logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pedagang Pencok Yang Tidak Jujur

Pedagang Pencok Yang Tidak Jujur

                      Udara di luar terasa sangat dingin pada sore itu. Langit kelam berpayung di atas  kawasan Anjani. “Sebentar lagi pasti air

Rupa-Rupa

KM JONG CELEBES
Oleh KM JONG CELEBES
12 Desember, 2014 18:39:48
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 2478 Kali

Udara di luar terasa sangat dingin pada sore itu. Langit kelam berpayung di atas  kawasan Anjani. “Sebentar lagi pasti air hujan akan turun.”desisku dalam hati. Akupun bergegas meninggalkan kampus setelah usai memberikan materi kuliah. Aku melaju dengan kecepatan tinggi dengan sepeda motor, yang biasanya jarang kulakukan. Aku harus bisa cepat tiba di wilayah selong agar terhindar dari air hujan.

                Akupun berhasil menembus cuaca yang lagi buruk itu, walaupun aku belum sampai di tempat tujuan. Setidaknya tempat tinggalku sudah dekat, meskipun aku harus menepi dan berteduh  di sebuah warung kopi.

 Sambil menunggu redahnya hujan,akupun melepaskan pandangan ke sekeliling. Hujan begitu kerasnya dan anginpun begitu kencannya sehingga beberapa ranting pohon dan dedaunan yang jatuh berserakan di atas jalan. Sebagian menceburkan diri pada salauran air, hingga terbawa hanyut oleh derasnya air.

                Langit kembali cerah setelah sekitar satu jam lamanya aku menunggu di warung kopi. Aku melangkahkan kaki keluar dan meninggalkan tempat itu, dan sejurus aku melihat tiga orang berdiri di depan pedagang makanan yang ada di tepi jalan. Tiba-tiba suara perut member tanda kalau saya harus makan lagi, walaupun belum waktunya untuk makan malam. Aku mendekat pada pedagang itu. Nampak olehku setumpuk masakan yang berbentuk sate. Tapi itu bukan sate daging atau sate ayam. Aku penasaran pada nama jenis masakan itu, akhirnya aku bertanya pada padgangnya. “ Ini namanya pencot,” pedagang itu menyebut nama barang dagangannya di depan saya.

                “Pencot itu terbuat dari kulit sapi yang dibakar lalu direbus, kemudian  potong-potong segi empat. Barulah ditusuk dengan lidi. Jadinya seperti ini. Bumbunya pake santan kelapa, garam, merica, dan bumbu lainnya. Enak cobain aja,” pedagang itu berkomentar pada saya tentang proses pembuatan pencot.

                Akupun penasaran pada masakan yang bernama pencot. Karena aku hanya ingin mencoba dan sekedar ingin tahu kalau rasanya seperti apa, akupun menawar saja lima ribu rupiah.

                Dengan lincahnya, pedagang yang berstaus ibu itu mengambil sejumlah pencot, kemudian dicelupka pada bumbun, kemudian dibungkus dengan rapi, lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam. Akupun mengambilnya sembari menyodorkan uang sepeluh ribu rupiah.

                Selang berapa setik pedagang itu mengembalikkan susut uang pada aku sebanyak empat ribu rupiah. Aku heran dan menatap tajam sisa uang dari pembelian pencot itu. “Bukankah sepuluh ribu dikurang dengan lima ribu sama dengan lima ribu, tapi kok empat ribu. Bararti masih kurang seribu rupiah lagi.” Bisikku dalam hati.

                Aku yang terbiasa menghargai nilai uang, walaupun sedikit nilainya tetap saja saya akan melakukan protesi kalau salah perhitungan. Bagiku kejujuran itu paling utama dalam hidup. “uangnya kurang serubu rupiah lagi,” kataku pada pedagang pencot itu.

                “ Oh itu enam ribu harganya,” jawabnya dengan cuek.

                Aku bingung dan terpaku menatap uang susut yang masih berada di atas tanganku. “ Gak benar nih ibu, saya minta lima ribu rupiah pencot, kok malah menjadi enam ribu. Gak jujur loh sebagai pedagang. Cari untung saja dalam penipuan ,“ desisku dalam hati. “Biarian aja, dia sendiri yang dosa,” desisku lagi dalam hati lalu beranjak untuk mendekat ke sepeda motorku.

                Di saat aku berada di atas sepeda motor, beberapa pelanggang lain yang sempat menyaksikan interaksiku tadi dengan pedagang pencot tadi, dan lalu mereka tersenyum-senyum sambil memandangiku. “ Kamu tidak seruh”kata dari seorang palanggang sembari menunjuk-nunjuk pedagang itu, namun pedagang itu seolah-olah tidak mau tahu masalah.

                Aku kesal jadinya, namun aku berusaha menstabilkan emosiku.“Nggak apa-apa, aku ikhlaskan aja uang seribu rupiah itu,” desisku kembali dalam hati sejurus kemudian aku memasukkan gigi persenelan satu untuk menuju ke tempat tinggalku yang tidak jauh dari lokasi itu.

                Walaupun aku sudah mengikhlaskan uang seribu pada pedagang pencot itu, namun sepanjang perjalanan di atas kendaraan, bahkan sampai aku membaringkan kepala di atas bantal, aku masih kepikiran pada pedagang pencot itu tadi. Aku berpikir bahwa kalau semua pelanggang akan diperlakukan seperti itu, bagaimana tidak mendapatkan keuntungan yang lebih . Tapi apakan itu sesuatu yang halal. Apakah ini merupakan salah satu cara atau tekhnik dalam meraih keuntungan yang lebih dari yang sebenarnya harus ada.

                Kepada pembaca, dari pemikiran saya di atas, saya bercakap-cakap sendiri dengan melibatkan dua sisi hati. Sisi hati sebelah kiri adalah sisi hati yang suka menentang dan sisi hati sebelah kanan adalah sisi hati yang suka meansehati.

 

Baca Juga :


                “ Bisanya kamu dibodoh-bodohin ama pedagang pencot,” ucap Sang Penetang.

                “ kamu nggak dibodoh-bodohin, mungkin karena kesibukannya, dia kurang mendengar kalau kamu pesan pencot dengan harga lima ribu rupiah,” jawab Sang Penasehat.

                “ Gak mungkin, gak mungkin. Suaraku kan jelas, lagian aku mengangkat jemari kanan yang berjumlah lima.”Jawab Sang Penentang.

                “Udah, gak usah dipikirkan. Biarian aja, dia kan yang dosa. Ihlaskan aja deh. Kamu ihlaskan, pasti ada gantinya lebih banyak.”Bujuk Sang Penasehat pada Sang penentang.

“iyya tahu. Tapi saya gak sudi diperlakukan begitu ama si pedagang pinggir jalan itu. Mentang-mentang aku dilihat orang baru, eh taunya ditipu aku.Itu baru aku sendiri yang ketipu. Kalau semua pelanggang diperlakukan gitu, kan kasian orang-orang tuh.”Protes Sang penentang dengan kesal.

“ Ada-ada aja kamu,” kata Sang penasehat.
                “Aku gak ada-ada lo mas. Ini beneran. Masa caranya seperti itu mencari untung. Itu kan gak jujur dan gak halal tuh mas. Atau mungkin kalau dia jujur kagak bisa dapat untung begitu ya mas.” Kata Sang penentang dengan marah.
                “ Begini aja, anggap itu pelajaran buat lo. Lain kali kalau beli bicara jelas”Kata Sang Penasehat dengan melembut.

“Aku jelas loo mas bicaranya tadi.” Kata Sang Penentang yang tidak mau akur.

“ Atau bgini aja…kalau terulang pada pedagang siapaun, lakukan protes dengan bahasa diplomatis. Jangan langsung ninggalin. Karena kamukan yang terbawa pikiran.” Kata Sang Penasehat.

“Iyya betul juga lo mas, aku harus bisa protes walaupun uang seribu ya. Soalnya bagi aku, lima seng aja kalau aku diakalin ama orang, aku gak mau terima. Soalnya aku terbiasa disiplin dalam bersikap.”kata Sang Penentang yang sudah mengalah.

” Nah b’gitu dong.” Kata Sang Penentang dengan memuji. 

Akhirnya aku menyimpulkan bahwa tak selamanya orang bisa jujur dalam meraih suatu keuntungan. Lewat ketidak jujuran orang bisa meraih suatu keuntungan lebih dari yang sebenarnya harus ada. Karena dengan kejujuran tatkala orang merasa tak mampu merih cit-cita atau keuntungan yang diharapkan, akhirnya dia menjadi orang tidak jujur. Hal ini, bisa saja telah terjadi pada jenis pedagang-pedagang lain dengan mempergunakan  tekhnik ketidak kejujuran untuk meraih keuntungan lebih dari yang sebenarnya harus ada. Bisa juga terjaditerjadi pada kalangan pengusaha, karyawan, pegawai, makelar, sales, aparat, bahkan pada kalangan pejabatpun. Padahal kalau memang kita bekerja dengan baik, penuh kejujuran, saya yakin Tuhan akan memberikan kelimpahan rezeki dengan catatan jangan lupa mendekatkan diri padanya.

 



 
KM JONG CELEBES

KM JONG CELEBES

Andi Mulyan Datu Tjondong Dari Kabupaten Soppeng (Sul-Sel) -, tinggal di Selong/Mataram , fb: - Aron Zaan, No. Hp. 085337771699, pendikan Si (sastra perancis -UNHAS),pendidikan : S2 Sosiologi,ngabdi di UNU NTB MATARAM< UGR LOTIM<

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan