logoblog

Cari

Demam Batu Akik

Demam Batu Akik

Menjelang akhir Th. 2014 lalu sampai sekarang masyarakat hampir di seluruh daerah sedang heboh-hebohnya bicara soal batu akik. Anehnya, munculnya batu

Rupa-Rupa

Demam Batu Akik


KM Sahabat Mataram
Oleh KM Sahabat Mataram
22 April, 2015 07:38:31
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 6099 Kali

Menjelang akhir Th. 2014 lalu sampai sekarang masyarakat hampir di seluruh daerah sedang heboh-hebohnya bicara soal batu akik. Anehnya, munculnya batu akik di setiap daerah kurun waktu yang tidak lama ini sebegitu cepat melahirkan perspektif sama dan dijadikan topik sexi dalam setiap perbincangan antar masyarakat, baik masyarakat yang ada di kampung atau di perkotaan. Situasi ini seolah-olah hendak membawa masyarakat kembali mengenang zaman yang dulunya disebut dengan zaman/era batu pada zaman pra sejarah. Hal ini dapat dibuktikan bahwa tak ada masyarakat yang tak bangga dengan batu akik yang terdapat di daerahnya sendiri; masyarakat lombok tentu bangga dengan batu akik lombok, masyarakat Sumbawa bangga dengan batu akik Sumbawa, dan juga masyarakat di Sulawesi, Jawa, dan seterusnya, mereka dipastikan bangga dengan batu akik yang ada didaerahnya.

Ada apa sebetulnya dibalik batu akik ini sehingga membuat masyarakat akhirnya pada terlena membincarakan batu akik dan melupakan kemiskinan untuk tetap diperhatikan. Ataukah memang justru sebaliknya bahwa kemiskinan yang selama ini menjadi faktor utama penghambat anak-anak di negri ini mereka bisa sekolah telah tiada termakan mahkluk astral yang sembunyi di dalam batu akik itu sendiri..? hehe

Hebohnya masyarakat yang kini terlena bicara akan pernak pernik batu akik kali ini telah membuat saya akhirnya berasumsi. Menurut saya; pertama, pristiwa ini sengaja didesign lalu kemudian membuat kita masyarakat Indonesia tidak sadar akan mesin-mesin produksi penghalus batu akik tersebut dieksport dari luar yang sesungguhnya terdapat kepentingan kapitalis. Kedua, sepertinya ada modus pertambangan dibalik pencarian batu akik yang dilakukan di daerah pegunungan atau di hutan-hutan di Indonesia.

Dari masyarakat kampung hingga masyarakat kota pada asyik bicara soal batu akik. Masyarakat kampung yang semulanya rata-rata mereka hanyalah pengangguran tiba-tiba banyak yang kini kerja sebagai pemburu batu akik. Jangankan masyarakat pengangguran secara umum, namun pencarian batu akik ini juga dilakukan oleh sejumlah sarjana intelektual, seorang intelektual yang meraih gelar sarjana dari berbagai perguruan tinggi/universitas saja kadang menyempatkan diri untuk mencari batu akik usai mereka beraktifitas, baik sebagai guru honor di sekolah-sekolah, atau staf di kantor-kantor desa setempat.

Begitu halnya dari klas pemuda dan mahasiswa yang semulanya juga tak disangka-sangka akan terpengaruh akan perbincangan batu akik ini. Namun ternyata tidak sedikit dari Mahasiswa, bahkan satpampun di kampus juga ikut bicara soal batu akik.

Padahal dulu, Mahasiswa sudah terbiasa kemana-mana "tenteng" megaphone menyuarakan serta menyampaikan segala aspirasi rakyat; menyuarakan kemiskinan, keadilan, demokrasi dll. Tetapi sekarang tak sedikit dari pemuda dan Mahasiswa tergiyur dengan pernak pernik batu akik ini sehingga lupa menyuarakan hal-hal yang lain. "Megaphone dibuang jauh-jauh kemudian mengambil alat galian memburu batu akik, "hebat kan,,,benda mati sekelas batu akik ini saja dapat mempengaruhi makhluk hidup hingga mereka tak sadar akan kehidupan sosial yang adil, makmur dan sejahtera yang semestinya selalu menjadi topik utama yang harus mereka suarakan dimana-mana".

 

Baca Juga :


Bayangkan bilamana semua komponen masyarakat, baik di kampung atau di kota hari ini serentak menyuarakan kemiskinan seperti halnya mereka yang saat ini sedang terelena menyuarakan batu akik, maka barangkali kemiskinan tersebut akan segera dikenang oleh setiap genrasi kita. Bahkan tidak menutup kemungkinan generasi-generasi kita kedepan tak akan kenal apa itu kemiskinan, sebab mereka sudah semua makmur, sejahera dan seterusnya.

Tukang ojek semestinya sadar akan dirinya yang setiap saat menunggu penumpang di pangkalan-pangkalan ojek, pihak lembaga sekolah semestinya sadar terhadap murid-murid yang tidak mampu membayar biaya sekolah agar digratiskan, anggota DPR semestinya sadar mengapa mereka harus duduk di kusri mahal. Bahkan pemimpin daerah seperti; bupati, walikota, gubrnur juga semestinya sadar mengapa rakyat kadang selalu “ngerumpi”, dst.

Bilamana tukang ojek sadar dirinya “ngojek” karena ia miskin, maka pasti mereka membenci yang namanya kemiskinan. Begitujuga dengan setiap lembaga sekolah apabila sadar akan pendidikan itu adalah diperuntukan bagi generasi bangsa kedepan, maka tak ada sekolah yang mengklasifikasi diri sebagai sekolah yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang kaya saja. () 2



 
KM Sahabat Mataram

KM Sahabat Mataram

Sebuah Komunitas Jurnalis PMII Mataram Pengelola Siti Hartina email hartinambele4@gmail.com

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan