logoblog

Cari

"Koordinasi" Di Tongkrongan Para Aktivis

Anda terlibat dan aktif dalam struktur organisasi, maka anda akan memngerti dan memahamai apa itu “koordinasi”. Tetapi kali ini berbeda, bukan

Rupa-Rupa

burex muridmacel
Oleh burex muridmacel
03 Februari, 2015 12:08:14
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 15559 Kali

Anda terlibat dan aktif dalam struktur organisasi, maka anda akan memngerti dan memahamai apa itu “koordinasi”. Tetapi kali ini berbeda, bukan arti koordinasi yang sesungguhnya yang penulis bahas dalam topik ini, tetapi melainkan pengertian lain oleh teman-teman aktivis yang mengartikan kata tersebut adalah sebuah akronim dari “kopi, rokok dan nasi” (koordinasi).

Kita patut berbangga kepada para aktivis yang selama ini masih membuka kantor di atas trotoar, meskipun hanya ditemani segelas kopi, sebatang rokok, dan “sekojong” nasi bungkus, mereka makan dan minum sama-sama dengan teman-temannya. Ya….! mereka para aktivis telah banyak berkontribusi kepada saudara-saudara kita yang masih berprofesi sebagai Pedagang Kaki Lima (PKL) trotoar.

Membentuk sebuah lingkaran kecil di atas trotoar sambil minum kopi, merokok, bahkan pesan makan juga disediakan oleh pedagang di atas trotoar. Para aktivis terkadang tak mengenal lelah, entah mereka nantinya duduk berlima, berenam bahkan lebih dari itu tak menjadi penghalang bagi mereka menginisiasi pertemuan, sebab ini menyangkut soal kebiasaan dan identitas mereka yang biasa kumpul di malam hari usai tertidur pulas di siang harinya. Hehe.

Banyak topik pembahasan yang kemudian mereka lahirkan melaui tongkrongan-tongrongan yang sederhana ini. Mereka membedah persoalan Negara. Bahkan adapula aktivis yang berdakwah diatas trotoar. Para aktivis tak pernah memikirkan keadaannya sendiri yang serba tipis yang terkadang tak memiliki uang recehan hanya untuk biaya nongkrong. Meskipun keadaan yang tidak memungkinkan mereka bisa nongkrong di lesehan atau di kafe dan tempat mewah lainnya, tatapi mereka memiliki semangat yang tinggi, mereka tidak mau terjebak atas keadaannya sendiri, mereka sering mengambil jalan alternative. “nongkrong di atas trotoar adalah jalan alternative bagi para aktivis mengabdi untuk bangsa ini”.

Para aktivis tidak punya “pendapatan” yang bersifat apapun. Tetapi bibir mereka kadang-kadang terasa gatal jika tidak sering “berpendapat” atau tidak berdakwah di atas trotoar. Makhluk jalanan yang disebut aktivis ini memang berbeda dengan mahkluk lainnya, meskipun jenis mereka sama seperti mahkluk-mahkluk yang saat ini sedang duduk sebagai penentu kebiajakan di negri ini.

 

Baca Juga :


Pada dasarnya Negara kita ini adalah Negara yang hebat, di dalamnya terdapat orang-orang hebat yang salah satunya adalah para aktivis yang setiap saat bisa diajak “berpendapat” meski tidak dibayar, bisa “diperintahkan” mengumpukan ribuan gagasan meski tidak diberikan penghargaan. Aktivis tidak perlu dibayar oleh Negara ini untuk diminta pendapatnya. Berbeda dengan para penguasa, mereka bicara di stasiun televisi, radio hanya beberapa saat saja, bahkan berpindah tempat duduk dari rumah ke kantor saja mereka harus dibayar. Hebat kan…?

Banyangkan, “Jika setiap keping recehan uang yang keluar dari dompet para aktivis ini kemudian dapat memenuhi kebutuhan hidup selama satu hari bagi satu kepala keluarga Pedagang Kaki Lima (PKL), maka saya dan anda bisa banyangkan bahwa hidup di Negara ini terlihat seoalah-olah begitu mudah”. Negara tak perlu susah-susah memikirkan nasib para PKL ataupun nasib masyarakat pinggiran secara umum”.

Idealisme dan semangat juang yang tinggi yang dimiliki individu setiap aktivis haruslah dijaga, anda selaku aktivis jangan pernah merasa mapan dalam belajar sehingga anda malas, tidak mau mengenal bangsamu sedniri. Rawat dan pertahankanlah nilai solidaritas yang ada dalam diri kalian, sebab bangsa ini sangatlah bergantung terhadap kuwalitas kalian untuk esoknya. Kalian sibuk memikirkan nasib bangsa ini, kalian rela mengorbankan waktu hanya untuk berkumpul, berdiskusi, meskipun melaui ruang yang sangat sederhana dan biaya terbatas, bahkan yang paling patut kalian banggakan adalah kalian tidak pernah berpikir bahwa “jangan-jangan bangsa ini tidak mengenal kalian”. [] - 05



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2020 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan