logoblog

Cari

Tutup Iklan

Geliat Sosialisasi Literasi di Bima

Geliat Sosialisasi Literasi di Bima

Geliat Sosialisasi Literasi di Bima Oleh: Aksa Ahmad Di Bima, perihal literasi cukup gencar disosialisasikan. Terbilang dipandang peduli. Dirasakan keprihatinan

Rupa-Rupa

Aksa Ahmad
Oleh Aksa Ahmad
11 Desember, 2017 20:30:30
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 7894 Kali

Oleh: Aksa Ahmad


Di Bima, perihal literasi cukup gencar disosialisasikan. Terbilang dipandang peduli. Dirasakan keprihatinan dan kekhawatirannya atas pergulatan era globalisasi masa kini. Maka, orang-orang yang punya rasa kepedulian itu tampil ke permukaan. Mencari celah dari padatnya rutinitas utama mereka berkaitan dengan profesi, misal. Mereka keluar dari zona nyaman, lantas menghimpunkan diri bersama orang-orang yang punya motivasi dan visi yang sama.

Di sini, taman-taman baca bermunculan. Digeluti dan diprakarsai oleh orang-orang dari berbagai kalangan dan profesi. Bahkan ada juga yang diprakarsai oleh para pelajar. Ada pula yang dalam bentuk perpustakaan keliling, dengan menyasar daerah-daerah pelosok. Kesemuanya barangkali memiliki harapan yang sama; jika terlalu sulit menjadi penyimbang dari maraknya tindakan-tindakan menyimpang yang terjadi dalam masyarakat, khususnya dilakukan oleh remaja, minimal gerakan literasi itu bisa menolong sebagian yang lain. Ya, meskipun pada dasar cita-cita itu menginginkan bisa menyasar semuanya. Membantu semuanya. Mencerdaskan semuanya.

Nah, tidak terkecuali dengan saya. Saya pun mengambil bagian dalam langkah yang (disemogakan) bermanfaat dan membaikkan itu. Aamiin.

Jadi, beberapa bulan lalu, saya menghimpunkan diri menjadi salah seorang relawan Gerakan Mbojo Tana'o (Gerakan Bima Belajar). Melalui media sosial, waktu itu saya mendapatkan informasi seputar Gerakan Mbojo Tana'o dari penggagas atau relawan yang sudah lebih dulu bergabung. Mereka mencari atau merekrut relawan baru dan atau tambahan. Sebab, di bulan yang dimaksud itu, Gerakan Mbojo Tana'o digandeng atau mendapat kepercayaan dari salah satu perusahaan alat tulis terbesar di Indonesia, Standarpen, dalam menggelar event menulis rutin mereka; Seribu Surat untuk Bapak Presiden RI. Dari itu, GMT (selanjutnya kita sebut saja singkatannya) banyak melakukan sosialisasi, pendekatan pada sekolah-sekolah. Dan, sebagai peserta penulis suratnya, pada event itu kami menyasar sekolah-sekolah yang berada di pinggiran wilayah Kota Bima. Adalah sekolah-sekolah yang notabenenya jauh dari jangkauan kota (tetapi masih di wilayah kota), yang berada di dataran tinggi, dengan jalur yang cukup berkelok-kelok, turun-nanjak, berdebu dan berkerikil (alhamdulillah siap aspal, sih). Alhamdulillah pula, sekolah-sekolah menyambut kami dengan hangat. Antusias.

GMT sendiri punya definisi; sarana kemasyarakatan yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan, dengan visi menciptakan masyarakat Bima yang cerdas, beradab, dan berkeimanan. Dan, GMT memiliki lambang air, yang artinya, ketika kami berkumpul, satu persatu, lambat laun air itu beriak, menciptakan gelombang, lalu tak hentinya mengalir dan mengalir. Jadi, selain menggelar event, baik event tunggal yang pernah sukses kami selenggarakan maupun event yang digandengkan atau diamanatkan pada kami, untuk kegiatan aktifnya dalam upaya penyebaran atau menumbuhkan minat baca-tulis khususnya anak-anak Sekolah Dasar, GMT membuka Taman Baca Pelajar (TBP) setiap tiga hari dalam seminggu, yakni setiap sore hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Dalam menggelar lapak baca itu, di basecamp atau yang bertempat di Asi Bou (Istana Panggung - Kompleks Museum Asi Mbojo), kami pun bersedia melakukan beberapa hal, seperti menuntun anak-anak mengerjakan PR, mengajari mereka membaca, belajar berhitung, belajar mengaji, mengajari mereka bahasa Inggris, menuntun mereka berkreativitas dengan gambar atau dengan permainan-permaian edukatif yang tersedia, mendongengkan, atau yang lain-lainnya sesuai dengan yang dibutuhkan oleh anak-anak (mereka bisa 'request'). Tentu saja, itu juga disesuaikan dengan kemampuan akademis relawannya (sekadar informasi, relawan dominan masih muda, berusia 15 tahun ke atas atau 30 ke bawah). Namun, alhamdulillah, sejauh ini kami belum berkendala di situ. Sebab, relawan yang bergabung cukup beragam dan datang dari berbagai profesi. Beberapa adalah guru, dosen-dosen muda, mahasiswa, perawat, paramedik dengan pengetahuan yang baik tentang budaya lokal. Ada juga beberapa orang apoteker, penulis lokal/editor lepas, dan saya sendiri relawan yang berstatus sebagai karyawan dan terbilang gencar berjuang di bidang literasi.

 

Baca Juga :


Sebagai upaya penggencaran sosialisasi, pada beberapa kali kesempatan GMT juga telah menggelar lapak baca jalanan. Yakni kemarin di hari Minggu, 3 Desember 2017 kami menggelar lapak baca di Dana Traha (komplek pemakamam Sultan Bima), yang menjadi tujuan akhir dari para kalangan yang berolahraga pagi. Juga, bertepatan dengan Hari Pramuka beberapa bulan lalu, GMT membuka lapak baca di Lapangan Pahlawan. Alhamdulillah. Ibaratnya, niat baik disambut baik pula. Buku-buku yang GMT jejalkan alhamdulillah mengundang pembaca; masyarakat umum dan para pelajar yang turut memperingati hari yang sakral itu.

Oh, ya, GMT juga cukup aktif bersosialisasi di facebook dengan nama fanpage/akun Mbojo Tana'o.

Bima, 11 Desember 2017



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan