logoblog

Cari

Tutup Iklan

Ngidam Makan "Tanah Maik", Tidak Zaman Lagi

Ngidam Makan

Lombok di zaman dulu, yang mana ketika belum banyak dijamah oleh teknologi modern, wanita ngidam memiliki kebiasaan untuk makan “jajanan” dari

Rupa-Rupa

KM JONG CELEBES
Oleh KM JONG CELEBES
02 November, 2015 21:58:53
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 5068 Kali

Lombok di zaman dulu, yang mana ketika belum banyak dijamah oleh teknologi modern, wanita ngidam memiliki kebiasaan untuk makan “jajanan” dari tanah. Dalam bahasa sasak, jenis tanah tersebut adalah “tanah maik”, yang artinya adalah tanah liat yang memiliki rasa manis, enak dan harum. Begitupun juga harus yang bersih dan tidak memiliki campuran pasir, tidak berbatu, serta sangat lembut atau halus. Namun kebiasaan tersebut telah dilunturkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Sa’ifah (38 tahun) adalah seorang warga Kelayu Selong, Lombok Timur menuturkan bahwa ketika ia masih remaja, ia masih sering menjumpai ibu-ibu hamil mengkomsusmsi “jajanan” yang terbuat dari tanah yang rasanya manis. Begitu pun juga dirinya ketika sedang mengandung anak pertama masih mengkomsumsi jajan tanah manis.Tapi sekarang ia jarang lagi melihat kebiasaan seperti itu pada ibu hamil. Kalau pun ada itu hanya  satu atau dua orang dari sekian jumlah wanita yang sedang hamil atau ngidam.

Sekitar tahun Sembilan puluhan, “tanah maik” itu masih banyak dijumpai di Dusun Tanah Maik, Kelurahan Masbagik Utara, Kecamatan Masbagaik, Lombok Timur. Namun karena “tanah maik” tersebut sudah jarang dimanfaatkan orang sebagai jajanan bagi wanita ngidam sehingga lambat laun areal “tanah maik” telah punah ketika diabaikan oleh masyarakat sekitar. Terlebih ketika jenis tanah tersebut sudah bercampur dengan jenis tanah lain, yang akhirnya pula telah menjadi sebuah pemukiman.  

Namun jika kita menelusuri tentang cara pengolahan “tanah maik” menjadi makanan ringan, Sa’ifa  menuturkan bahwa proses pembuatannnya adalah pertama-tama harus mengambil tanah liat yang bersih, halus, tidak berpasir, tidak berbatu, rasanya enak, berbau harum, dan bebas dari kotoran. Setelah itu campurkan dengan air bersih secukupnya agar mudah untuk dipadatkan. Ketika tanah liat ini memadat, barulah akan ditipiskan di dalam adonan, seperti pada saat proses pembuatan krupuk. Di saat padatan tanah maik ini sudah menipis di dalam adonan, kita pergunakan pisau untuk membuat potongan-potongan dengan berbagai bentuk seperti bentuk krupuk atau sesuai dengan selera bentuk dari sipembuatnya. Setelah itu, barulah akan dijemur selama kuarang lebih tiga hari atau sampai kering. Namun bagi ibu-ibu hamil, selain sitem penjemuran , terkadang mereka melakukan pengeringan dengan melakukan sistem pengasapan di atas tungku.

Setelah potongan-potongan tanah liat sudah kering, baik dengan melalui sistem penjemuran, maupun dengan sistem pengasapan, berarti potongan-potongan tanah ini sudah dapat dimakan langsung tanpa digoreng atau direbus. Dalam hal ini para wanita ngidam dapat mengkomsumsinya sebagai camilan atau bersama dengan nasi putih.

 

Baca Juga :


Sa’ifah  mengatakan, mengkomsusmsi tanah yang terasa enak ini tidak berbahaya pada kesehatan. Hanya saja harus memilih tanah  yang bersih dan tidak berpasir atau berbatu. Ia pun juga mengatakan bahwa mengkomsumsi tanah liat yang terasa enak ini, justru dapat mendinginkan isi perut. Selain itu, diakuinya bahwa tanah liat yang enak ini dapat menguatkan sistem pencernaan, melindungi tubuh dari serangan virus dan bakteri.

Tapi untuk saat sekarang di Kelayu Selong, mengkomsumsi “tanah maik”  sudah tidak zaman lagi pada wanita ngidam. Mereka lebih memilih makanan yang dianjurkan oleh dokter ahli kandungan. Mereka lebih memilih buah atau produk-produk makanan bergizi yang dapat membantu proses pertumbuhan bayi dalam kandungannya. [] - 01

 



 
KM JONG CELEBES

KM JONG CELEBES

Andi Mulyan Datu Tjondong Dari Kabupaten Soppeng (Sul-Sel) -, tinggal di Selong/Mataram , fb: - Aron Zaan, No. Hp. 085337771699, pendikan Si (sastra perancis -UNHAS),pendidikan : S2 Sosiologi,ngabdi di UNU NTB MATARAM< UGR LOTIM<

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan