logoblog

Cari

Dialog Wawasan Kebangsaan Hindari Konflik SARA

Dialog Wawasan Kebangsaan Hindari Konflik SARA

Bima—Pemerintah kabupaten Bima terus berupaya meminimalisir potensi konflik sara dan upaya meningkatkan kerukunan hidup antar beragama. Langkah tersebut dilakukan lewat beberapa

Rupa-Rupa

KIM Bolo
Oleh KIM Bolo
27 Mei, 2014 20:27:18
Rupa-Rupa
Komentar: 0
Dibaca: 5929 Kali

Bima—Pemerintah kabupaten Bima terus berupaya meminimalisir potensi konflik sara dan upaya meningkatkan kerukunan hidup antar beragama. Langkah tersebut dilakukan lewat beberapa kegiatan-kegiatan dialog yang menghadirkan Muspida, TNI/Polri, tokoh masyarakat, agama maupun LSM dalam rangka pembinaan wawasan kebangsaan.

Seperti dialog yang mengadirkan narasumber dari Kantor Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bima. Hadir pula Pengurus FKUB Kabupaten Bima, Kasdim 1608/Bima Mayor Inf Isdarmawan, Kasat Binmas Polresta Bima AKP Dahlan, Kasat Intel Polres Bima Heru Windiarto, LSM dan tokoh lintas agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Etnis China.

Kepala Badan Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Bima H Sumarsono SH menekankan semua pihak agar tidak mudah terpancing isu-isu menyesatkan yang akan menimbulkan  tindak  kekerasan. Karena itu, para tokoh agama bisa menyampaikan kepada umatnya masing-masing tentang pentingnya kerukunan antar umat beragama.

“Sebagai umat beragama kita harus yakin Tuhan akan memberikan jalan keluar terbaik bagi bangsa kita. Kepada pimpinan organisasi keagamaan di Kabupaten Bima untuk terus menjaga kerukunan antar umat beragama, dengan saling menghormati, menghargai dan tolong menolong,” harap Sumarsono. Menurutnya, hal itu merupakan bukti bahwa kehidupan dan kerukunan umat beragama telah terjalin baik. Kondisi ini menjadikan umat beragama di Kabupaten Bima mampu  menerapkan  ajaran  agamanya masing-masing  dalam  kehidupan sehari-hari.

Sumarsono juga mengajak seluruh warga Kabupaten Bima untuk terus bersatu, berdoa dan bekerja bersama tanpa memandang perbedaan identitas untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan masyarakat yang baik, yakni masyarakat yang santun, beretika, toleran dan jauh dari perilaku adu domba, fitnah serta taat pada pranata hukum dan sosial.

            Sekretaris FKUB Kabupaten Bima Faturrahman S.Ag.MA dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bima dalam uraiannya, bahwa bangsa Indonesia dibangun di atas pondasi keanekaragaman suku bangsa, bahasa, ras, budaya, agama dan kepercayaan.

“Keanekaragaman ini merupakan keniscayaan yang harus diterima. Dampaknya adalah meski perbedaan terdapat dimana-mana, namun substansinya tetaplah satu, Bangsa Indonesia. Dan, untuk menampung itu semua, wadah gemilang Negara Kesatuan Repubklik Indonesia (NKRI) diciptakan,” jelasnya.

 

Baca Juga :


            Indonesia sebagai negara besar dengan jutaan penduduk yang heterogen, yang terdiri dari beraneka suku bangsa, bahasa, ras, budaya, agama dan kepercayaan berpotensi menanggung konflik. Mana kala itu terjadi, perpecahan sangatlah mungkin terjadi. Karena itu Indonesia membutuhkan suatu pemersatu, yang menjaga dan melindungi dari segala kemungkinan terburuk yang dapat mengancam keutuhan ibu pertiwi.

            Perbedaan persepsi dalam masyarakat sering menimbulkan masalah. Perbedaan yang mestinya membangun kekuatan bangsa, malahan melahirkan konflik yang mengatasnamakan golongan atau agama dengan disertai tindak kekerasan. Dialog kerukunan antar umat beragama seperti ini diharapkan bisa meminimalisir terjadinya berbagai konflik.

            Ketua MUI Kabupaten Bima KH Abdurrahim MA juga menguraikan, Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin (membawa rahmat bagi sekalian alam). “Dalam ajarannya menyangkut kerukunan telah jelas termasuk dalam Al-qur’an pada surat Al Hujarat: 13 yang artinya; “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal”.

            Selanjutnya dalam surat Al Kafi: 29 yang artinya; “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.            “Jadi jelaslah bahwa Islam sangat menekankan kebersamaan, bukan pertikaian,” tandasnya.

            Sementara itu, kegiatan dialog pembinaan wawasan kebangsaan tersebut juga dilanjutkan diskusi yang menghasilkan konsep menciptakan perdamaian merupakan tanggung jawab bersama berbagai elemen, kearifan local untuk mengoptimalkan masa depan bangsa pada umumnya, dan Kabupaten Bima pada khususnya.(bop)



 
KIM Bolo

KIM Bolo

"Katakan benar apa yang kita lihat meski itu pahit bagi kamu" Nama : Suryadin Alamat : Jl Lintas Sumbawa No.53 Ds Rasabou Kec. Bolo Kab. Bima-NTB. Email : adipradana30@ymail.com Kontak Person: 085-253-323535 Website: www.kimbolo.info

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan