi cerita di sini, baiknya pembaca baca ulang, biar runut di sini https://desawisatalombok.wordpress.com/2017/12/14/blogger-kampung-masuk-istana-presiden/ dan di sini http://cerita-inspirasi.kampung-media.com/2017/12/14/warga-kampung-masuk-istana-negara-22068 . setelah baca ini. Baru cerita selanjutnya.
Karena khwatir macet yang akan mengakibatkan kita terlambat, maka Kami ber 4 berangkat dari Hotel Ibis di mana Kami diinapkan lebih awal dari waktu yang seharusnya. Dan setelah menempuh waktu lebih kurang 30 menit, Kami masuk di plataran Kantor Sekretaris Negara yang menjadi garda depan daripada Istana Negara. Karena Kami di jemput oleh salah seorang Tim Komunikas Presiden yang memang sudah menunggu Kami, membuat Kami tidak di periksa  lama seperti kebanyakan tamu yang keluar masuk Istana. Sampai di dalam Kami sudah disambut oleh beberapa Tim Komunikasi Presiden yang akan menilai presentasi Kami dengan sangat ramah. Kami benar-benar merasa sangat  tersanjung karena semua Tim Komunikasi Presiden beserta staf-staf lainnya di istana menyambut Kami dengan sangat ramah, melebihi dari keramahan yang Saya bayangkan.
Gimana tidak merasa sangat tersanjung, Kami yang datang dari Pelosok Kampung (terutama saya sendiri kalau yang tiga lainnya memang orang hebat) yang sama sekali tidak punya kelebihan apa-apa dan kemahiran apa-apa jika dibanding dengan beliau-beliau itu. Justru diperlakukan nyaris seperti raja oleh beliau-beliau yang super-super hebat tersebut. Kami diceritakan setiap ruangan yang Kami lewati termasuk ruangan dan kursi yang dipakai oleh Presiden Indonesia kedua yaitu Bapak Soeharto dan disitulah Kami diminta mempresentasikan silde yang sudah Kami buat satu hari sebelumnya.
Setelah Kami berempat selesai presentasi dan ditanya satu persatu untuk pendalaman presentasi Kami, Kami beramah tamah sebentar yang isinya soal kebiasaan Presiden yang kalau berkunjungan ke suatu tempat beliau hanya berhenti ketika masuk waktu solat saja sementara soal makan nyaris tidak diperhatikan sehingga keseringan para staf dan menteri diajak makan siang pada pukul 3, makanya tidak jarang juga Kami sering bawa roti dalam saku atau tas sebagai pengganjal perut jika sudah terlalu capai dan lapar.
Selesai itu Kami diajak keliling ke dalam istana yang saat itu sedang dalam proses pengerjaan, setelah merasa cukup, Kami di ajak istirahat di ruang kerja Tim Khusus Presiden. Di situ bukti kesederhanaan dan merakyatnya Presiden dan Orang-orang dekat beliau semakin keliatan. Kami disambut dengan sangat ramah, lalu Kami disuguhkan minuman dan jajanan. Mungkin orang akan menyangka kalau jajanan yang Kami disuguhkan adalah jajanan mewah dan mahal karena masih dalam seputaran Istana Presiden, ya kan? Ternyata salah total jika itu yang muncul di pikiran pembaca dan siapapun Anda, karena yang disuguhkan adalah jajanan tradisional warga seperti tiga po (ini nama salah satu kue Lombok yang terbuat dari singkong di dalamnya ditaruh gula merah lalu digoreng), jajanan ini sekarang di desa saja sudah mulai ditinggalkan, pisang goreng dan jajanan warga desa lainnya. Saking herannya saya memberanikan diri bertanya, “Kok di sini semuanya adalah kue tradisional?”. Kami dijawab begini, “Kami memang setiap hari membeli jajanan warga seperti ini, Kami tidak biasa membeli makanan restoran mewah kayak McD, Fizza ataupun makanan-makanan yang tergolong mewah dan mahal lainnya, Kami sudah biasa dengan jajanan warga yang menurut bapak tadi jajanan kampung. Ini juga bagian dari arahan presiden sebagai upaya menghidupkan usaha kecil warga.
Semua yang Kami liat, yang Kami dengar dan yang Kami rasakan selama di dalam istana presiden dan di kantor Sekretaris Negara, juga di ruangan Tim Komunikasi presiden adalah bukti nyata Kesederhanaan dan menyatunya presiden dengan Rakyat. Tentu yang sudah merasakan saja yang tau persis.
 

 

Baca Juga :




 

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. rohani inta dewi

    rohani inta dewi

    28 Desember, 2017

    selalu ciamik pak koordinator :-D


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan