logoblog

Cari

Tutup Iklan

Malam Anugerah Kampung Media, Sebuah Catatan Sejarah

Malam Anugerah Kampung Media, Sebuah Catatan Sejarah

Perhelatan malam Anugerah Kampung Media, bagiku sebuah catatan penting. Sebuah catatan sejarah yang patut dan harus kutulis. Kutulis bukan hanya dengan

Rupa-Rupa

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
13 Desember, 2017 09:44:17
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 2788 Kali

Perhelatan malam Anugerah Kampung Media, bagiku sebuah catatan penting. Sebuah catatan sejarah yang patut dan harus ku tulis. Ku tulis bukan hanya dengan tinta hitam di atas kertas putih, tetapi dengan tinta emas yang layak difile dalam folder yang rapi di dada ini.

Realitas ini bukan tak beralasan. Awalnya, aku mengenal Kampung Media, bukan saja karena misi yang diemban; “Tulislah Informasi walau hanya satu kalimat.” Misi ini yang kemudian memunculkan senyumku yang tulus mengembang. Senyum bukan karena sadar, aku telah terlanjur mencintai dunia jurnalistik, dunia tulis menulis, tetapi juga keterbukaan informasi yang digali dari unsur terbawah, yakni dari kampung. Ide kreatif Kominfotik NTB memang brilian, layak digugu dan ditiru.

Berawal dari Kampung Digital, terjadi paradigma transisi yang cukup mendasar. Atas ide seorang mantan Kepala Bappeda NTB, Badrul Munir, merubah kata ‘Digital’ menjadi ‘Media’. Sehingga sampai sekarang, telah definitif menjadi Kampung Media yang dihuni oleh warga kampung yang nyata tidak kampungan.

Catatan sejarah lain yang patut ku tulis adalah, kehadiranku sebagai warga kampung tergolong pendatang baru. Ku catat, selama setahun, sejak 8 Desember 2016 - 8 Desember 2017, perjalananku mengikuti arus kampung Media terus berjalan penuh suka cita. Dari waktu ke waktu, hari, minggu, bulan dan tahun yang terus berlompapan, mengisi hari-hariku dengan aktivitas menulis. Patut ku syukuri, karena mengisi rubrik dengan berbagai corak dan ragam tulisan dari sejumlah kanal yang disediakan Kampung Media. Alhamdulillah wa syukurillah, inilah rahmat Tuhan berupa nikmat sehat dan sempat, sehingga bisa menyelesaikan tulisan dari berbagai topik dan kanal.

Kendati sebagai pendatang baru, namun aku menulis dengan penuh konsentrasi, membuahkan bangga di hati. Perjalanan terus terpacu, seiring menggugah mimpi dalam dunia maya. Ya, sebuah mimpi untuk bisa berinteraksi dengan seluruh warga kampung, plus kepala kampung, Fairuz Abadi yang di kenal kocak itu. Bagiku bukan hanya kocak, namun sosok lelaki yang beken lewat banyolan dan anekdotnya di Lombok Post halaman kaki ini, membuatku kian bersemangat untuk bisa bertemu.

Malam ini pun catatan sejarah bagiku. Hari Sabtu, Minggu malam, 9 Desember 2017, aku tidak lagi berada dalam dunia maya, tetapi dunia nyata senyatanya. Malam Anugerah Kampung Media, sebuah media alternatif sebagai penyambung silaturahim, bisa bertemu, bertatap wajah, bermuajaah, shingga yang tadinya tidak kenal maka tak sayang, yang tak sayang mungkin tak cinta.

Jujur kukatakan. Selama ini aku hanya berinterkasi dengan Fairus Abadi hanya lewat dunia maya. Namun malam ini, aku sengaja duduk di bangku deretan paling depan. Motivasinya, agar aku lebih leluasa memandang sosok lelaki yang viral lewat Abu Macel itu.

Beberapa menit setelah sesi pengarahan, satu persatu warga diabsen. Sekarang giliran namaku disebut. Bukan hanya nama, tapi karya-karya tulisan pun turut menjadi perhatian. Kendati sebagai pendatanag baru, namun mampu menyuguhkan karya tulisan dan aktivitas maksimal. Tentu ini juga catatan sejarah, terlebih bila kemudian panitia yang cantik, ganteng dan ramah-ramah memuji karya tulisan fiksi bersambung; Pelangi di Langit Kota Praya. Aku bangga dengan pujian itu, setidaknya sebagai motivasi agar lebih bertutur dengan karya tulisan.

Dari gelaran Anugerah Kampung Media, banyak sejarah yang mesti kucatat. Semula, aku hanya hadir untuk menghadiri undangan Dinas Kominfotik NTB, selebihnya tidak ada. Aku hanya termotivasi untuk bisa bertemu kepala kampung dan seluruh warganya. Habis itu, seperti lumrah kegiatan formil di Hotel yang acap kali kuikuti, ceramah, makan, kemudian tidur.

 

Baca Juga :


Malam ini, hampir saja aku terlelap. Rasa kantuk seketika menggerayangi mata yang tak bisa diajak kompromi. Sesaat, dering HP membuyarkan rasa kantukku. Kusambar HP itu yang berada di kantung rompi. Oh, ternyata ada What Shap (WA) dari Fairus Abadi, si Kepala Kampung. Isi WA (Wara Au, istilah Fairus) mengejutkan dan membanggakan juga. Boleh kukutip lagi isi WAnya, karena inipun sebuah catatan sejarah. “Info dari juri, side masuk nominasi utk anugerah malam ini, Jangan pulang,”.

Berkali-kali aku membacanya, karena rasa kantuk tidak lagi menyeruak dalam kelopak mata ini. Tidak ada ungkapan bermakna yang bisa kukatakan, selain ungkapan terima kasih yang mendalam.

Mata ini rasanya terus terjaga, manakala melihat kepala kampung memberikan wejangan dan arahan. Ada ungkapan yang membuatku terjaga pula. Acara Anugerah Kampung Media, merupakan acara warga kampung yang digelar di kota. “Anak-anak kampung, ingin menikmati suasana di kota, maka sangat pantas mereka mendapat apresiasi di ruang yang indah ini,” kata Fairuz sembari menunjuk Hotel Lombok Astoria, tempat dihelatnya kegiatan malam Anugerah Kampung Media.

Fairuz pun menyentil, pejabat-pejabat supaya main di desa saja. Namun inilah hebatnya Kampung Media, bisa bertemu dengan pejabat-pejabat hebat, tangan-tangan terampil para birokrat yang hebat. Mereka bisa menginspirasi banyak pikiran, gagasan. Ya mereka menginspirasi Indonesia dari negeri Seribu Masjid.

Perjalanan panjang Kampung Media, sebuah contoh dalam menyebarkan virus-virus kebaikan. Akhirnya, menjadi program unggulan Gubernur NTB, bertujuan sebagai sebuah gerakan yang lahir dari masyarakat. Awalnya, hanya ingin membentuk 50 komunitas kampung media di seluruh NTB. Namun pada periode pertama Gubernur TGB, Kampung Media menyebar menjadi 150 komunitas, sebuah perkembangan yang mesti dicatat dalam diariku.

Catatan penting lainnya adalah, ketika aku mendapatkan giliran untuk menerima tropi kemenangan. Dari belasan kategori, aku adalah masuk sebagai Penulis Terbaik kategori Pelayanan Publik. Sebuah catatan sejarah yang harus kusimpan rapi. Setidaknya, anak cucuku bisa mengikuti jejak perjalananku kelak dikemudian hari. Semoga!



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan